alexametrics
32 C
Jember
Thursday, 23 September 2021
spot_imgspot_img

LINKRAFIN, Berprestasi dengan Mengenalkan Kembali Musik ini

Mobile_AP_Rectangle 1

PATRANG, RADARJEMBER.ID – Belum selesai euforia atas kemenangannya sebagai juara satu dan juara favorit dalam lomba Kamu Aku Kita Indonesia yang digelar oleh Kemenparekraf RI sekitar akhir Mei lalu, Lingkar Kreatif Independen (Linkrafin) kembali mendapat predikat karya rekam audio terbaik dalam Pekan Penghargaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) 2021, Jumat (10/9) kemarin. Kali ini mereka membawakan lagu berjudul Terra Pajjer Poteh Temor. Lagu tersebut memiliki esensi yang sangat dalam dengan alunan musik patrol dan glundengan.

Menurut Rizky Kumala Permadi, salah satu anggota Linkrafin Jember, lagu tersebut sengaja dibuat dengan musik tradisional yang merupakan khas Kabupaten Jember. Patrol yang memang familier dipadukan dengan glundengan, yang terbilang asing di telinga masyarakat, ditambah dengan lirik kejung karya Jamhari, yang awalnya seorang pengamen di Pasar Tanjung Jember. “Secara lirik dan musik kami olah bareng-bareng. Karena kami belum punya lagu yang benar-benar etnik, nah, kami ketemu Pak Jamhari dan tercetuslah itu,” katanya.

Salah satu tujuan menggunakan musik glundengan, lanjut dia, juga karena musik tersebut jarang diketahui masyarakat Jember. Linkrafin ingin mengangkat dan mengenalkan kembali musik-musik tradisional yang mulai jarang dimainkan oleh anak muda saat ini. “Kami coba komposisikan dengan musik tradisional. Kami tarik benang merahnya, dan ternyata glundengan ini memang jarang diketahui masyarakat. Jadi, kami gunakan glundengan ini akhirnya,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Musik glundengan sendiri merupakan musik tradisional di Jember yang menggunakan toktokan burung dara. Musik ini merupakan salah satu bukti adaptasi masyarakat suku Madura yang bermigrasi ke Jember. Bentuk alat musiknya seperti gamelan, namun terbuat dari kayu. “Eksistensinya sangat jarang, dan yang punya juga agak jarang. Hanya ada di beberapa tempat, dan itu mayoritas dimiliki orang-orang suku Madura,” ungkap lelaki yang kerap disapa Kelix itu.

Seperti biasa, lagu-lagu karya sekumpulan seniman kreatif ini selalu berdasarkan riset dan fenomena yang ada di Jember. Termasuk lagu Terra Pajjer Poteh Temor yang artinya sinar matahari pagi di timur. Timur di sini berarti letak kota Jember yang berada di sisi timur Pulau Jawa. “Timur itu artinya kita, sebuah lembah. Selama ini, timur itu dikenal sebagai daerah Papua dan lain-lain. Atau timur Jawa itu yang sering disebut adalah Banyuwangi. Padahal, ya, kita juga ada di ujung timur Pulau Jawa,” terang alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) ini.

- Advertisement -

PATRANG, RADARJEMBER.ID – Belum selesai euforia atas kemenangannya sebagai juara satu dan juara favorit dalam lomba Kamu Aku Kita Indonesia yang digelar oleh Kemenparekraf RI sekitar akhir Mei lalu, Lingkar Kreatif Independen (Linkrafin) kembali mendapat predikat karya rekam audio terbaik dalam Pekan Penghargaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) 2021, Jumat (10/9) kemarin. Kali ini mereka membawakan lagu berjudul Terra Pajjer Poteh Temor. Lagu tersebut memiliki esensi yang sangat dalam dengan alunan musik patrol dan glundengan.

Menurut Rizky Kumala Permadi, salah satu anggota Linkrafin Jember, lagu tersebut sengaja dibuat dengan musik tradisional yang merupakan khas Kabupaten Jember. Patrol yang memang familier dipadukan dengan glundengan, yang terbilang asing di telinga masyarakat, ditambah dengan lirik kejung karya Jamhari, yang awalnya seorang pengamen di Pasar Tanjung Jember. “Secara lirik dan musik kami olah bareng-bareng. Karena kami belum punya lagu yang benar-benar etnik, nah, kami ketemu Pak Jamhari dan tercetuslah itu,” katanya.

Salah satu tujuan menggunakan musik glundengan, lanjut dia, juga karena musik tersebut jarang diketahui masyarakat Jember. Linkrafin ingin mengangkat dan mengenalkan kembali musik-musik tradisional yang mulai jarang dimainkan oleh anak muda saat ini. “Kami coba komposisikan dengan musik tradisional. Kami tarik benang merahnya, dan ternyata glundengan ini memang jarang diketahui masyarakat. Jadi, kami gunakan glundengan ini akhirnya,” imbuhnya.

Musik glundengan sendiri merupakan musik tradisional di Jember yang menggunakan toktokan burung dara. Musik ini merupakan salah satu bukti adaptasi masyarakat suku Madura yang bermigrasi ke Jember. Bentuk alat musiknya seperti gamelan, namun terbuat dari kayu. “Eksistensinya sangat jarang, dan yang punya juga agak jarang. Hanya ada di beberapa tempat, dan itu mayoritas dimiliki orang-orang suku Madura,” ungkap lelaki yang kerap disapa Kelix itu.

Seperti biasa, lagu-lagu karya sekumpulan seniman kreatif ini selalu berdasarkan riset dan fenomena yang ada di Jember. Termasuk lagu Terra Pajjer Poteh Temor yang artinya sinar matahari pagi di timur. Timur di sini berarti letak kota Jember yang berada di sisi timur Pulau Jawa. “Timur itu artinya kita, sebuah lembah. Selama ini, timur itu dikenal sebagai daerah Papua dan lain-lain. Atau timur Jawa itu yang sering disebut adalah Banyuwangi. Padahal, ya, kita juga ada di ujung timur Pulau Jawa,” terang alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) ini.

PATRANG, RADARJEMBER.ID – Belum selesai euforia atas kemenangannya sebagai juara satu dan juara favorit dalam lomba Kamu Aku Kita Indonesia yang digelar oleh Kemenparekraf RI sekitar akhir Mei lalu, Lingkar Kreatif Independen (Linkrafin) kembali mendapat predikat karya rekam audio terbaik dalam Pekan Penghargaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) 2021, Jumat (10/9) kemarin. Kali ini mereka membawakan lagu berjudul Terra Pajjer Poteh Temor. Lagu tersebut memiliki esensi yang sangat dalam dengan alunan musik patrol dan glundengan.

Menurut Rizky Kumala Permadi, salah satu anggota Linkrafin Jember, lagu tersebut sengaja dibuat dengan musik tradisional yang merupakan khas Kabupaten Jember. Patrol yang memang familier dipadukan dengan glundengan, yang terbilang asing di telinga masyarakat, ditambah dengan lirik kejung karya Jamhari, yang awalnya seorang pengamen di Pasar Tanjung Jember. “Secara lirik dan musik kami olah bareng-bareng. Karena kami belum punya lagu yang benar-benar etnik, nah, kami ketemu Pak Jamhari dan tercetuslah itu,” katanya.

Salah satu tujuan menggunakan musik glundengan, lanjut dia, juga karena musik tersebut jarang diketahui masyarakat Jember. Linkrafin ingin mengangkat dan mengenalkan kembali musik-musik tradisional yang mulai jarang dimainkan oleh anak muda saat ini. “Kami coba komposisikan dengan musik tradisional. Kami tarik benang merahnya, dan ternyata glundengan ini memang jarang diketahui masyarakat. Jadi, kami gunakan glundengan ini akhirnya,” imbuhnya.

Musik glundengan sendiri merupakan musik tradisional di Jember yang menggunakan toktokan burung dara. Musik ini merupakan salah satu bukti adaptasi masyarakat suku Madura yang bermigrasi ke Jember. Bentuk alat musiknya seperti gamelan, namun terbuat dari kayu. “Eksistensinya sangat jarang, dan yang punya juga agak jarang. Hanya ada di beberapa tempat, dan itu mayoritas dimiliki orang-orang suku Madura,” ungkap lelaki yang kerap disapa Kelix itu.

Seperti biasa, lagu-lagu karya sekumpulan seniman kreatif ini selalu berdasarkan riset dan fenomena yang ada di Jember. Termasuk lagu Terra Pajjer Poteh Temor yang artinya sinar matahari pagi di timur. Timur di sini berarti letak kota Jember yang berada di sisi timur Pulau Jawa. “Timur itu artinya kita, sebuah lembah. Selama ini, timur itu dikenal sebagai daerah Papua dan lain-lain. Atau timur Jawa itu yang sering disebut adalah Banyuwangi. Padahal, ya, kita juga ada di ujung timur Pulau Jawa,” terang alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) ini.


BERITA TERKINI

Wajib Dibaca