22.8 C
Jember
Tuesday, 28 March 2023

Gaji Guru Jauh dari Sejahtera

Jumlah guru di Kabupaten Lumajang memang cukup banyak. Namun, sebagian besar adalah guru honorer dan guru tidak tetap. Alhasil, besaran gaji yang diterima per bulannya masih jauh dari kata layak. Bahkan, honor yang didapat hanya senilai ratusan ribu rupiah per bulan.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Hari Guru Nasional diperingati serentak, kemarin. Sosok guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Bukan karena mereka tidak memiliki jasa. Namun, jasanya yang sangat besar inilah kerap kali tidak mendapatkan perhatian yang semestinya. Terutama kesejahteraan guru honorer dan guru tidak tetap (GTT).

Data yang berhasil dihimpun, jumlah guru pegawai negeri sipil (PNS) di Lumajang mulai jenjang TK hingga SMA sedikitnya ada 4.267 guru. Sementara, guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), guru honorer, GTT, dan tenaga kependidikan berjumlah 7.152. Jumlah ini masih belum termasuk guru yang mengajar di madrasah. Artinya, jumlah guru honor lebih banyak dibandingkan guru PNS.

Kepala Seksi Data dan Tunjangan Dinas Pendidikan Lumajang Dedik Harmoko mengungkapkan, sesuai data, jumlah guru yang ada di Lumajang masih sangat kurang. Sebab, sebagian besar mereka belum pengangkatan PNS atau PPPK. Namun, jika dilihat di masing-masing lembaga pendidikan, dia menyebut jumlah guru masih sangat cukup.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Memang lebih banyak jumlah guru honorer. Terutama di sekolah dasar dan sekolah swasta. Akan tetapi, dari sisi beban mengajar mereka sama. Minimal 24 jam setiap pekannya. Maksimal setiap guru mengajar adalah 40 jam. Nah, untuk memenuhi waktu beban mengajar itu sering kali satu guru bisa mengajar hingga dua sekolah,” ungkapnya.

Hal tersebut dilakukan lantaran menjadi syarat pencairan honor per bulannya. Sebab, jika sudah terpenuhi, hasil jerih payah mereka akan dinilai dengan gaji. Selain itu, mereka juga berhak menerima tunjangan.

Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Lumajang Kisnanto menjelaskan, besaran gaji guru honor tersebut ditentukan oleh sejumlah indikator. Namun, jika mengacu pada pedoman kelayakan, jumlah tersebut masih belum terbilang layak. Dia menyebut, minimal besaran gaji guru honor sesuai upah minimum kabupaten (UMK).

“Kami masih berupaya untuk meningkatkan harkat martabat guru. Terutama kesejahteraan guru honorer. Saat ini, gaji guru yang sudah K2 sebesar satu juta rupiah. Sedangkan Non-K2 sebesar Rp 800 ribu ditambah tamsil (tambahan penghasilan, Red) oleh sekolah dari dana BOS. Jumlah ini sudah lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Muhammad Sidkin Ali
Redaktur : Hafid Asnan

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Hari Guru Nasional diperingati serentak, kemarin. Sosok guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Bukan karena mereka tidak memiliki jasa. Namun, jasanya yang sangat besar inilah kerap kali tidak mendapatkan perhatian yang semestinya. Terutama kesejahteraan guru honorer dan guru tidak tetap (GTT).

Data yang berhasil dihimpun, jumlah guru pegawai negeri sipil (PNS) di Lumajang mulai jenjang TK hingga SMA sedikitnya ada 4.267 guru. Sementara, guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), guru honorer, GTT, dan tenaga kependidikan berjumlah 7.152. Jumlah ini masih belum termasuk guru yang mengajar di madrasah. Artinya, jumlah guru honor lebih banyak dibandingkan guru PNS.

Kepala Seksi Data dan Tunjangan Dinas Pendidikan Lumajang Dedik Harmoko mengungkapkan, sesuai data, jumlah guru yang ada di Lumajang masih sangat kurang. Sebab, sebagian besar mereka belum pengangkatan PNS atau PPPK. Namun, jika dilihat di masing-masing lembaga pendidikan, dia menyebut jumlah guru masih sangat cukup.

“Memang lebih banyak jumlah guru honorer. Terutama di sekolah dasar dan sekolah swasta. Akan tetapi, dari sisi beban mengajar mereka sama. Minimal 24 jam setiap pekannya. Maksimal setiap guru mengajar adalah 40 jam. Nah, untuk memenuhi waktu beban mengajar itu sering kali satu guru bisa mengajar hingga dua sekolah,” ungkapnya.

Hal tersebut dilakukan lantaran menjadi syarat pencairan honor per bulannya. Sebab, jika sudah terpenuhi, hasil jerih payah mereka akan dinilai dengan gaji. Selain itu, mereka juga berhak menerima tunjangan.

Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Lumajang Kisnanto menjelaskan, besaran gaji guru honor tersebut ditentukan oleh sejumlah indikator. Namun, jika mengacu pada pedoman kelayakan, jumlah tersebut masih belum terbilang layak. Dia menyebut, minimal besaran gaji guru honor sesuai upah minimum kabupaten (UMK).

“Kami masih berupaya untuk meningkatkan harkat martabat guru. Terutama kesejahteraan guru honorer. Saat ini, gaji guru yang sudah K2 sebesar satu juta rupiah. Sedangkan Non-K2 sebesar Rp 800 ribu ditambah tamsil (tambahan penghasilan, Red) oleh sekolah dari dana BOS. Jumlah ini sudah lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Muhammad Sidkin Ali
Redaktur : Hafid Asnan

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Hari Guru Nasional diperingati serentak, kemarin. Sosok guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Bukan karena mereka tidak memiliki jasa. Namun, jasanya yang sangat besar inilah kerap kali tidak mendapatkan perhatian yang semestinya. Terutama kesejahteraan guru honorer dan guru tidak tetap (GTT).

Data yang berhasil dihimpun, jumlah guru pegawai negeri sipil (PNS) di Lumajang mulai jenjang TK hingga SMA sedikitnya ada 4.267 guru. Sementara, guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), guru honorer, GTT, dan tenaga kependidikan berjumlah 7.152. Jumlah ini masih belum termasuk guru yang mengajar di madrasah. Artinya, jumlah guru honor lebih banyak dibandingkan guru PNS.

Kepala Seksi Data dan Tunjangan Dinas Pendidikan Lumajang Dedik Harmoko mengungkapkan, sesuai data, jumlah guru yang ada di Lumajang masih sangat kurang. Sebab, sebagian besar mereka belum pengangkatan PNS atau PPPK. Namun, jika dilihat di masing-masing lembaga pendidikan, dia menyebut jumlah guru masih sangat cukup.

“Memang lebih banyak jumlah guru honorer. Terutama di sekolah dasar dan sekolah swasta. Akan tetapi, dari sisi beban mengajar mereka sama. Minimal 24 jam setiap pekannya. Maksimal setiap guru mengajar adalah 40 jam. Nah, untuk memenuhi waktu beban mengajar itu sering kali satu guru bisa mengajar hingga dua sekolah,” ungkapnya.

Hal tersebut dilakukan lantaran menjadi syarat pencairan honor per bulannya. Sebab, jika sudah terpenuhi, hasil jerih payah mereka akan dinilai dengan gaji. Selain itu, mereka juga berhak menerima tunjangan.

Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Lumajang Kisnanto menjelaskan, besaran gaji guru honor tersebut ditentukan oleh sejumlah indikator. Namun, jika mengacu pada pedoman kelayakan, jumlah tersebut masih belum terbilang layak. Dia menyebut, minimal besaran gaji guru honor sesuai upah minimum kabupaten (UMK).

“Kami masih berupaya untuk meningkatkan harkat martabat guru. Terutama kesejahteraan guru honorer. Saat ini, gaji guru yang sudah K2 sebesar satu juta rupiah. Sedangkan Non-K2 sebesar Rp 800 ribu ditambah tamsil (tambahan penghasilan, Red) oleh sekolah dari dana BOS. Jumlah ini sudah lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Muhammad Sidkin Ali
Redaktur : Hafid Asnan

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca