29.7 C
Jember
Thursday, 30 March 2023

Miris! Upah Guru di Bondowoso Hanya Rp 100 Ribu

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Hari Guru Nasional diperingati setiap tanggal 25 November. Ironisnya, di balik ucapan yang mengalir kepada para guru, ternyata ada sejumlah guru di Bondowoso yang sampai saat ini jauh dari kata sejahtera. Honor bulanannya rendah. Tak sebanding dengan perjuangannya.

Honor kecil ini salah satunya diterima Siti Asiyatun, 35, guru honorer di SDN Pandak 2, Kecamatan Klabang, Bondowoso. Setidaknya, sudah 15 tahun lamanya perempuan itu harus berjuang keras. Maklum, dirinya mulai mengajar sejak usia 20 tahun alias masih mahasiswa.

Setiap hari, Asiyatun, yang dikarunia satu anak itu, harus menyeberangi sungai dengan papan kayu. Hal itu dilakukan agar dirinya bisa sampai ke sekolah tempatnya mengajar. Selama 15 tahun itu pula dirinya merasa khawatir karena takut terbawa arus sungai yang cukup dalam atau tercebur.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Lama-lama sudah biasa. Saya juga pernah hanyut. Waktu naik sampan talinya terlepas. Untung yang biasa menarik tali langsung berenang menolong,” jelasnya. Dulu, sekolah sempat punya perahu, tetapi sudah rusak. Papan kayu yang ditarik tali itu pun terpaksa dinaiki karena tak ada pilihan lagi.

Asiyatun, yang tinggal di Desa Karanganyar, Kecamatan Klabang, Bondowoso tersebut sebenarnya hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai ke sekolah. Namun, ketika menyeberangi sungai terkadang butuh waktu lama menunggu sampannya. “Ada jalan darat, cuma lebih jauh dan jalannya rusak. Kalau lewat darat bisa 45 menit,” ucapnya melalui sambungan telepon.

Pada musim hujan saat ini, dirinya harus pulang lebih awal. Jika tidak, maka arus sungai akibat hujan bisa saja menghalanginya untuk menyeberang pulang. “Kalau musim kemarau saya harus nyeker nyebur air saat naik ke perahu. Perahunya kan tidak bisa ke pinggir,” akunya.

Dikatakan, siswa di sekolah tempatnya mengajar tidak banyak, karena hanya satu RT. Tahun ini ada 12 siswa dari kelas 2 sampai kelas 6. “Tidak ada kelas 1 tahun ini, karena memang tidak ada yang mendaftar. Tahun ini paling sedikit,” ucapnya, Kamis (25/11). Menurut dia, dulu ketika pembelajaran belum tematik, dirinya memegang semua mata pelajaran, kecuali pelajaran Agama dan Penjaskes. “Sekarang kan sudah tematik,” imbuhnya.

Ditanya perihal gaji yang diterimanya setiap bulan, perempuan yang akrab dipanggil Uun tersebut lantas tertawa. Menurut dia, selama jadi guru honorer, dia hanya menerima gaji yang masih kalah mahal dengan harga sekilo kopi unggul. “Sampai hari ini, kadang dikasih Rp 50 ribu, kadang dikasih Rp 100 ribu,” jelas perempuan kelahiran 1986 itu.

Uun mengaku, jika motivasi mengajar adalah gaji, pastinya sejak dulu sudah berhenti mengajar. Akan tetapi, motivasinya untuk mencerdaskan generasi bangsa. “Ingin mencerdaskan mereka seperti itu,” jelas alumnus D-2 Sekolah Tinggi Blambangan (STIB) Banyuwangi tersebut.

Menurut dia, di SDN Pandak ada tiga orang guru. Satu ASN dan dua guru honorer termasuk dirinya. “Alhamdulillah, tahun ini saya lolos sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK, Red),” katanya mensyukuri apa yang diraih, meskipun belum pemberkasan.

