alexametrics
28.3 C
Jember
Saturday, 22 January 2022

Kesempatan, Lindungi Petani Tembakau

Di Balik Deklarasi JKCI yang Dihadiri Sejumlah Negara

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mayoritas warga di Jember bekerja sebagai petani. Sebagian besar fokus menanam tembakau. Hal ini membuat Jember menjadi kota penghasil tembakau dengan kualitas unggul dan kuantitas luar biasa. Melalui, deklarasi Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) yang dihelat Jumat (26/11) hingga berakhir hari (28/11) ini, diharapkan menjadi kesempatan emas guna memberi perlindungan lebih terhadap petani tembakau.

Bupati Jember Hendy Siswanto menjelaskan, deklarasi JKCI oleh Pemkab Jember bersama PT BIN Cigar Jember dihadiri empat Negara sahabat yang diwakili kedutaan besarnya. Selain itu, ada 12 pengusaha yang jatuh hati pada keunggulan tembakau Jember.

Dikatakan, melalui kesempatan tersebut, Pemkab Jember juga melakukan kerjasama untuk menumbuhkan sejumlah bidang usaha yang lain. Bukan saja urusan pertembakauan, tetapi juga di bidang UMKM. “(Kami, Red) kontrak dengan beberapa negara, dengan UMKM juga,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurutnya, cerutu Jember telah dikenal oleh banyak negara luar. Selain itu, semakin tembakau dikenal pesat, maka akan memberi efek positif pada usaha lain. “Seperti ecoprint, kopi robusta, handicraft yang ada di Balung, itu mengikuti,” papar Hendy. Produk-produk lokal bikinan warga Jember pun dapat dipasarkan hingga ke luar negeri.

Komisaris Utama BIN Cigar, Febrian Kahar menyampaikan, potensi Jember luar biasa dan akan dikuatkan. “Sesuai harapan presiden, harus produk jadi yang keluar dari daerah,” jelasnya.

Febrian juga menyebut, pihaknya menggandeng sejumlah UMKM yang ada di Jember. Melalui kesempatan itu, ada hal lain yang diutamakan yaitu menumbuhkan UMKM Jember. “(Ada, Red) dua yang diutamakan, JKCI dan dan bagaimana menjual seluruh produk Jember ke dunia,” paparnya.

Lebih jauh, Febrian menyebut, Indonesia sudah cukup lama menjual bahan mentah, termasuk tembakau. Untuk itu, ke depan harus berupa produk jadi. “Kalau kita jual bahan baku saja, petani kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Harga juga akan terus naik turun, ini menuju proses,” cetusnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mayoritas warga di Jember bekerja sebagai petani. Sebagian besar fokus menanam tembakau. Hal ini membuat Jember menjadi kota penghasil tembakau dengan kualitas unggul dan kuantitas luar biasa. Melalui, deklarasi Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) yang dihelat Jumat (26/11) hingga berakhir hari (28/11) ini, diharapkan menjadi kesempatan emas guna memberi perlindungan lebih terhadap petani tembakau.

Bupati Jember Hendy Siswanto menjelaskan, deklarasi JKCI oleh Pemkab Jember bersama PT BIN Cigar Jember dihadiri empat Negara sahabat yang diwakili kedutaan besarnya. Selain itu, ada 12 pengusaha yang jatuh hati pada keunggulan tembakau Jember.

Dikatakan, melalui kesempatan tersebut, Pemkab Jember juga melakukan kerjasama untuk menumbuhkan sejumlah bidang usaha yang lain. Bukan saja urusan pertembakauan, tetapi juga di bidang UMKM. “(Kami, Red) kontrak dengan beberapa negara, dengan UMKM juga,” katanya.

Menurutnya, cerutu Jember telah dikenal oleh banyak negara luar. Selain itu, semakin tembakau dikenal pesat, maka akan memberi efek positif pada usaha lain. “Seperti ecoprint, kopi robusta, handicraft yang ada di Balung, itu mengikuti,” papar Hendy. Produk-produk lokal bikinan warga Jember pun dapat dipasarkan hingga ke luar negeri.

Komisaris Utama BIN Cigar, Febrian Kahar menyampaikan, potensi Jember luar biasa dan akan dikuatkan. “Sesuai harapan presiden, harus produk jadi yang keluar dari daerah,” jelasnya.

Febrian juga menyebut, pihaknya menggandeng sejumlah UMKM yang ada di Jember. Melalui kesempatan itu, ada hal lain yang diutamakan yaitu menumbuhkan UMKM Jember. “(Ada, Red) dua yang diutamakan, JKCI dan dan bagaimana menjual seluruh produk Jember ke dunia,” paparnya.

Lebih jauh, Febrian menyebut, Indonesia sudah cukup lama menjual bahan mentah, termasuk tembakau. Untuk itu, ke depan harus berupa produk jadi. “Kalau kita jual bahan baku saja, petani kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Harga juga akan terus naik turun, ini menuju proses,” cetusnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mayoritas warga di Jember bekerja sebagai petani. Sebagian besar fokus menanam tembakau. Hal ini membuat Jember menjadi kota penghasil tembakau dengan kualitas unggul dan kuantitas luar biasa. Melalui, deklarasi Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) yang dihelat Jumat (26/11) hingga berakhir hari (28/11) ini, diharapkan menjadi kesempatan emas guna memberi perlindungan lebih terhadap petani tembakau.

Bupati Jember Hendy Siswanto menjelaskan, deklarasi JKCI oleh Pemkab Jember bersama PT BIN Cigar Jember dihadiri empat Negara sahabat yang diwakili kedutaan besarnya. Selain itu, ada 12 pengusaha yang jatuh hati pada keunggulan tembakau Jember.

Dikatakan, melalui kesempatan tersebut, Pemkab Jember juga melakukan kerjasama untuk menumbuhkan sejumlah bidang usaha yang lain. Bukan saja urusan pertembakauan, tetapi juga di bidang UMKM. “(Kami, Red) kontrak dengan beberapa negara, dengan UMKM juga,” katanya.

Menurutnya, cerutu Jember telah dikenal oleh banyak negara luar. Selain itu, semakin tembakau dikenal pesat, maka akan memberi efek positif pada usaha lain. “Seperti ecoprint, kopi robusta, handicraft yang ada di Balung, itu mengikuti,” papar Hendy. Produk-produk lokal bikinan warga Jember pun dapat dipasarkan hingga ke luar negeri.

Komisaris Utama BIN Cigar, Febrian Kahar menyampaikan, potensi Jember luar biasa dan akan dikuatkan. “Sesuai harapan presiden, harus produk jadi yang keluar dari daerah,” jelasnya.

Febrian juga menyebut, pihaknya menggandeng sejumlah UMKM yang ada di Jember. Melalui kesempatan itu, ada hal lain yang diutamakan yaitu menumbuhkan UMKM Jember. “(Ada, Red) dua yang diutamakan, JKCI dan dan bagaimana menjual seluruh produk Jember ke dunia,” paparnya.

Lebih jauh, Febrian menyebut, Indonesia sudah cukup lama menjual bahan mentah, termasuk tembakau. Untuk itu, ke depan harus berupa produk jadi. “Kalau kita jual bahan baku saja, petani kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Harga juga akan terus naik turun, ini menuju proses,” cetusnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca