Petani Bondowoso Minim Ikuti Program Asuransi Usaha Tanaman Padi

Safitri • Dipublikasikan Kamis, 2 Desember 2021 | 16:11 WIB
TAK BANYAK PEMINAT: Sejumlah petani saat melakukan penyemprotan terhadap tanaman padi di sawahnya karena terserang hama. Tak banyak petani yang antusias mengikuti program asuransi padi.
TAK BANYAK PEMINAT: Sejumlah petani saat melakukan penyemprotan terhadap tanaman padi di sawahnya karena terserang hama. Tak banyak petani yang antusias mengikuti program asuransi padi.
BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Risiko gagal panen bagi para petani tentu cenderung akan lebih besar di musim seperti sekarang. Mirisnya, para petani di Bondowoso masih minim yang mengikuti program Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP). Tidak banyak petani yang mengasuransikan tanaman padi milik mereka.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Bondowoso Hendri Widotono menyebut, hingga saat ini baru 10 persen dari seluruh petani yang mengikuti program AUTP. Sementara, sisanya belum mau untuk bergabung.

Menurut dia, mereka keberatan untuk membayar Rp 36 ribu untuk satu hektare sawahnya. "Kemungkinan baru 10 persen petani yang mengasuransikan tanamannya melalui AUTP. Kalau ternak mulai membumi. Karena ternak itu selama satu tahun. Kalau padi usianya tiga bulan," jelasnya.

Walaupun demikian, Pemkab Bondowoso terus berupaya memberikan edukasi kepada para petani agar tidak mengalami kerugian besar saat gagal panen. "Kami proses edukasi kepada masyarakat memang tidak gampang. Karena subsidinya pemerintah hanya 80 persen," lanjut Hendri.

Padahal, program AUTP telah dijalankan sejak 2017 lalu melalui berbagai program pertanian lainnya. Dengan 80 persen subsidi pemerintah pusat, dia berharap petani Bondowoso dapat memanfaatkan program tersebut. Pasalnya, kemampuan fiskal Pemda Bondowoso sendiri diakuinya sangat terbatas.

"Kami pahami bahwa kemampuan pemerintah sangat terbatas. Fiskal daerah Pemkab Bondowoso sangat sempit. Mohon pengertian kepada masyarakat bahwa asuransi yang dari pemerintah pusat ini betul-betul mohon dimanfaatkan," terangnya.

Di masa pandemi Covid-19, secara makro sektor pertanian masih tumbuh sekitar 2,5 persen secara nasional karena merupakan kebutuhan pokok. Namun, secara individu, para petani benar-benar terdampak pandemi Covid-19. "Terus bergerak, nggak ada hentinya," ungkapnya.

Sementara itu, salah satu petani di Bondowoso, Suprapto, menerangkan, selain padi, terdapat beberapa tanaman alternatif yang bisa dikerjakan petani. Yakni jagung, ketela rambat, dan singkong. Tapi, masalahnya terletak pada harga yang membuat petani tidak tertarik. "Karena kondisi pasar naik turun sesuai kebutuhan. Di saat pasar butuh, harga tinggi. Saat pasar nggak butuh, harganya nggak karuan," bebernya.

Diakuinya, di masa pandemi sulit bagi petani untuk mencari alternatif selain jagung dan padi. Apalagi jagung, di samping bisa dimakan untuk masyarakat juga bisa untuk pakan ternak.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Dokumentasi Radar Ijen
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri
Petani Asuransi Bondowoso