Sementara itu, Wakil Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Bondowoso Dwi Windu Krisyanto menerangkan, ada sekitar 1.400-an guru di Bondowoso yang masuk kategori guru tidak tetap (GTT). Mayoritas dari mereka mendapatkan honor jauh dari upah minimum kabupaten (UMK). Bahkan, ada yang digaji sekitar Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu saja. Padahal, banyak GTT yang lokasi mengajarnya berada di kawasan yang sulit di jangkau.

Honor rendah ini tidak bisa dimungkiri. Menurut Windu, honor mereka didapat dari bantuan operasional sekolah (BOS) di sekolah masing-masing yang sudah ada aturannya. “Memang tidak sesuai, di bawah UMK. Ada yang hanya Rp 100 ribu, ya, kalau muridnya tidak ada. Misalnya muridnya hanya belasan, kan susah bayarnya,” ujarnya.

Baginya, para guru ini sangat luar biasa semangat dan pengabdiannya. Meskipun honornya sangat minim, mereka enggan mengundurkan diri. “Heroiknya mereka mau mengabdikan diri untuk anak bangsa,” jelas Windu.

Disebutkan, dari ribuan GTT itu ada sekitar 500-an yang lolos tes PPPK. Sementara sisanya masih belum lolos. Karena itulah, pihaknya berjuang dengan bermitra bersama pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. “Seleksi pertama itu, kurang lebih sekitar 500–600 yang lolos. Itu sudah naik. Tetapi masih kurang, karena ada formasi 1.400-an di Bondowoso. Itu akan diminta ke pusat,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Ilham Wahyudi
Redaktur : Nur Hariri

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Hari Guru Nasional diperingati setiap tanggal 25 November. Ironisnya, di balik ucapan yang mengalir kepada para guru, ternyata ada sejumlah guru di Bondowoso yang sampai saat ini jauh dari kata sejahtera. Honor bulanannya rendah. Tak sebanding dengan perjuangannya.

Honor kecil ini salah satunya diterima Siti Asiyatun, 35, guru honorer di SDN Pandak 2, Kecamatan Klabang, Bondowoso. Setidaknya, sudah 15 tahun lamanya perempuan itu harus berjuang keras. Maklum, dirinya mulai mengajar sejak usia 20 tahun alias masih mahasiswa.

Setiap hari, Asiyatun, yang dikarunia satu anak itu, harus menyeberangi sungai dengan papan kayu. Hal itu dilakukan agar dirinya bisa sampai ke sekolah tempatnya mengajar. Selama 15 tahun itu pula dirinya merasa khawatir karena takut terbawa arus sungai yang cukup dalam atau tercebur.

“Lama-lama sudah biasa. Saya juga pernah hanyut. Waktu naik sampan talinya terlepas. Untung yang biasa menarik tali langsung berenang menolong,” jelasnya. Dulu, sekolah sempat punya perahu, tetapi sudah rusak. Papan kayu yang ditarik tali itu pun terpaksa dinaiki karena tak ada pilihan lagi.

Asiyatun, yang tinggal di Desa Karanganyar, Kecamatan Klabang, Bondowoso tersebut sebenarnya hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai ke sekolah. Namun, ketika menyeberangi sungai terkadang butuh waktu lama menunggu sampannya. “Ada jalan darat, cuma lebih jauh dan jalannya rusak. Kalau lewat darat bisa 45 menit,” ucapnya melalui sambungan telepon.

Pada musim hujan saat ini, dirinya harus pulang lebih awal. Jika tidak, maka arus sungai akibat hujan bisa saja menghalanginya untuk menyeberang pulang. “Kalau musim kemarau saya harus nyeker nyebur air saat naik ke perahu. Perahunya kan tidak bisa ke pinggir,” akunya.

Dikatakan, siswa di sekolah tempatnya mengajar tidak banyak, karena hanya satu RT. Tahun ini ada 12 siswa dari kelas 2 sampai kelas 6. “Tidak ada kelas 1 tahun ini, karena memang tidak ada yang mendaftar. Tahun ini paling sedikit,” ucapnya, Kamis (25/11). Menurut dia, dulu ketika pembelajaran belum tematik, dirinya memegang semua mata pelajaran, kecuali pelajaran Agama dan Penjaskes. “Sekarang kan sudah tematik,” imbuhnya.

Ditanya perihal gaji yang diterimanya setiap bulan, perempuan yang akrab dipanggil Uun tersebut lantas tertawa. Menurut dia, selama jadi guru honorer, dia hanya menerima gaji yang masih kalah mahal dengan harga sekilo kopi unggul. “Sampai hari ini, kadang dikasih Rp 50 ribu, kadang dikasih Rp 100 ribu,” jelas perempuan kelahiran 1986 itu.

Uun mengaku, jika motivasi mengajar adalah gaji, pastinya sejak dulu sudah berhenti mengajar. Akan tetapi, motivasinya untuk mencerdaskan generasi bangsa. “Ingin mencerdaskan mereka seperti itu,” jelas alumnus D-2 Sekolah Tinggi Blambangan (STIB) Banyuwangi tersebut.

Menurut dia, di SDN Pandak ada tiga orang guru. Satu ASN dan dua guru honorer termasuk dirinya. “Alhamdulillah, tahun ini saya lolos sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK, Red),” katanya mensyukuri apa yang diraih, meskipun belum pemberkasan.

Sementara itu, Wakil Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Bondowoso Dwi Windu Krisyanto menerangkan, ada sekitar 1.400-an guru di Bondowoso yang masuk kategori guru tidak tetap (GTT). Mayoritas dari mereka mendapatkan honor jauh dari upah minimum kabupaten (UMK). Bahkan, ada yang digaji sekitar Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu saja. Padahal, banyak GTT yang lokasi mengajarnya berada di kawasan yang sulit di jangkau.

Honor rendah ini tidak bisa dimungkiri. Menurut Windu, honor mereka didapat dari bantuan operasional sekolah (BOS) di sekolah masing-masing yang sudah ada aturannya. “Memang tidak sesuai, di bawah UMK. Ada yang hanya Rp 100 ribu, ya, kalau muridnya tidak ada. Misalnya muridnya hanya belasan, kan susah bayarnya,” ujarnya.

Baginya, para guru ini sangat luar biasa semangat dan pengabdiannya. Meskipun honornya sangat minim, mereka enggan mengundurkan diri. “Heroiknya mereka mau mengabdikan diri untuk anak bangsa,” jelas Windu.

Disebutkan, dari ribuan GTT itu ada sekitar 500-an yang lolos tes PPPK. Sementara sisanya masih belum lolos. Karena itulah, pihaknya berjuang dengan bermitra bersama pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. “Seleksi pertama itu, kurang lebih sekitar 500–600 yang lolos. Itu sudah naik. Tetapi masih kurang, karena ada formasi 1.400-an di Bondowoso. Itu akan diminta ke pusat,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Ilham Wahyudi
Redaktur : Nur Hariri

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Hari Guru Nasional diperingati setiap tanggal 25 November. Ironisnya, di balik ucapan yang mengalir kepada para guru, ternyata ada sejumlah guru di Bondowoso yang sampai saat ini jauh dari kata sejahtera. Honor bulanannya rendah. Tak sebanding dengan perjuangannya.

Honor kecil ini salah satunya diterima Siti Asiyatun, 35, guru honorer di SDN Pandak 2, Kecamatan Klabang, Bondowoso. Setidaknya, sudah 15 tahun lamanya perempuan itu harus berjuang keras. Maklum, dirinya mulai mengajar sejak usia 20 tahun alias masih mahasiswa.

Setiap hari, Asiyatun, yang dikarunia satu anak itu, harus menyeberangi sungai dengan papan kayu. Hal itu dilakukan agar dirinya bisa sampai ke sekolah tempatnya mengajar. Selama 15 tahun itu pula dirinya merasa khawatir karena takut terbawa arus sungai yang cukup dalam atau tercebur.

“Lama-lama sudah biasa. Saya juga pernah hanyut. Waktu naik sampan talinya terlepas. Untung yang biasa menarik tali langsung berenang menolong,” jelasnya. Dulu, sekolah sempat punya perahu, tetapi sudah rusak. Papan kayu yang ditarik tali itu pun terpaksa dinaiki karena tak ada pilihan lagi.

