Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro mengatakan, pada pandemi Covid-19, sektor pertanian dibuat bingung dari segala aspek. Kata dia, di satu sisi produktivitas pertanian minta digenjot agar persoalan pangan aman di tengah pandemi. Tapi, di sisi lain, kebijakan untuk meningkatkan produktivitas tidak ada dukungan. “Pupuk subsidi dikurangi, bagaimana mau meningkat produktivitasnya,” tuturnya.
Belum lagi, soal tanah pertanian yang juga terus tergerus dengan pembangunan dan kawasan permukiman. Termasuk tentang harga jual yang saat panen raya turun, tapi ketika petani menanam harganya justru melangit. Persoalan ketidakpastian harga jual inilah yang dari dulu belum bisa terurai.
Dia mencontohkan komoditas pepaya california. Saat ini, tanaman itu jadi buah bibir bagi petani. Sebab, di awal-awal mereka memanen, harganya tidak sebagus sekarang. Pada awal pandemi, buah yang mengandung banyak vitamin A tersebut harganya tidak sampai seribu rupiah per kilogram di tingkat petani. “Sekarang pepaya di tingkat petani lebih bagus, Rp 3.500 per kilogram,” tuturnya.
Mengapa sekarang pepaya lebih baik harganya? Menurut Jumantoro, karena produksinya rendah. Tahun kemarin harga pepaya rusak, sehingga banyak petani yang tidak merawat pohonnya, sampai ada juga yang menebang. Begitu juga dengan harga tomat. Tahun kemarin murah meriah, sekarang melejit. “Satu buah tomat saja itu harganya seribu rupiah. Kalau tomatnya kecil, seribu cuma dapat dua tomat,” terangnya.
Catatan Siskaperbapo, sistem informasi berbasis daring dari Disperindag Jatim, pada 20 Agustus kemarin, harga tomat per kilogram mencapai Rp 14.600. Sementara, setahun lalu, 18 Agustus 2020, harga tomat terjun bebas di angka Rp 5.000 per kilogram. “Tomat mahal, karena petani tomat banyak yang tanam cabai. Sebab, sebelumnya harga cabai mahal,” ungkapnya.
Kondisi demikian, menurut Jumantoro, juga perlu peran pemerintah melalui penyuluh pertanian di lapangan untuk mengarahkan tanam komoditas apa yang menguntungkan. “Tahun depan bisa jadi cabai mahal, tomat murah. Sebab, petani cabai beralih ke tomat, karena tomat sebelumnya mahal,” paparnya.
Nur Ariyanto, petani pepaya california di daerah Tempurejo, mengaku, pada awal korona harga pepaya rusak karena akses distribusi banyak ditutup. Sekarang mulai membaik, bisa jadi karena kondisi pasar yang lebih baik.
Ketidakpastian harga komoditas pertanian di tengah pandemi juga dirasakan pertanian modern, yaitu petani selada hidroponik. Jika sebelumnya mengandalkan Surabaya sebagai pemasok utama, sekarang petani harus memutar otak untuk door to door ke resto dan hotel di Jember. “Belum pulih seratus persen. Mengatasinya, ya, jualan langsung ke kafe, hotel, dan restoran di Jember. Produksinya juga dikurangi,” ucap M Fieqih Hidayatullah, petani sayuran hidroponik di Kecamatan Pakusari.
Reporter : Dwi Siswanto
Fotografer : Dwi Siswanto
Editor : Mahrus Sholih Editor : Ivona