Ketua Bidang Paralayang FASI Jember Reza Pratama menjelaskan, dulu persatuan paralayang adalah PLGI atau Persatuan Layang Gantung Indonesia. Namun, semua jenis kejuaraan dirgantara menjadi satu induk, FASI. Sementara itu, untuk paralayang pada Porprov Jatim 2022 mendatang, muncul angin segar. Sebab, ada nomor paralayang yang dilombakan.
Sebelumnya, nomor paralayang di Porprov Jatim 2019 yang digelar di Tuban hanya ada laga ekshibisi. Bahkan, paralayang Jember tidak main-main membidik medali di Porprov Jatim tahun depan. Pada venue paralayang digelar di Lumajang tersebut, Paralayang Jember menargetkan meraih medali. “Target kami satu emas,” jelas Reza.
Padahal, baru Porprov depan paralayang dikompetisikan, kenapa mematok target tinggi? Menurut Reza, karena pada laga ekshibisi Porprov 2019, siswa paralayang Jember meraih perak atas nama Ego. Dia termasuk binaan paralayang jilid pertama yang pada waktu itu pusat latihannya di Bukit Mandigu, Mumbulsari. Dan inilah yang menjadi modal kepercayaan diri meraih target tersebut. “Ego ini anak Mumbulsari,” tuturnya.
Atlet atau siswa paralayang yang disiapkan seleksi jumlahnya sekitar 10 orang. Nanti yang masuk training center (TC) atau pemusatan latihan daerah (puslatda) jumlahnya enam orang. Lokasi seleksinya akan dipusatkan di Lapangan Kesilir dan Skyland di Kecamatan Wuluhan.
Untuk regulasi atlet paralayang dengan atlet dari cabor lainnya, perbedaannya adalah batasan usia. Namun, di Jember banyak atlet paralayang usianya masih 19 tahun. “Kalau paralayang itu tidak terperinci berapa batasan, tapi persentase,” terangnya.
Meski demikian, peralatan menjadi problem tersendiri. Dari tiga parasut yang dimiliki FASI Jember, semuanya porositas atau telah aus. “Parasutnya bisa dipakai, tapi tidak layak untuk terbang. Jadi, parasutnya hanya untuk latihan ground handling saja,” tuturnya.
Olahraga dirgantara paralayang tersebut termasuk salah satu olahraga yang punya tingkat keselamatan tinggi. Bahkan, juga ada tingkatan sertifikasi. “Sekitar lima tahun terakhir tidak ada bantuan parasut. Terakhir itu masih Bupati MZA Djalal,” kenangnya.
Nomor pertandingan lomba dirgantara yang kerap dikompetisikan adalah aeromodelling. Pada kejuaraan pesawat yang dikendalikan lewat remot tersebut, Jember tidak akan mengikuti. “Kalau aeromodelling rasanya tidak menurunkan, karena atletnya terlalu tua-tua,” paparnya.
Sementara itu, Wakil Ketua KONI Jember Soetriono mengatakan, untuk teknis seleksi diserahkan seluruhnya ke masing-masing cabang olahraga (cabor). Dia menegaskan, dalam seleksi tidak ada uang saku untuk atlet dan tidak dipungut biaya. “Baru kalau sudah masuk TC atau puslatda ada uang saku atlet,” pungkasnya.
Reporter : Dwi Siswanto
Fotografer : Fasi Jember For Radar Jember
Editor : Mahrus Sholih Editor : Ivona