Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Bondowoso Hendri Widotono menyebut, hingga saat ini baru 10 persen dari seluruh petani yang mengikuti program AUTP. Sementara, sisanya belum mau untuk bergabung.
Menurut dia, mereka keberatan untuk membayar Rp 36 ribu untuk satu hektare sawahnya. "Kemungkinan baru 10 persen petani yang mengasuransikan tanamannya melalui AUTP. Kalau ternak mulai membumi. Karena ternak itu selama satu tahun. Kalau padi usianya tiga bulan," jelasnya.
Walaupun demikian, Pemkab Bondowoso terus berupaya memberikan edukasi kepada para petani agar tidak mengalami kerugian besar saat gagal panen. "Kami proses edukasi kepada masyarakat memang tidak gampang. Karena subsidinya pemerintah hanya 80 persen," lanjut Hendri.
Padahal, program AUTP telah dijalankan sejak 2017 lalu melalui berbagai program pertanian lainnya. Dengan 80 persen subsidi pemerintah pusat, dia berharap petani Bondowoso dapat memanfaatkan program tersebut. Pasalnya, kemampuan fiskal Pemda Bondowoso sendiri diakuinya sangat terbatas.
"Kami pahami bahwa kemampuan pemerintah sangat terbatas. Fiskal daerah Pemkab Bondowoso sangat sempit. Mohon pengertian kepada masyarakat bahwa asuransi yang dari pemerintah pusat ini betul-betul mohon dimanfaatkan," terangnya.
Di masa pandemi Covid-19, secara makro sektor pertanian masih tumbuh sekitar 2,5 persen secara nasional karena merupakan kebutuhan pokok. Namun, secara individu, para petani benar-benar terdampak pandemi Covid-19. "Terus bergerak, nggak ada hentinya," ungkapnya.
Sementara itu, salah satu petani di Bondowoso, Suprapto, menerangkan, selain padi, terdapat beberapa tanaman alternatif yang bisa dikerjakan petani. Yakni jagung, ketela rambat, dan singkong. Tapi, masalahnya terletak pada harga yang membuat petani tidak tertarik. "Karena kondisi pasar naik turun sesuai kebutuhan. Di saat pasar butuh, harga tinggi. Saat pasar nggak butuh, harganya nggak karuan," bebernya.
Diakuinya, di masa pandemi sulit bagi petani untuk mencari alternatif selain jagung dan padi. Apalagi jagung, di samping bisa dimakan untuk masyarakat juga bisa untuk pakan ternak.
Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Dokumentasi Radar Ijen
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri