Radar Jember - Kepedulian terhadap aksara lokal kian menurun, terutama di kalangan anak muda.
Padahal jumlah aksara daerah di Indonesia mencapai sekitar 20 jenis.
Untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat, Museum Huruf Jember menambah satu koleksi baru, yakni aksara Lontara.
Aksara tersebut dipresentasikan dalam bentuk kain yang melilit manekin, dan resmi diperkenalkan dalam pembukaan acara Pekan Aksara di Museum Huruf, Jalan Bengawan Solo, Tegalboto Lor, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari.
Direktur Museum Huruf, Ade Shidiq Permana, menyampaikan, pihaknya ingin terus membombardir kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih peduli pada aksara lokal.
Upaya itu juga akan dilakukan secara berkelanjutan dengan menghadirkan koleksi baru setiap tahun.
“Ke depan, setiap memperingati Hari Aksara kami akan menghadirkan koleksi aksara lokal baru,” ujarnya.
Dia menjelaskan, koleksi aksara Lontara tidak dibuat sembarangan.
Koleksi tersebut didatangkan langsung dari daerah asalnya, Sulawesi Selatan.
Ade bercerita, kain itu diperoleh melalui pertemuan dengan pegiat budaya dari berbagai daerah di Indonesia beberapa waktu lalu.
“Jadi koleksi yang ada di Museum Huruf merupakan autentik dari daerah masing-masing,” tambahnya.
Koleksi Lontara yang kini dipamerkan memuat bunyi aksara Sulawesi Selatan, Makassar, Pantai Losari.
Pesan yang terkandung adalah memperkenalkan aksara Lontara Bugis-Makassar sekaligus ikon Makassar, yaitu Pantai Losari, di tengah-tengah warga Jember.
Kain yang digunakan adalah katun, ditenun oleh perajin asal Sengkang pada tahun 2001.
Pada kain juga tergambar simbol perahu Pinisi yang sarat makna: melambangkan kejayaan maritim, kekuatan spiritual, dan identitas budaya bangsa Indonesia, khususnya Bugis-Makassar.
Pinisi juga mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat yang mampu mengarungi dunia. (yul/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh