Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kenal Lebih Dekat Dengan Ijen Geopark

Safitri • Senin, 27 September 2021 | 16:31 WIB
LANGSUNG KUNJUNGAN: Sejumlah siswa SMA Pujer ketika mengunjungi Situs Budaya Megalitikum Maskuning Kulon di Desa Maskuning Kulon, Kecamatan Pujer. Di sana mereka mempelajari banyak hal mengenai budaya, tradisi, sejarah, dan kebiasaan warga.
LANGSUNG KUNJUNGAN: Sejumlah siswa SMA Pujer ketika mengunjungi Situs Budaya Megalitikum Maskuning Kulon di Desa Maskuning Kulon, Kecamatan Pujer. Di sana mereka mempelajari banyak hal mengenai budaya, tradisi, sejarah, dan kebiasaan warga.
BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Ijen Geopark terus disosialisasikan kepada pelajar. Mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Salah satunya sejumlah siswa SMA Pujer. Edukasi mengenai situs-situs Ijen Geopark pun terus dilakukan agar siswa yang ada di Bondowoso mengenal lebih dekat apa dan bagaimana Ijen Geopark itu sendiri.

Beberapa hari lalu, sejumlah siswa SMA Pujer mengunjungi salah satu situs Ijen Geopark di Desa Maskuning Kulon, Kecamatan Pujer. Yakni Situs Budaya Megalitikum Maskuning Kulon. Berupa batu-batu megalitikum yang tersebar di satu wilayah desa.

“Di sini siswa dan guru tidak hanya mempelajari tentang ragam batu megalitikum  yang berjumlah 58 titik batu, dan terdapat 1 kubur dolmen terbesar se-Jawa Timur. Tetapi juga orientasi batu megalitikum ini di Maskuning Kulon menghadap arah ke Ijen purba,” ujar Tantri Raras, tim ahli budaya Ijen Geopark.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, siswa tidak hanya belajar mengenai peradaban prasejarah. Tetapi, juga belajar berbagai identifikasi budaya lokal di Desa Maskuning Kulon. “Yang pada kegiatan ini dilakukan di Padepokan Nyi Surti sebagai wadah indigenous people dengan menunjukkan berbagai macam kuliner tradisional keseharian warga Maskuning Kulon. Serta edukasi tentang ragam budaya lokal yang sudah ada di Maskuning Kulon, seperti ronjengan, mamaca, burdah, musik tongtong,” jelas dia kepada Jawa Pos Radar Ijen.

“Di Maskuning Kulon pula siswa dan guru yang datang dapat belajar bagaimana kehidupan keseharian warga memasak menggunakan alat masak tomang yang masih sangat tradisional. Sehingga output dari kegiatan edukasi ini, siswa tetap dapat mempertahankan budaya asli Bondowoso,” pungkas Tantri.

 

 

Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Safitri
#sejarah #Ijen #Bondowoso