Asiyatun, yang tinggal di Desa Karanganyar, Kecamatan Klabang, Bondowoso tersebut sebenarnya hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai ke sekolah. Namun, ketika menyeberangi sungai terkadang butuh waktu lama menunggu sampannya. “Ada jalan darat, cuma lebih jauh dan jalannya rusak. Kalau lewat darat bisa 45 menit,” ucapnya melalui sambungan telepon.

Pada musim hujan saat ini, dirinya harus pulang lebih awal. Jika tidak, maka arus sungai akibat hujan bisa saja menghalanginya untuk menyeberang pulang. “Kalau musim kemarau saya harus nyeker nyebur air saat naik ke perahu. Perahunya kan tidak bisa ke pinggir,” akunya.

Dikatakan, siswa di sekolah tempatnya mengajar tidak banyak, karena hanya satu RT. Tahun ini ada 12 siswa dari kelas 2 sampai kelas 6. “Tidak ada kelas 1 tahun ini, karena memang tidak ada yang mendaftar. Tahun ini paling sedikit,” ucapnya, Kamis (25/11). Menurut dia, dulu ketika pembelajaran belum tematik, dirinya memegang semua mata pelajaran, kecuali pelajaran Agama dan Penjaskes. “Sekarang kan sudah tematik,” imbuhnya.

Ditanya perihal gaji yang diterimanya setiap bulan, perempuan yang akrab dipanggil Uun tersebut lantas tertawa. Menurut dia, selama jadi guru honorer, dia hanya menerima gaji yang masih kalah mahal dengan harga sekilo kopi unggul. “Sampai hari ini, kadang dikasih Rp 50 ribu, kadang dikasih Rp 100 ribu,” jelas perempuan kelahiran 1986 itu.

Uun mengaku, jika motivasi mengajar adalah gaji, pastinya sejak dulu sudah berhenti mengajar. Akan tetapi, motivasinya untuk mencerdaskan generasi bangsa. “Ingin mencerdaskan mereka seperti itu,” jelas alumnus D-2 Sekolah Tinggi Blambangan (STIB) Banyuwangi tersebut.

Menurut dia, di SDN Pandak ada tiga orang guru. Satu ASN dan dua guru honorer termasuk dirinya. “Alhamdulillah, tahun ini saya lolos sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK, Red),” katanya mensyukuri apa yang diraih, meskipun belum pemberkasan.

Sementara itu, Wakil Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Bondowoso Dwi Windu Krisyanto menerangkan, ada sekitar 1.400-an guru di Bondowoso yang masuk kategori guru tidak tetap (GTT). Mayoritas dari mereka mendapatkan honor jauh dari upah minimum kabupaten (UMK). Bahkan, ada yang digaji sekitar Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu saja. Padahal, banyak GTT yang lokasi mengajarnya berada di kawasan yang sulit di jangkau.

Honor rendah ini tidak bisa dimungkiri. Menurut Windu, honor mereka didapat dari bantuan operasional sekolah (BOS) di sekolah masing-masing yang sudah ada aturannya. “Memang tidak sesuai, di bawah UMK. Ada yang hanya Rp 100 ribu, ya, kalau muridnya tidak ada. Misalnya muridnya hanya belasan, kan susah bayarnya,” ujarnya.

Baginya, para guru ini sangat luar biasa semangat dan pengabdiannya. Meskipun honornya sangat minim, mereka enggan mengundurkan diri. “Heroiknya mereka mau mengabdikan diri untuk anak bangsa,” jelas Windu.

Disebutkan, dari ribuan GTT itu ada sekitar 500-an yang lolos tes PPPK. Sementara sisanya masih belum lolos. Karena itulah, pihaknya berjuang dengan bermitra bersama pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. “Seleksi pertama itu, kurang lebih sekitar 500–600 yang lolos. Itu sudah naik. Tetapi masih kurang, karena ada formasi 1.400-an di Bondowoso. Itu akan diminta ke pusat,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Ilham Wahyudi
Redaktur : Nur Hariri

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca