alexametrics
23.3 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Kembali ke Desa, Kembangkan Aplikasi Layanan Berbasis Teknologi

Semua pemuda punya kesempatan yang sama mengenyam pendidikan tinggi hingga ke luar negeri. Namun setelah lulus, tak semua mau balik ke kampung halaman untuk membangun desanya. Satu dari sedikit pemuda itu adalah Miftah Khoril Fahmi. Pemuda asal Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan. Dia pulang setelah menuntaskan pendidikan magister atau S-2 di Korea Selatan.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mengenakan topi dan berkacamata, M Miftah Khoirul Fahmi menyapa Jawa Pos Radar Jember. Dia adalah pemuda asal Lojejer yang mendapatkan beasiswa S-2 di Business Administration (MBA), Pukyong National University, Busan, Korea Selatan. Pemuda kelahiran Jember, 19 September 1993, ini menjadi salah satu inspirasi pemuda desa lainnya. Agar mereka berani meraih pendidikan tinggi dan mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Lulus dari Universitas Brawijaya, Malang, Miftah mendapatkan beasiswa S-2 di Korea Selatan. Menuntaskan pendidikan magister di Negeri Ginseng selama dua tahun, sempat membuatnya tidak bisa pulang ke Indonesia karena pandemi. “Baru Februari kemarin bisa balik,” katanya.

Bagi kebanyakan mahasiswa luar negeri, mereka lebih memilih bekerja di luar negeri. Hal seperti ini juga sempat dialami Miftah. Namun, itu hanya singkat. Tidak sampai setahun. Kenapa pulang? Alasannya, dia rindu terhadap ibunya di Lojejer. Baginya, keluarga adalah bagian terpenting. Sebab, dia pernah merasakan kehilangan seseorang yang dia cintai. Ayah Miftah meninggal dunia kala dirinya masih duduk di bangku SMA.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sepeninggal sang ayah, Miftah mengaku sempat terkendala biaya untuk meneruskan pendidikan sarjana di Universitas Brawijaya. Namun, dia bisa mematahkan kendala itu. Sebab, biaya bukan nomor satu untuk bisa meraih pendidikan tinggi. Biaya ini juga yang kerap menjadi belenggu pemuda lain di kampungnya yang ingin melanjutkan studi.

Selama meninggalkan Jember dan pergi kuliah ke Korsel, dia melihat kondisi desanya begitu-begitu saja. Dia resah dan ingin adanya smart village. Karena itu, bersama rekannya yang masih kuliah di Korsel, Miftah mewujudkan smart village dengan membuat aplikasi berbasis android, bernama Desaku.

Aplikasi tersebut dapat mempermudah masyarakat memproses administrasi desa. “Jadi, membantu proses pengurusan administrasi di desa, termasuk warga desa yang tinggal di luar kota ataupun luar negeri,” jelasnya.

Lewat aplikasi tersebut, desa juga bisa memiliki data digital yang tepat. Termasuk untuk menginventarisasi penduduk yang usianya masuk 17 tahun sebagai syarat memiliki suara di pemilu atau KTP. “Bantuan kemiskinan juga terdata,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mengenakan topi dan berkacamata, M Miftah Khoirul Fahmi menyapa Jawa Pos Radar Jember. Dia adalah pemuda asal Lojejer yang mendapatkan beasiswa S-2 di Business Administration (MBA), Pukyong National University, Busan, Korea Selatan. Pemuda kelahiran Jember, 19 September 1993, ini menjadi salah satu inspirasi pemuda desa lainnya. Agar mereka berani meraih pendidikan tinggi dan mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Lulus dari Universitas Brawijaya, Malang, Miftah mendapatkan beasiswa S-2 di Korea Selatan. Menuntaskan pendidikan magister di Negeri Ginseng selama dua tahun, sempat membuatnya tidak bisa pulang ke Indonesia karena pandemi. “Baru Februari kemarin bisa balik,” katanya.

Bagi kebanyakan mahasiswa luar negeri, mereka lebih memilih bekerja di luar negeri. Hal seperti ini juga sempat dialami Miftah. Namun, itu hanya singkat. Tidak sampai setahun. Kenapa pulang? Alasannya, dia rindu terhadap ibunya di Lojejer. Baginya, keluarga adalah bagian terpenting. Sebab, dia pernah merasakan kehilangan seseorang yang dia cintai. Ayah Miftah meninggal dunia kala dirinya masih duduk di bangku SMA.

Sepeninggal sang ayah, Miftah mengaku sempat terkendala biaya untuk meneruskan pendidikan sarjana di Universitas Brawijaya. Namun, dia bisa mematahkan kendala itu. Sebab, biaya bukan nomor satu untuk bisa meraih pendidikan tinggi. Biaya ini juga yang kerap menjadi belenggu pemuda lain di kampungnya yang ingin melanjutkan studi.

Selama meninggalkan Jember dan pergi kuliah ke Korsel, dia melihat kondisi desanya begitu-begitu saja. Dia resah dan ingin adanya smart village. Karena itu, bersama rekannya yang masih kuliah di Korsel, Miftah mewujudkan smart village dengan membuat aplikasi berbasis android, bernama Desaku.

Aplikasi tersebut dapat mempermudah masyarakat memproses administrasi desa. “Jadi, membantu proses pengurusan administrasi di desa, termasuk warga desa yang tinggal di luar kota ataupun luar negeri,” jelasnya.

Lewat aplikasi tersebut, desa juga bisa memiliki data digital yang tepat. Termasuk untuk menginventarisasi penduduk yang usianya masuk 17 tahun sebagai syarat memiliki suara di pemilu atau KTP. “Bantuan kemiskinan juga terdata,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mengenakan topi dan berkacamata, M Miftah Khoirul Fahmi menyapa Jawa Pos Radar Jember. Dia adalah pemuda asal Lojejer yang mendapatkan beasiswa S-2 di Business Administration (MBA), Pukyong National University, Busan, Korea Selatan. Pemuda kelahiran Jember, 19 September 1993, ini menjadi salah satu inspirasi pemuda desa lainnya. Agar mereka berani meraih pendidikan tinggi dan mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Lulus dari Universitas Brawijaya, Malang, Miftah mendapatkan beasiswa S-2 di Korea Selatan. Menuntaskan pendidikan magister di Negeri Ginseng selama dua tahun, sempat membuatnya tidak bisa pulang ke Indonesia karena pandemi. “Baru Februari kemarin bisa balik,” katanya.

Bagi kebanyakan mahasiswa luar negeri, mereka lebih memilih bekerja di luar negeri. Hal seperti ini juga sempat dialami Miftah. Namun, itu hanya singkat. Tidak sampai setahun. Kenapa pulang? Alasannya, dia rindu terhadap ibunya di Lojejer. Baginya, keluarga adalah bagian terpenting. Sebab, dia pernah merasakan kehilangan seseorang yang dia cintai. Ayah Miftah meninggal dunia kala dirinya masih duduk di bangku SMA.

Sepeninggal sang ayah, Miftah mengaku sempat terkendala biaya untuk meneruskan pendidikan sarjana di Universitas Brawijaya. Namun, dia bisa mematahkan kendala itu. Sebab, biaya bukan nomor satu untuk bisa meraih pendidikan tinggi. Biaya ini juga yang kerap menjadi belenggu pemuda lain di kampungnya yang ingin melanjutkan studi.

Selama meninggalkan Jember dan pergi kuliah ke Korsel, dia melihat kondisi desanya begitu-begitu saja. Dia resah dan ingin adanya smart village. Karena itu, bersama rekannya yang masih kuliah di Korsel, Miftah mewujudkan smart village dengan membuat aplikasi berbasis android, bernama Desaku.

Aplikasi tersebut dapat mempermudah masyarakat memproses administrasi desa. “Jadi, membantu proses pengurusan administrasi di desa, termasuk warga desa yang tinggal di luar kota ataupun luar negeri,” jelasnya.

Lewat aplikasi tersebut, desa juga bisa memiliki data digital yang tepat. Termasuk untuk menginventarisasi penduduk yang usianya masuk 17 tahun sebagai syarat memiliki suara di pemilu atau KTP. “Bantuan kemiskinan juga terdata,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/