Di tengah rintik hujan, pria yang akrab disapa Kelik ini memainkan sape di teras rumahnya. Dia memainkan lagu-lagu tradisional khas Kalimantan di sekitar deretan rumah warga, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember.
Di tengah perkembangan zaman inilah, sape tidak terbatas pada permainan musik tradisional, melainkan masuk pada kombinasi musik modern. Sape yang dipegangnya bahkan pernah mengharumkan nama Jember bersama Lingkar Kreatif Independen (Linkrafin).
Bermain sape, menurutnya, harus menjiwai. Keberadaan alat musik tersebut lebih banyak mengandalkan permainan cengkok yang menghasilkan suara mendayu-dayu. "Andalan sape adalah suara cengkoknya. Ini yang membuat berbeda dengan yang lain," tuturnya.
Saat bergabung bersama Linkrafin, Kelik menyebut, hal paling sulit untuk dilakukan yaitu kombinasi antara musik tradisional dengan modern. Di mana sape merupakan alat musik khas yang dulunya hanya dipakai oleh etnis suku Dayak. "Dulu senarnya dua, sekarang empat," cetusnya.
Nah, alunan sape ketika dibarengkan dengan gitar akustik atau sejenis alat musik petik lain akan tetap menghasilkan suara yang berbeda. Alunan sape bisa dibilang ada pada relung jiwa yang sangat dalam. Suara yang dihasilkan menyentuh hingga menembus tulang dan hati. "Kalau belajar ini tidak menjiwai, maka akan sulit. Karena andalan sape adalah suaranya yang menyentuh jiwa," tuturnya.
Jurnalis: Nur Hariri
Fotografer: Dwi Siswanto
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Maulana Ijal