alexametrics
24.1 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Insentif Guru Madrasah Zonk, Gimana nih ?

Sudah Delapan Bulan Tidak Cair

Mobile_AP_Rectangle 1

BALUNG, RADARJEMBER.ID – Selama delapan bulan terakhir, pendidik non-PNS di lembaga madrasah belum juga menerima insentif. Padahal, seharusnya insentif itu dicairkan tiap bulan. Namun, sejak awal tahun hingga sekarang, guru yang berada di bawah Kementerian Agama (Kemenag) ini belum juga menerima kucuran dana tersebut.

Walau nilainya tidak besar, namun bagi beberapa guru di bawah Kemenag hal itu cukup membantu. Seperti yang diutarakan Istalia, guru bahasa Arab di madrasah tsanawiyah (MTs) Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari.

Menurut dia, tersendatnya pencairan insentif ini menambah beban hidup para guru. Sebab, gaji yang diperoleh sebagai guru honorer di bawah Kemenag masih jauh dari kata ideal. Oleh karenanya, insentif tersebut dirasakan sangat membantu perekonomian guru non-PNS seperti dirinya. Kendati begitu, dia enggan menyebut berapa nominal dana insentif yang seharusnya dia terima. “Ya, di bawah satu lah (satu juta rupiah, Red),” katanya, baru-baru ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Istalia mengaku, sejauh ini belum ada pemberitahuan dari Kemenag Jember atas mandeknya insentif tersebut. Tak hanya dirinya, beberapa sejawatnya juga mempertanyakan hal serupa. Namun, tak kunjung mendapat jawaban.

Dia menjelaskan, sebelum menerima insentif, dirinya diminta mengisi formulir yang telah disediakan khusus. Formulir tersebut menerangkan bahwa Istalia merupakan guru yang masih menjalani kuliah. Formulir yang telah diisi sekitar setahun itu layaknya formulir yang menerangkan ia masih menjalani program pendidikan profesi guru (PPG). “Ya, saya isi masih kuliah,” terangnya.

Dalam kondisi yang serba sulit akibat pandemi ini, Istalia harus berupaya mendapatkan pemasukan dari sumber lain. Tidak bergantung pada pendapatannya dari mengajar. Ia pun mulai berdagang online, meski skalanya masih kecil. Dia berharap, dengan cara berdagang itu dirinya mendapat pemasukan untuk menyambung kebutuhan hidup. “Insentif sudah dipotong. Walaupun (yang diterima, Red) cuma Rp 200 ribu, lumayan lah,” tuturnya.

Miswati, guru madrasah di Kecamatan Sukowono, juga menyatakan hal yang sama. Ia menyebut, insentif dari Kemenag pusat itu sudah mandek dan tidak dicairkan sejak Januari lalu. Ia tak tahu kenapa hal itu terjadi dan apa yang menjadi musababnya. Biasanya, setiap bulan dirinya bakal menerima dua pendapatan. Yaitu honor dari yayasan tempatnya mengajar dan insentif dari Kemenag. Besaran insentif yang dia terima sekitar Rp 200 ribu per bulan. “Kalau dari lembaga istilahnya uang transport. Bukan insentif ataupun honor,” ungkapnya.

Kedua guru madrasah ini pun berharap akan ada kepedulian atau kebijakan baru yang dapat membawa angin segar bagi para guru non-PNS di bawah Kemenag. Sebab, hal ini juga berpengaruh terhadap kinerja mereka dalam mengajar.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penma) Kemenag Kabupaten Jember Edy Sucipto membenarkan bahwa insentif guru non-PNS di lingkungan madrasah tidak cair sejak awal tahun ini. Hal itu terjadi lantaran sejak awal tahun ini wewenang pencairan bukan lagi di Kemenag Jember, karena telah dicabut oleh Kemenag pusat.

- Advertisement -

BALUNG, RADARJEMBER.ID – Selama delapan bulan terakhir, pendidik non-PNS di lembaga madrasah belum juga menerima insentif. Padahal, seharusnya insentif itu dicairkan tiap bulan. Namun, sejak awal tahun hingga sekarang, guru yang berada di bawah Kementerian Agama (Kemenag) ini belum juga menerima kucuran dana tersebut.

Walau nilainya tidak besar, namun bagi beberapa guru di bawah Kemenag hal itu cukup membantu. Seperti yang diutarakan Istalia, guru bahasa Arab di madrasah tsanawiyah (MTs) Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari.

Menurut dia, tersendatnya pencairan insentif ini menambah beban hidup para guru. Sebab, gaji yang diperoleh sebagai guru honorer di bawah Kemenag masih jauh dari kata ideal. Oleh karenanya, insentif tersebut dirasakan sangat membantu perekonomian guru non-PNS seperti dirinya. Kendati begitu, dia enggan menyebut berapa nominal dana insentif yang seharusnya dia terima. “Ya, di bawah satu lah (satu juta rupiah, Red),” katanya, baru-baru ini.

Istalia mengaku, sejauh ini belum ada pemberitahuan dari Kemenag Jember atas mandeknya insentif tersebut. Tak hanya dirinya, beberapa sejawatnya juga mempertanyakan hal serupa. Namun, tak kunjung mendapat jawaban.

Dia menjelaskan, sebelum menerima insentif, dirinya diminta mengisi formulir yang telah disediakan khusus. Formulir tersebut menerangkan bahwa Istalia merupakan guru yang masih menjalani kuliah. Formulir yang telah diisi sekitar setahun itu layaknya formulir yang menerangkan ia masih menjalani program pendidikan profesi guru (PPG). “Ya, saya isi masih kuliah,” terangnya.

Dalam kondisi yang serba sulit akibat pandemi ini, Istalia harus berupaya mendapatkan pemasukan dari sumber lain. Tidak bergantung pada pendapatannya dari mengajar. Ia pun mulai berdagang online, meski skalanya masih kecil. Dia berharap, dengan cara berdagang itu dirinya mendapat pemasukan untuk menyambung kebutuhan hidup. “Insentif sudah dipotong. Walaupun (yang diterima, Red) cuma Rp 200 ribu, lumayan lah,” tuturnya.

Miswati, guru madrasah di Kecamatan Sukowono, juga menyatakan hal yang sama. Ia menyebut, insentif dari Kemenag pusat itu sudah mandek dan tidak dicairkan sejak Januari lalu. Ia tak tahu kenapa hal itu terjadi dan apa yang menjadi musababnya. Biasanya, setiap bulan dirinya bakal menerima dua pendapatan. Yaitu honor dari yayasan tempatnya mengajar dan insentif dari Kemenag. Besaran insentif yang dia terima sekitar Rp 200 ribu per bulan. “Kalau dari lembaga istilahnya uang transport. Bukan insentif ataupun honor,” ungkapnya.

Kedua guru madrasah ini pun berharap akan ada kepedulian atau kebijakan baru yang dapat membawa angin segar bagi para guru non-PNS di bawah Kemenag. Sebab, hal ini juga berpengaruh terhadap kinerja mereka dalam mengajar.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penma) Kemenag Kabupaten Jember Edy Sucipto membenarkan bahwa insentif guru non-PNS di lingkungan madrasah tidak cair sejak awal tahun ini. Hal itu terjadi lantaran sejak awal tahun ini wewenang pencairan bukan lagi di Kemenag Jember, karena telah dicabut oleh Kemenag pusat.

BALUNG, RADARJEMBER.ID – Selama delapan bulan terakhir, pendidik non-PNS di lembaga madrasah belum juga menerima insentif. Padahal, seharusnya insentif itu dicairkan tiap bulan. Namun, sejak awal tahun hingga sekarang, guru yang berada di bawah Kementerian Agama (Kemenag) ini belum juga menerima kucuran dana tersebut.

Walau nilainya tidak besar, namun bagi beberapa guru di bawah Kemenag hal itu cukup membantu. Seperti yang diutarakan Istalia, guru bahasa Arab di madrasah tsanawiyah (MTs) Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari.

Menurut dia, tersendatnya pencairan insentif ini menambah beban hidup para guru. Sebab, gaji yang diperoleh sebagai guru honorer di bawah Kemenag masih jauh dari kata ideal. Oleh karenanya, insentif tersebut dirasakan sangat membantu perekonomian guru non-PNS seperti dirinya. Kendati begitu, dia enggan menyebut berapa nominal dana insentif yang seharusnya dia terima. “Ya, di bawah satu lah (satu juta rupiah, Red),” katanya, baru-baru ini.

Istalia mengaku, sejauh ini belum ada pemberitahuan dari Kemenag Jember atas mandeknya insentif tersebut. Tak hanya dirinya, beberapa sejawatnya juga mempertanyakan hal serupa. Namun, tak kunjung mendapat jawaban.

Dia menjelaskan, sebelum menerima insentif, dirinya diminta mengisi formulir yang telah disediakan khusus. Formulir tersebut menerangkan bahwa Istalia merupakan guru yang masih menjalani kuliah. Formulir yang telah diisi sekitar setahun itu layaknya formulir yang menerangkan ia masih menjalani program pendidikan profesi guru (PPG). “Ya, saya isi masih kuliah,” terangnya.

Dalam kondisi yang serba sulit akibat pandemi ini, Istalia harus berupaya mendapatkan pemasukan dari sumber lain. Tidak bergantung pada pendapatannya dari mengajar. Ia pun mulai berdagang online, meski skalanya masih kecil. Dia berharap, dengan cara berdagang itu dirinya mendapat pemasukan untuk menyambung kebutuhan hidup. “Insentif sudah dipotong. Walaupun (yang diterima, Red) cuma Rp 200 ribu, lumayan lah,” tuturnya.

Miswati, guru madrasah di Kecamatan Sukowono, juga menyatakan hal yang sama. Ia menyebut, insentif dari Kemenag pusat itu sudah mandek dan tidak dicairkan sejak Januari lalu. Ia tak tahu kenapa hal itu terjadi dan apa yang menjadi musababnya. Biasanya, setiap bulan dirinya bakal menerima dua pendapatan. Yaitu honor dari yayasan tempatnya mengajar dan insentif dari Kemenag. Besaran insentif yang dia terima sekitar Rp 200 ribu per bulan. “Kalau dari lembaga istilahnya uang transport. Bukan insentif ataupun honor,” ungkapnya.

Kedua guru madrasah ini pun berharap akan ada kepedulian atau kebijakan baru yang dapat membawa angin segar bagi para guru non-PNS di bawah Kemenag. Sebab, hal ini juga berpengaruh terhadap kinerja mereka dalam mengajar.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penma) Kemenag Kabupaten Jember Edy Sucipto membenarkan bahwa insentif guru non-PNS di lingkungan madrasah tidak cair sejak awal tahun ini. Hal itu terjadi lantaran sejak awal tahun ini wewenang pencairan bukan lagi di Kemenag Jember, karena telah dicabut oleh Kemenag pusat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/