alexametrics
23.6 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Napi Teroris Lapas Lumajang Asal Kaltim Dibebaskan

Diantar BNPT Sampai di Rumahnya

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Setelah mengucap ikrar kesetiaan terhadap NKRI pada Juni lalu, narapidana terorisme (napiter) asal Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, akhirnya dinyatakan bebas. Napiter tersebut diantar beberapa petugas Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sampai ke rumahnya, kemarin.

Ahmad Dani bin Ibrahim alias Dani alias Inghimas Mujahidin, napiter ini telah menjalani masa hukuman penjara selama enam tahun. Empat tahun di antaranya dia jalani di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II B Lumajang. Kemarin sekitar pukul 08.45, dia keluar dari lapas mengenakan baju santai.

Kepala Lapas Kelas II B Lumajang Agus Wahono mengatakan, selama menjadi warga binaan, Dani selalu bersikap kooperatif. Bahkan beberapa bulan lalu mengucapkan ikrar kesetiaan NKRI. Karenanya, ketika diajukan remisi, remisinya disetujui oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

Mobile_AP_Rectangle 2

“Tingkat radikalismenya sudah menurun. Dia sudah mau diajak salat berjamaah, sudah bergaul dengan warga binaan lainnya. Sudah jauh dari teroris atau radikal. Sudah lebih dari tiga tahun kami bina di sini dan mau mengikuti seluruh kegiatan di lapas. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar,” jelasnya.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, lelaki yang lahir pada 09 Mei 1998 ini terlibat pengeboman Gereja Oikumene di Samarinda pada 13 November 2016 lalu. Kemudian, yang bersangkutan berhasil ditangkap dan diganjar masa kurungan kurang lebih selama enam tahun delapan bulan.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Setelah mengucap ikrar kesetiaan terhadap NKRI pada Juni lalu, narapidana terorisme (napiter) asal Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, akhirnya dinyatakan bebas. Napiter tersebut diantar beberapa petugas Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sampai ke rumahnya, kemarin.

Ahmad Dani bin Ibrahim alias Dani alias Inghimas Mujahidin, napiter ini telah menjalani masa hukuman penjara selama enam tahun. Empat tahun di antaranya dia jalani di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II B Lumajang. Kemarin sekitar pukul 08.45, dia keluar dari lapas mengenakan baju santai.

Kepala Lapas Kelas II B Lumajang Agus Wahono mengatakan, selama menjadi warga binaan, Dani selalu bersikap kooperatif. Bahkan beberapa bulan lalu mengucapkan ikrar kesetiaan NKRI. Karenanya, ketika diajukan remisi, remisinya disetujui oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

“Tingkat radikalismenya sudah menurun. Dia sudah mau diajak salat berjamaah, sudah bergaul dengan warga binaan lainnya. Sudah jauh dari teroris atau radikal. Sudah lebih dari tiga tahun kami bina di sini dan mau mengikuti seluruh kegiatan di lapas. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar,” jelasnya.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, lelaki yang lahir pada 09 Mei 1998 ini terlibat pengeboman Gereja Oikumene di Samarinda pada 13 November 2016 lalu. Kemudian, yang bersangkutan berhasil ditangkap dan diganjar masa kurungan kurang lebih selama enam tahun delapan bulan.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Setelah mengucap ikrar kesetiaan terhadap NKRI pada Juni lalu, narapidana terorisme (napiter) asal Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, akhirnya dinyatakan bebas. Napiter tersebut diantar beberapa petugas Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sampai ke rumahnya, kemarin.

Ahmad Dani bin Ibrahim alias Dani alias Inghimas Mujahidin, napiter ini telah menjalani masa hukuman penjara selama enam tahun. Empat tahun di antaranya dia jalani di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II B Lumajang. Kemarin sekitar pukul 08.45, dia keluar dari lapas mengenakan baju santai.

Kepala Lapas Kelas II B Lumajang Agus Wahono mengatakan, selama menjadi warga binaan, Dani selalu bersikap kooperatif. Bahkan beberapa bulan lalu mengucapkan ikrar kesetiaan NKRI. Karenanya, ketika diajukan remisi, remisinya disetujui oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

“Tingkat radikalismenya sudah menurun. Dia sudah mau diajak salat berjamaah, sudah bergaul dengan warga binaan lainnya. Sudah jauh dari teroris atau radikal. Sudah lebih dari tiga tahun kami bina di sini dan mau mengikuti seluruh kegiatan di lapas. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar,” jelasnya.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, lelaki yang lahir pada 09 Mei 1998 ini terlibat pengeboman Gereja Oikumene di Samarinda pada 13 November 2016 lalu. Kemudian, yang bersangkutan berhasil ditangkap dan diganjar masa kurungan kurang lebih selama enam tahun delapan bulan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/