Radar Jember - Tepat hari ini, Ricardo Izecson dos Santos Leite atau yang lebih dikenal dengan nama Ricardo Kaka merayakan ulang tahunnya yang ke-43.
Sosok yang dikenal dengan wajah bersih dan sikap rendah hati ini bukan hanya sekadar mantan pemain sepak bola, namun juga legenda hidup yang telah menorehkan kisah magis dalam sejarah AC Milan.
Menyambut hari istimewanya, akun Instagram @milanistiproject_ atau yang dikenal dengan Milan Story membagikan kisah unik di balik kedatangan Kaka ke kota mode, Milan, yang ternyata sempat dianggap sebelah mata oleh sang pelatih legendaris, Carlo Ancelotti.
Ancelotti, atau Don Carlo sebagaimana ia biasa dijuluki, mengungkapkan kesan pertamanya saat Kaka mendarat di Bandara Malpensa, Italia.
"Aku meletakkan tanganku di kepala," kata Ancelotti.
“Kacamatanya, rambutnya yang disisir sempurna, wajahnya seperti anak baik-baik. Yang kurang hanyalah buku dan makanan ringan. Ya Tuhan, kami merekrut seorang mahasiswa, pikirku.”
Wajar jika keraguan muncul. Bagi Ancelotti, penampilan Kaka kala itu terlalu “normal” untuk ukuran seorang calon pemain profesional, apalagi untuk level AC Milan klub raksasa dengan sejarah dan ekspektasi besar.
Ketika Ancelotti mulai menggali informasi soal pemuda Brasil itu, ia mendapati tanggapan yang seragam, “Dia memang potensial, gelandang serang, tapi tidak cepat. Dia akan kesulitan bermain di Liga Italia bersama Milan.”
Namun segalanya berubah pada sesi latihan perdana Kaka.
Meski saat itu tampak masih lelah setelah penerbangan panjang, bahkan seperti masih jetlag, Kaka langsung menunjukkan sesuatu yang istimewa.
“Pertanyaan pertama yang ingin kutanyakan padanya adalah: apakah kamu sudah memberi tahu ibu dan ayahmu bahwa kamu bolos sekolah hari ini?” canda Ancelotti.
Namun momen lucu itu segera digantikan oleh keajaiban.
Dalam latihan tersebut, Gennaro Gattuso alias “Rhino”yang dikenal keras dan tak kenal kompromimemberi benturan bahu kepada Kaka.
Siapa sangka, Kaka tetap melaju tanpa goyah.
Bahkan, ia langsung melepas umpan sejauh 30 yard yang tidak mampu diantisipasi oleh Alessandro Nesta, bek tangguh AC Milan kala itu.
“Dengan bola di kakinya, dia sangat mengerikan. Aku kehilangan kata-kata. Bahkan mungkin tidak ada kata untuk keajaiban yang saya lihat,” ujar Ancelotti yang tak bisa menyembunyikan keterpukauannya.
Kagum dengan apa yang baru saja disaksikannya, Ancelotti langsung menghubungi Adriano Galliani, petinggi AC Milan saat itu.
“Tuan, saya punya berita untuk Anda,” ucap Ancelotti.
Galliani, dengan selera humor khasnya, menanggapi, “Berita buruk atau bagus?” Ancelotti menjawab, “Berita bagus tentunya.” Galliani masih berseloroh, “Apakah kau akan mundur?” Ancelotti tertawa, “Tidak, tentu saya akan bertahan, karena kita baru saja mendapatkan seorang fenomena.”
Ricardo Kaka memang tak hanya menjadi fenomena pada latihan pertamanya.
Dalam beberapa tahun berikutnya, ia membuktikan dirinya sebagai salah satu gelandang terbaik dunia.
Bersama AC Milan, Kaka mempersembahkan gelar Serie A, Liga Champions, Piala Dunia Antarklub, hingga Ballon d’Or tahun 2007.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa penampilan bisa menipu, dan bahwa talenta sejati akan bersinar bahkan sejak langkah awalnya.
Selamat ulang tahun, Ricardo Kaka. “Mahasiswa” yang ternyata adalah seorang keajaiban di lapangan hijau.
Penulis: Cintya Diyanti Utomo
Editor : M. Ainul Budi