alexametrics
24.8 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Bondowoso Republik Kopi (BRK) Kembali Lagi!

Pembinaan Pelaku Kopi di Hulu dan Hilir

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kopi Bondowoso diketahui sudah punya nama di Indonesia, bahkan di mancanegara. Pada 2013 silam, kopi Ijen Raung mengantongi sertifikat dari Kementerian Hukum dan HAM dengan nama “Klaster Kopi Arabica Java Ijen Raung”.

Tahun 2020, kawasan lereng Argopuro juga mengantongi sertifikat melalui “Klaster Arabica Hyang Argopuro”. Total lahan kebun kopi di Bondowoso mencapai 13.649 hektare. Adapun brand BRK sudah memiliki hak kekayaan intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM. Namun di lapangan, berdasarkan pengakuan petani, selama ini tak ada pembinaan. Khususnya dalam dua tahun terakhir.

Pembinaan SDM pelaku kopi, baik yang berada di hulu ataupun hilir, menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan pemkab jika ingin membuat Bondowoso Republik Kopi (BRK) kembali bersinar. Oleh sebab itu, wacana tersebut tentu harus dibarengi langkah konkret untuk meningkatkan perkopian di Bumi Ki Ronggo.

Mobile_AP_Rectangle 2

Terlebih, mengingat dalam kepemimpinan Bupati Salwa-Irwan, perhatian terhadap sektor perkopian nyaris tidak ada sama sekali. Bahkan di awal pemerintahannya brand BRK sempat tidak muncul dalam acara Festival Kopi Nusantara (FKN).

Tapi, beberapa waktu terakhir, Pemkab Bondowoso melalui Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) menyiapkan gelaran Kopi Rakyat yang akan diselenggarakan awal Oktober mendatang. Hal itu sebagai langkah awal reaktivasi BRK.

Salah seorang pengamat ekonomi Universitas Jember, Dr Fathorrazi, mengatakan, rencana Pemkab Bondowoso itu harus disokong dengan pembinaan terhadap pelaku usaha kopi di hulu dan hilir. Mulai dari petani, pemilik kafe, dan seterusnya.

Menurut dia, untuk menjaga kualitas dan jumlah produksi kopi di Bondowoso, petani harus terus dibina agar tetap sesuai standard operating procedure (SOP). “Jadi, off farm dan on farm atau sebelum dan pascapanen harus juga diperhatikan,” jelasnya.

Sementara itu, berdasarkan data Koperasi Petani Kopi Rejo Tani, saat ini total ada 44 kelompok tani. Dari total tersebut sudah ada 25 kelompok tani yang mempunyai unit pengolahan hasil (UPH) hilir. Seperti usaha bubuk kopi, kafe, dan semacamnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kopi Bondowoso diketahui sudah punya nama di Indonesia, bahkan di mancanegara. Pada 2013 silam, kopi Ijen Raung mengantongi sertifikat dari Kementerian Hukum dan HAM dengan nama “Klaster Kopi Arabica Java Ijen Raung”.

Tahun 2020, kawasan lereng Argopuro juga mengantongi sertifikat melalui “Klaster Arabica Hyang Argopuro”. Total lahan kebun kopi di Bondowoso mencapai 13.649 hektare. Adapun brand BRK sudah memiliki hak kekayaan intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM. Namun di lapangan, berdasarkan pengakuan petani, selama ini tak ada pembinaan. Khususnya dalam dua tahun terakhir.

Pembinaan SDM pelaku kopi, baik yang berada di hulu ataupun hilir, menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan pemkab jika ingin membuat Bondowoso Republik Kopi (BRK) kembali bersinar. Oleh sebab itu, wacana tersebut tentu harus dibarengi langkah konkret untuk meningkatkan perkopian di Bumi Ki Ronggo.

Terlebih, mengingat dalam kepemimpinan Bupati Salwa-Irwan, perhatian terhadap sektor perkopian nyaris tidak ada sama sekali. Bahkan di awal pemerintahannya brand BRK sempat tidak muncul dalam acara Festival Kopi Nusantara (FKN).

Tapi, beberapa waktu terakhir, Pemkab Bondowoso melalui Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) menyiapkan gelaran Kopi Rakyat yang akan diselenggarakan awal Oktober mendatang. Hal itu sebagai langkah awal reaktivasi BRK.

Salah seorang pengamat ekonomi Universitas Jember, Dr Fathorrazi, mengatakan, rencana Pemkab Bondowoso itu harus disokong dengan pembinaan terhadap pelaku usaha kopi di hulu dan hilir. Mulai dari petani, pemilik kafe, dan seterusnya.

Menurut dia, untuk menjaga kualitas dan jumlah produksi kopi di Bondowoso, petani harus terus dibina agar tetap sesuai standard operating procedure (SOP). “Jadi, off farm dan on farm atau sebelum dan pascapanen harus juga diperhatikan,” jelasnya.

Sementara itu, berdasarkan data Koperasi Petani Kopi Rejo Tani, saat ini total ada 44 kelompok tani. Dari total tersebut sudah ada 25 kelompok tani yang mempunyai unit pengolahan hasil (UPH) hilir. Seperti usaha bubuk kopi, kafe, dan semacamnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kopi Bondowoso diketahui sudah punya nama di Indonesia, bahkan di mancanegara. Pada 2013 silam, kopi Ijen Raung mengantongi sertifikat dari Kementerian Hukum dan HAM dengan nama “Klaster Kopi Arabica Java Ijen Raung”.

Tahun 2020, kawasan lereng Argopuro juga mengantongi sertifikat melalui “Klaster Arabica Hyang Argopuro”. Total lahan kebun kopi di Bondowoso mencapai 13.649 hektare. Adapun brand BRK sudah memiliki hak kekayaan intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM. Namun di lapangan, berdasarkan pengakuan petani, selama ini tak ada pembinaan. Khususnya dalam dua tahun terakhir.

Pembinaan SDM pelaku kopi, baik yang berada di hulu ataupun hilir, menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan pemkab jika ingin membuat Bondowoso Republik Kopi (BRK) kembali bersinar. Oleh sebab itu, wacana tersebut tentu harus dibarengi langkah konkret untuk meningkatkan perkopian di Bumi Ki Ronggo.

Terlebih, mengingat dalam kepemimpinan Bupati Salwa-Irwan, perhatian terhadap sektor perkopian nyaris tidak ada sama sekali. Bahkan di awal pemerintahannya brand BRK sempat tidak muncul dalam acara Festival Kopi Nusantara (FKN).

Tapi, beberapa waktu terakhir, Pemkab Bondowoso melalui Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) menyiapkan gelaran Kopi Rakyat yang akan diselenggarakan awal Oktober mendatang. Hal itu sebagai langkah awal reaktivasi BRK.

Salah seorang pengamat ekonomi Universitas Jember, Dr Fathorrazi, mengatakan, rencana Pemkab Bondowoso itu harus disokong dengan pembinaan terhadap pelaku usaha kopi di hulu dan hilir. Mulai dari petani, pemilik kafe, dan seterusnya.

Menurut dia, untuk menjaga kualitas dan jumlah produksi kopi di Bondowoso, petani harus terus dibina agar tetap sesuai standard operating procedure (SOP). “Jadi, off farm dan on farm atau sebelum dan pascapanen harus juga diperhatikan,” jelasnya.

Sementara itu, berdasarkan data Koperasi Petani Kopi Rejo Tani, saat ini total ada 44 kelompok tani. Dari total tersebut sudah ada 25 kelompok tani yang mempunyai unit pengolahan hasil (UPH) hilir. Seperti usaha bubuk kopi, kafe, dan semacamnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/