Tutik Endriyani, Pustakawan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Lumajang, mengungkapkan, Kabupaten Lumajang terpilih menjadi salah satu kabupaten percontohan dalam program perpustakaan berbasis inklusi sosial. Sejak 2018, program tersebut resmi diterapkan di Lumajang. Hal tersebut merupakan kelanjutan program PerpuSeru-CCFI.
“Tahun 2011, kami bermitra dengan Program PerpuSeru-CCFI yang merupakan embrio program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Kami terpilih menjadi salah satu dari 50 kabupaten yang memperoleh program tersebut. Awalnya ada delapan desa. Setiap tahun terus bertambah hingga ada 66 perpustakaan desa (perpusdes) yang sudah berbasis inklusi,” katanya.
Tutik menjelaskan, program tersebut memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensi desa. Hal tersebut meliputi keragaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, menawarkan kesempatan berusaha, melindungi dan memperjuangkan budaya serta hak asasi manusia. Sebab, tujuan program tersebut adalah menciptakan masyarakat sejahtera.
“Jadi, tidak hanya perpustakaan itu sebagai tempat meminjam atau membaca buku. Tetapi, sudah merambah ke hal lainnya. Misalnya ada kegiatan perkumpulan komunitas atau organisasi, pelatihan teknologi informasi, hingga teknologi tepat guna dan praktik keterampilan. Melalui perpustakaan juga, masyarakat bisa belajar wirausaha. Mulai dari idenya, prosesnya, sampai cara pemasarannya seperti apa,” jelasnya.
Kegiatan tersebut, lanjutnya, tidak hanya dimulai sejak program bergulir. Namun, sejak awal perpustakaan, terutama perpustakaan desa, sudah dibekali hal tersebut. Hasilnya, prestasi demi prestasi terus diraih setiap tahun. Namun, dua tahun terakhir, tidak ada satu pun prestasi yang diraih.
Sementara itu, Deni Rohman, Sekretaris Disarpus Lumajang, menuturkan, di era sekarang perpustakaan harus siap menghadapi zaman. Salah satunya persaingan buku cetak dan buku digital yang semakin ketat. Meski demikian, esensi buku tetap dipahami masyarakat. Menurutnya, keberadaan perpustakaan yang berisi buku cetak atau digital bisa mengubah karakter masyarakat.
“Esensi buku tetap menjadi sumber ilmu pengetahuan. Kami merancang perpustakaan itu menjadi tempat untuk belajar agar kehidupan menjadi lebih baik. Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial juga menjadi sebuah tempat masyarakat beraktivitas berbasis literasi. Ini yang akan kami kembangkan lagi,” tuturnya.
Pihaknya berharap, program tersebut bisa dilakukan dengan maksimal. Pandemi Covid-19 bisa menjadikan peluang mewujudkan masyarakat literasi. “Jadi, tidak hanya membaca, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran, pelatihan. Sehingga ada perubahan perilaku. Namun, hal ini butuh konsistensi,” pungkasnya.
Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Muhammad Sidkin Ali
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Safitri