Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Petani ini Salahkan Pemkab yang Tak Hadir Dalam Tata Niaga Pertanian

Ivona • Sabtu, 21 Agustus 2021 | 18:16 WIB
DIBUAT GALAU: Petani di daerah Tempurejo memanen buah pepaya yang kini harganya meningkat sekitar Rp 3.500 per kilogram. Pada awal pandemi tahun kemarin, buah ini harganya terjun bebas, hingga petani enggan merawatnya.
DIBUAT GALAU: Petani di daerah Tempurejo memanen buah pepaya yang kini harganya meningkat sekitar Rp 3.500 per kilogram. Pada awal pandemi tahun kemarin, buah ini harganya terjun bebas, hingga petani enggan merawatnya.
ARJASA, RADARJEMBER.ID – Di tengah masa pandemi ini, para petani dibuat bingung. Tidak hanya karena pupuk subsidi yang hilang dari pasaran saat dibutuhkan, tapi fluktuasi harga komoditas juga membikin mereka galau. Saat petani enggan tanam karena tahun lalu harganya anjlok, kini justru meroket. Padahal petani yang menanam sudah jarang. Kondisi ini menggambarkan bahwa pemerintah tidak pernah hadir dalam tata niaga pertanian. Petani dibiarkan bertarung bebas dengan pasar.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro mengatakan, pada pandemi Covid-19, sektor pertanian dibuat bingung dari segala aspek. Kata dia, di satu sisi produktivitas pertanian minta digenjot agar persoalan pangan aman di tengah pandemi. Tapi, di sisi lain, kebijakan untuk meningkatkan produktivitas tidak ada dukungan. “Pupuk subsidi dikurangi, bagaimana mau meningkat produktivitasnya,” tuturnya.

Belum lagi, soal tanah pertanian yang juga terus tergerus dengan pembangunan dan kawasan permukiman. Termasuk tentang harga jual yang saat panen raya turun, tapi ketika petani menanam harganya justru melangit. Persoalan ketidakpastian harga jual inilah yang dari dulu belum bisa terurai.

Dia mencontohkan komoditas pepaya california. Saat ini, tanaman itu jadi buah bibir bagi petani. Sebab, di awal-awal mereka memanen, harganya tidak sebagus sekarang. Pada awal pandemi, buah yang mengandung banyak vitamin A tersebut harganya tidak sampai seribu rupiah per kilogram di tingkat petani. “Sekarang pepaya di tingkat petani lebih bagus, Rp 3.500 per kilogram,” tuturnya.

Mengapa sekarang pepaya lebih baik harganya? Menurut Jumantoro, karena produksinya rendah. Tahun kemarin harga pepaya rusak, sehingga banyak petani yang tidak merawat pohonnya, sampai ada juga yang menebang. Begitu juga dengan harga tomat. Tahun kemarin murah meriah, sekarang melejit. “Satu buah tomat saja itu harganya seribu rupiah. Kalau tomatnya kecil, seribu cuma dapat dua tomat,” terangnya.

Photo
Photo


Catatan Siskaperbapo, sistem informasi berbasis daring dari Disperindag Jatim, pada 20 Agustus kemarin, harga tomat per kilogram mencapai Rp 14.600. Sementara, setahun lalu, 18 Agustus 2020, harga tomat terjun bebas di angka Rp 5.000 per kilogram. “Tomat mahal, karena petani tomat banyak yang tanam cabai. Sebab, sebelumnya harga cabai mahal,” ungkapnya.

Kondisi demikian, menurut Jumantoro, juga perlu peran pemerintah melalui penyuluh pertanian di lapangan untuk mengarahkan tanam komoditas apa yang menguntungkan. “Tahun depan bisa jadi cabai mahal, tomat murah. Sebab, petani cabai beralih ke tomat, karena tomat sebelumnya mahal,” paparnya.

Nur Ariyanto, petani pepaya california di daerah Tempurejo, mengaku, pada awal korona harga pepaya rusak karena akses distribusi banyak ditutup. Sekarang mulai membaik, bisa jadi karena kondisi pasar yang lebih baik.

Ketidakpastian harga komoditas pertanian di tengah pandemi juga dirasakan pertanian modern, yaitu petani selada hidroponik. Jika sebelumnya mengandalkan Surabaya sebagai pemasok utama, sekarang petani harus memutar otak untuk door to door ke resto dan hotel di Jember. “Belum pulih seratus persen. Mengatasinya, ya, jualan langsung ke kafe, hotel, dan restoran di Jember. Produksinya juga dikurangi,” ucap M Fieqih Hidayatullah, petani sayuran hidroponik di Kecamatan Pakusari.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih Editor : Ivona
#Ekonomi #Headline #Pertanian