alexametrics
23.4 C
Jember
Wednesday, 8 December 2021

Miris! Upah Guru di Bondowoso Hanya Rp 100 Ribu

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Hari Guru Nasional diperingati setiap tanggal 25 November. Ironisnya, di balik ucapan yang mengalir kepada para guru, ternyata ada sejumlah guru di Bondowoso yang sampai saat ini jauh dari kata sejahtera. Honor bulanannya rendah. Tak sebanding dengan perjuangannya.

Honor kecil ini salah satunya diterima Siti Asiyatun, 35, guru honorer di SDN Pandak 2, Kecamatan Klabang, Bondowoso. Setidaknya, sudah 15 tahun lamanya perempuan itu harus berjuang keras. Maklum, dirinya mulai mengajar sejak usia 20 tahun alias masih mahasiswa.

Setiap hari, Asiyatun, yang dikarunia satu anak itu, harus menyeberangi sungai dengan papan kayu. Hal itu dilakukan agar dirinya bisa sampai ke sekolah tempatnya mengajar. Selama 15 tahun itu pula dirinya merasa khawatir karena takut terbawa arus sungai yang cukup dalam atau tercebur.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Lama-lama sudah biasa. Saya juga pernah hanyut. Waktu naik sampan talinya terlepas. Untung yang biasa menarik tali langsung berenang menolong,” jelasnya. Dulu, sekolah sempat punya perahu, tetapi sudah rusak. Papan kayu yang ditarik tali itu pun terpaksa dinaiki karena tak ada pilihan lagi.

Asiyatun, yang tinggal di Desa Karanganyar, Kecamatan Klabang, Bondowoso tersebut sebenarnya hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai ke sekolah. Namun, ketika menyeberangi sungai terkadang butuh waktu lama menunggu sampannya. “Ada jalan darat, cuma lebih jauh dan jalannya rusak. Kalau lewat darat bisa 45 menit,” ucapnya melalui sambungan telepon.

Pada musim hujan saat ini, dirinya harus pulang lebih awal. Jika tidak, maka arus sungai akibat hujan bisa saja menghalanginya untuk menyeberang pulang. “Kalau musim kemarau saya harus nyeker nyebur air saat naik ke perahu. Perahunya kan tidak bisa ke pinggir,” akunya.

Dikatakan, siswa di sekolah tempatnya mengajar tidak banyak, karena hanya satu RT. Tahun ini ada 12 siswa dari kelas 2 sampai kelas 6. “Tidak ada kelas 1 tahun ini, karena memang tidak ada yang mendaftar. Tahun ini paling sedikit,” ucapnya, Kamis (25/11). Menurut dia, dulu ketika pembelajaran belum tematik, dirinya memegang semua mata pelajaran, kecuali pelajaran Agama dan Penjaskes. “Sekarang kan sudah tematik,” imbuhnya.

Ditanya perihal gaji yang diterimanya setiap bulan, perempuan yang akrab dipanggil Uun tersebut lantas tertawa. Menurut dia, selama jadi guru honorer, dia hanya menerima gaji yang masih kalah mahal dengan harga sekilo kopi unggul. “Sampai hari ini, kadang dikasih Rp 50 ribu, kadang dikasih Rp 100 ribu,” jelas perempuan kelahiran 1986 itu.

Uun mengaku, jika motivasi mengajar adalah gaji, pastinya sejak dulu sudah berhenti mengajar. Akan tetapi, motivasinya untuk mencerdaskan generasi bangsa. “Ingin mencerdaskan mereka seperti itu,” jelas alumnus D-2 Sekolah Tinggi Blambangan (STIB) Banyuwangi tersebut.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Hari Guru Nasional diperingati setiap tanggal 25 November. Ironisnya, di balik ucapan yang mengalir kepada para guru, ternyata ada sejumlah guru di Bondowoso yang sampai saat ini jauh dari kata sejahtera. Honor bulanannya rendah. Tak sebanding dengan perjuangannya.

Honor kecil ini salah satunya diterima Siti Asiyatun, 35, guru honorer di SDN Pandak 2, Kecamatan Klabang, Bondowoso. Setidaknya, sudah 15 tahun lamanya perempuan itu harus berjuang keras. Maklum, dirinya mulai mengajar sejak usia 20 tahun alias masih mahasiswa.

Setiap hari, Asiyatun, yang dikarunia satu anak itu, harus menyeberangi sungai dengan papan kayu. Hal itu dilakukan agar dirinya bisa sampai ke sekolah tempatnya mengajar. Selama 15 tahun itu pula dirinya merasa khawatir karena takut terbawa arus sungai yang cukup dalam atau tercebur.

“Lama-lama sudah biasa. Saya juga pernah hanyut. Waktu naik sampan talinya terlepas. Untung yang biasa menarik tali langsung berenang menolong,” jelasnya. Dulu, sekolah sempat punya perahu, tetapi sudah rusak. Papan kayu yang ditarik tali itu pun terpaksa dinaiki karena tak ada pilihan lagi.

Asiyatun, yang tinggal di Desa Karanganyar, Kecamatan Klabang, Bondowoso tersebut sebenarnya hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai ke sekolah. Namun, ketika menyeberangi sungai terkadang butuh waktu lama menunggu sampannya. “Ada jalan darat, cuma lebih jauh dan jalannya rusak. Kalau lewat darat bisa 45 menit,” ucapnya melalui sambungan telepon.

Pada musim hujan saat ini, dirinya harus pulang lebih awal. Jika tidak, maka arus sungai akibat hujan bisa saja menghalanginya untuk menyeberang pulang. “Kalau musim kemarau saya harus nyeker nyebur air saat naik ke perahu. Perahunya kan tidak bisa ke pinggir,” akunya.

Dikatakan, siswa di sekolah tempatnya mengajar tidak banyak, karena hanya satu RT. Tahun ini ada 12 siswa dari kelas 2 sampai kelas 6. “Tidak ada kelas 1 tahun ini, karena memang tidak ada yang mendaftar. Tahun ini paling sedikit,” ucapnya, Kamis (25/11). Menurut dia, dulu ketika pembelajaran belum tematik, dirinya memegang semua mata pelajaran, kecuali pelajaran Agama dan Penjaskes. “Sekarang kan sudah tematik,” imbuhnya.

Ditanya perihal gaji yang diterimanya setiap bulan, perempuan yang akrab dipanggil Uun tersebut lantas tertawa. Menurut dia, selama jadi guru honorer, dia hanya menerima gaji yang masih kalah mahal dengan harga sekilo kopi unggul. “Sampai hari ini, kadang dikasih Rp 50 ribu, kadang dikasih Rp 100 ribu,” jelas perempuan kelahiran 1986 itu.

Uun mengaku, jika motivasi mengajar adalah gaji, pastinya sejak dulu sudah berhenti mengajar. Akan tetapi, motivasinya untuk mencerdaskan generasi bangsa. “Ingin mencerdaskan mereka seperti itu,” jelas alumnus D-2 Sekolah Tinggi Blambangan (STIB) Banyuwangi tersebut.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Hari Guru Nasional diperingati setiap tanggal 25 November. Ironisnya, di balik ucapan yang mengalir kepada para guru, ternyata ada sejumlah guru di Bondowoso yang sampai saat ini jauh dari kata sejahtera. Honor bulanannya rendah. Tak sebanding dengan perjuangannya.

Honor kecil ini salah satunya diterima Siti Asiyatun, 35, guru honorer di SDN Pandak 2, Kecamatan Klabang, Bondowoso. Setidaknya, sudah 15 tahun lamanya perempuan itu harus berjuang keras. Maklum, dirinya mulai mengajar sejak usia 20 tahun alias masih mahasiswa.

Setiap hari, Asiyatun, yang dikarunia satu anak itu, harus menyeberangi sungai dengan papan kayu. Hal itu dilakukan agar dirinya bisa sampai ke sekolah tempatnya mengajar. Selama 15 tahun itu pula dirinya merasa khawatir karena takut terbawa arus sungai yang cukup dalam atau tercebur.

“Lama-lama sudah biasa. Saya juga pernah hanyut. Waktu naik sampan talinya terlepas. Untung yang biasa menarik tali langsung berenang menolong,” jelasnya. Dulu, sekolah sempat punya perahu, tetapi sudah rusak. Papan kayu yang ditarik tali itu pun terpaksa dinaiki karena tak ada pilihan lagi.

Asiyatun, yang tinggal di Desa Karanganyar, Kecamatan Klabang, Bondowoso tersebut sebenarnya hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai ke sekolah. Namun, ketika menyeberangi sungai terkadang butuh waktu lama menunggu sampannya. “Ada jalan darat, cuma lebih jauh dan jalannya rusak. Kalau lewat darat bisa 45 menit,” ucapnya melalui sambungan telepon.

Pada musim hujan saat ini, dirinya harus pulang lebih awal. Jika tidak, maka arus sungai akibat hujan bisa saja menghalanginya untuk menyeberang pulang. “Kalau musim kemarau saya harus nyeker nyebur air saat naik ke perahu. Perahunya kan tidak bisa ke pinggir,” akunya.

Dikatakan, siswa di sekolah tempatnya mengajar tidak banyak, karena hanya satu RT. Tahun ini ada 12 siswa dari kelas 2 sampai kelas 6. “Tidak ada kelas 1 tahun ini, karena memang tidak ada yang mendaftar. Tahun ini paling sedikit,” ucapnya, Kamis (25/11). Menurut dia, dulu ketika pembelajaran belum tematik, dirinya memegang semua mata pelajaran, kecuali pelajaran Agama dan Penjaskes. “Sekarang kan sudah tematik,” imbuhnya.

Ditanya perihal gaji yang diterimanya setiap bulan, perempuan yang akrab dipanggil Uun tersebut lantas tertawa. Menurut dia, selama jadi guru honorer, dia hanya menerima gaji yang masih kalah mahal dengan harga sekilo kopi unggul. “Sampai hari ini, kadang dikasih Rp 50 ribu, kadang dikasih Rp 100 ribu,” jelas perempuan kelahiran 1986 itu.

Uun mengaku, jika motivasi mengajar adalah gaji, pastinya sejak dulu sudah berhenti mengajar. Akan tetapi, motivasinya untuk mencerdaskan generasi bangsa. “Ingin mencerdaskan mereka seperti itu,” jelas alumnus D-2 Sekolah Tinggi Blambangan (STIB) Banyuwangi tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca