Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ternyata Ini Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Siapa Saja Ulama Besar yang Pernah Singgah?

M. Ainul Budi • Minggu, 5 Oktober 2025 | 21:07 WIB
Kompleks Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran, Sidoarjo. (Foto: NOJ/ ISt)
Kompleks Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran, Sidoarjo. (Foto: NOJ/ ISt)

radar jember - Pondok Pesantren Al Khoziny yang berada di Kecamatan Buduran, Kab. Sidoarjo, Jawa Timur tengah menjadi perbincangan nasional.

Bagaimana tidak, tragedi musala ambruk itu memakan banyak korban luka maupun jiwa.

Lantas bagaimana kah sejarah berdirinya pondok pesantren tersebut?

Di masyarakat, nama pesantren Buduran lebih dikenal luas. Pondok Pesantren Al Khoziny terletak di Jalan KHR Moh Abbas I/18, Desa Buduran, Kecamatan Buduran, Sidoarjo ini, adalah salah satu pesantren tertua di Jawa Timur.

Pendiri Pondok Pesantren ini KH Raden Khozin Khoiruddin, adalah menantu KH Ya’qub.

KH Raden Khozin Khoiruddin merupakan pengasuh Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo periode ketiga, yang letaknya tak jauh dari Pondok Pesantren Al Khoziny saat ini.

Sejumlah ulama besar pernah mengenyam ilmu di Pondok Pesantren Siwalan Panji ini, seperti KH M Hasyim Asy’ari (Tebuireng, Jombang), KH Nasir (Bangkalan), KH Abd Wahab Hasbullah (Tambakberas, Jombang), KH Umar (Jember), KH Nawawi (Pendiri Pesantren Ma'had Arriyadl Ringin Agung Kediri), KH Usman Al Ishaqi (Alfitrah Kedinding, Surabaya), KH Abdul Majid (Bata-bata Pamekasan), KH Dimyati (Banten), KH Ali Mas’ud (Sidoarjo), KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), dan masih banyak yang lainnya.

Menurut beberapa data yang ditemukan penulis di beberapa artikel atau jurnal penelitian yang menyebutkan bahwa Pesantren Al Khoziny berdiri di antara tahun 1926 atau 1927 belum bisa dibenarkan.

Hal itu disampaikan KHR Abdus Salam Mujib, Pengasuh Pesantren Al Khoziny pada saat Haul Masyayikh dan Haflah Rajabiyah ke-80 Pesantren Al Khoziny 2024.

Kiai Salam Mujib mengatakan bahwa pesantren ini ada sekitar tahun 1920.

Isak tangis dan teriakan penuh cemas mewarnai proses pencarian korban ambruknya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Sabtu, 4 Oktober 2025.

Sejumlah keluarga korban yang sudah berjam-jam menanti kabar, dilaporkan berupaya menerobos masuk ke area reruntuhan, berharap bisa membantu Tim SAR Gabungan dalam mencari orang terkasih yang masih tertimbun di balik puing bangunan.

Kendati demikian, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengingatkan kondisi di lapangan tidak sesederhana itu.

Tumpukan beton yang ambruk tidak hanya menyulitkan tim SAR, tapi juga mengancam keselamatan siapa pun yang mencoba mendekat ke area evakuasi korban.

Reruntuhan tipe 'pancake' juga disebut bisa runtuh kembali hanya karena getaran kecil.

Itulah sebabnya petugas berulang kali menahan keluarga agar tidak masuk, meski harus menghadapi amarah dan tangisan yang pecah di lokasi kejadian.

Empati jelas mengalir dari para relawan dan petugas. Mereka memahami betul bagaimana beratnya menunggu kabar di tengah puing.

Di sisi lain, Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto menuturkan keselamatan keluarga korban juga harus dijaga, agar tragedi ini tidak memakan korban.

“Kalau keluarga inti orang tuanya itu sudah dijelaskan sejak hari pertama dan setiap langkah-langkah yang dilakukan oleh tim ini semuanya dikomunikasikan dengan keluarga," jelas Suharyanto di Posko Kedaruratan, Sidoarjo, pada Sabtu, 4 Oktober 2025.

Editor : M. Ainul Budi
#sidoarjo #Al Khoziny #sejarah #Pondok Pesantren