alexametrics
27.7 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Dua Tenda Darurat di RS dr Soebandi dibongkar, Ini Alasannya

Pasien Menurun, Tenda Darurat Dibongkar

Mobile_AP_Rectangle 1

PATRANG, RADARJEMBER.ID – Dua tenda darurat di RS dr Soebandi dibongkar. Kini, tersisa satu tenda saja. Pembongkaran tenda tersebut menandakan adanya kemajuan penanganan pasien atau menurunnya jumlah pasien Covid-19 di rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.

Tenda darurat itu sebelumnya didirikan karena pasien Covid-19 di RSD Soebandi sempat membeludak. Bahkan, lokasi perawatan pasien sampai menggunakan ambulans, karena ranjang perawatan di tenda darurat itu tidak cukup.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, sejumlah anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Jember dibantu karyawan RSD dr Soebandi mulai memindahkan peralatan kebutuhan pasien dari tenda. Hal itu dilakukan sejak dua hari lalu. Kamar tidur dan tabung oksigen juga mulai dikeluarkan dari tenda. Dua tenda sebagai tempat antrean sekaligus antisipasi lonjakan pasien Covid-19 juga telah dibongkar. Sementara itu, hanya ada satu tenda berwarna jingga yang didirikan. “Hanya pakai satu tenda saja. Dua tenda sebelumnya dibongkar dan diganti dengan tenda yang baru,” kata Reza Pratama, anggota Pusdalops BPBD.

Mobile_AP_Rectangle 2

Direktur RSD dr Soebandi dr Hendro Sulistyo, dalam rapat bersama di Gedung DPRD beberapa waktu lalu, sempat menyampaikan penambahan jumlah kamar untuk penanganan pasien Covid-19. “Jumlah bed yang tersedia sudah mendekati 50 persen. Jumlah itu melebihi aturan Kemenkes, yaitu 40 persen,” ucapnya.

Sebagai rumah sakit daerah yang ditunjuk menjadi RS rujukan Covid-19, maka prinsipnya tidak boleh menolak pasien. Karena itu, pihaknya menggunakan tenda darurat, termasuk memakai ambulans. Pihak rumah sakit juga menyiapkan informasi status kamar Covid-19 secara real time secara daring melalui saluran website yang disediakan khusus.

- Advertisement -

PATRANG, RADARJEMBER.ID – Dua tenda darurat di RS dr Soebandi dibongkar. Kini, tersisa satu tenda saja. Pembongkaran tenda tersebut menandakan adanya kemajuan penanganan pasien atau menurunnya jumlah pasien Covid-19 di rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.

Tenda darurat itu sebelumnya didirikan karena pasien Covid-19 di RSD Soebandi sempat membeludak. Bahkan, lokasi perawatan pasien sampai menggunakan ambulans, karena ranjang perawatan di tenda darurat itu tidak cukup.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, sejumlah anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Jember dibantu karyawan RSD dr Soebandi mulai memindahkan peralatan kebutuhan pasien dari tenda. Hal itu dilakukan sejak dua hari lalu. Kamar tidur dan tabung oksigen juga mulai dikeluarkan dari tenda. Dua tenda sebagai tempat antrean sekaligus antisipasi lonjakan pasien Covid-19 juga telah dibongkar. Sementara itu, hanya ada satu tenda berwarna jingga yang didirikan. “Hanya pakai satu tenda saja. Dua tenda sebelumnya dibongkar dan diganti dengan tenda yang baru,” kata Reza Pratama, anggota Pusdalops BPBD.

Direktur RSD dr Soebandi dr Hendro Sulistyo, dalam rapat bersama di Gedung DPRD beberapa waktu lalu, sempat menyampaikan penambahan jumlah kamar untuk penanganan pasien Covid-19. “Jumlah bed yang tersedia sudah mendekati 50 persen. Jumlah itu melebihi aturan Kemenkes, yaitu 40 persen,” ucapnya.

Sebagai rumah sakit daerah yang ditunjuk menjadi RS rujukan Covid-19, maka prinsipnya tidak boleh menolak pasien. Karena itu, pihaknya menggunakan tenda darurat, termasuk memakai ambulans. Pihak rumah sakit juga menyiapkan informasi status kamar Covid-19 secara real time secara daring melalui saluran website yang disediakan khusus.

PATRANG, RADARJEMBER.ID – Dua tenda darurat di RS dr Soebandi dibongkar. Kini, tersisa satu tenda saja. Pembongkaran tenda tersebut menandakan adanya kemajuan penanganan pasien atau menurunnya jumlah pasien Covid-19 di rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.

Tenda darurat itu sebelumnya didirikan karena pasien Covid-19 di RSD Soebandi sempat membeludak. Bahkan, lokasi perawatan pasien sampai menggunakan ambulans, karena ranjang perawatan di tenda darurat itu tidak cukup.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, sejumlah anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Jember dibantu karyawan RSD dr Soebandi mulai memindahkan peralatan kebutuhan pasien dari tenda. Hal itu dilakukan sejak dua hari lalu. Kamar tidur dan tabung oksigen juga mulai dikeluarkan dari tenda. Dua tenda sebagai tempat antrean sekaligus antisipasi lonjakan pasien Covid-19 juga telah dibongkar. Sementara itu, hanya ada satu tenda berwarna jingga yang didirikan. “Hanya pakai satu tenda saja. Dua tenda sebelumnya dibongkar dan diganti dengan tenda yang baru,” kata Reza Pratama, anggota Pusdalops BPBD.

Direktur RSD dr Soebandi dr Hendro Sulistyo, dalam rapat bersama di Gedung DPRD beberapa waktu lalu, sempat menyampaikan penambahan jumlah kamar untuk penanganan pasien Covid-19. “Jumlah bed yang tersedia sudah mendekati 50 persen. Jumlah itu melebihi aturan Kemenkes, yaitu 40 persen,” ucapnya.

Sebagai rumah sakit daerah yang ditunjuk menjadi RS rujukan Covid-19, maka prinsipnya tidak boleh menolak pasien. Karena itu, pihaknya menggunakan tenda darurat, termasuk memakai ambulans. Pihak rumah sakit juga menyiapkan informasi status kamar Covid-19 secara real time secara daring melalui saluran website yang disediakan khusus.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/