alexametrics
26.5 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Jember Butuh Relawan Nakes Segera

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kebutuhan nakes cadangan memang sudah mendesak. Harus segera ada rekrutmen relawan agar mereka bisa segera diterjunkan. Apalagi, Pemkab Jember sudah menyiapkan dua tempat isolasi terpusat (isoter) bagi warga yang terpapar Covid-19. Dua lokasi itu adalah Hotel Kebon Agung di Kecamatan Kaliwates dan Stadion Jember Sport Garden (JSG) di Kecamatan Ajung. Pengaktifan tempat isoter ini tentu saja memerlukan tambahan nakes untuk melayani pasien.

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember dr Wiwik Supartiwi mengatakan, untuk mengatasi bila ada gejolak luar biasa kasus positif Covid-19 di Jember, ada beberapa upaya yang dilakukan. Selain mengaktifkan tempat isoter di Hotel Kebon Agung dan Stadion JSG, pemerintah juga berupaya untuk kembali mengaktifkan tenda darurat di Rumah Sakit Paru.

“Karena RS Paru juga rujukan Covid-19 dan milik Pemprov Jatim, maka kami ingin dua tenda darurat tersebut aktif,” ucapnya. Namun, kata dia, saat koordinasi dengan pihak RS Paru, mereka kekurangan nakes. Karena itu Dinkes menyanggupi akan membantu mencarikan relawan nakes tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pihaknya telah meminta bantuan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait kebutuhan relawan nakes. Selain itu, juga telah berkoordinasi dengan Politeknik Kesehatan (Poltekes) Malang. Kampus kesehatan ini disebutnya siap untuk membantu nakes yang akan diterjunkan sebagai relawan di Jember.

Tak hanya itu, Wiwik mengungkapkan, pihaknya juga telah koordinasi dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jember dan beberapa sekolah kesehatan di Jember. Seperti akademi kebidanan (akbid) maupun sekolah tinggi ilmu kesehatan (stikes). “Ternyata permintaan tenaga kesehatan di sekolah kesehatan di Jember tidak hanya dari Jember saja. Tapi juga luar kabupaten. Jadi, daerah lain juga meminta,” jelasnya.

Selain itu, Dinkes juga berupaya agar 48 dokter yang baru lulus dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Jember (Unej) mau melakukan internship di Jember. “Kami sudah minta ke Dekan FK Unej. Ini agar membantu pelayanan kesehatan, terutama dalam upaya penurunan korona,” terangnya.

Saat ini, dokter yang baru lulus tersebut telah dilakukan seleksi. Bahkan, sudah diusulkan ke Kemenkes. Namun, dari 48 jumlah lulusan dokter tersebut, tidak semuanya mau untuk internship di Jember. Dia juga belum bisa menyebut angka pasti berapa jumlah dokter yang bersedia internship di Kota Pesantren ini. “Rata-rata yang mau adalah yang bertempat tinggal di Jember,” ucapnya.

Dalam rapat koordinasi di Ruang Paripurna DPRD Jember, 27 Juli lalu, terungkap bahwa kebutuhan penambahan jumlah nakes sebagai antisipasi lonjakan Covid-19 memang sangat diperlukan. Wiwik memiliki ide agar pendaftar nakes pada rekrutmen CPNS itu bisa lebih dahulu dijadikan relawan. Artinya, tim verifikasi dari Badan Kepegawaian Nasional (BKN) bisa memilah siapa saja pelamar yang belum bekerja. Sehingga, terlebih dahulu bisa membantu jadi relawan nakes di Jember.

Pada laporan dr Wiwik ke DPRD Jember pada 27 Juli tersebut, dari total pegawai Dinkes, yaitu 1.200 pegawai, tercatat pada Juli kemarin ada 388 pegawai yang terpapar Covid-19. Jumlah ini hampir sepertiga dari seluruh pegawai yang ada. Oleh karena itu, rekrutmen tenaga atau relawan kesehatan itu sangat mendesak agar pelayanan kesehatan dan upaya penanganan pandemi korona tidak sampai keteteran.

Apa yang terungkap ini jelas bertentangan dengan klaim BKPSDM yang menyebut jumlah nakes di Jember mencukupi. Hal tersebut juga menandakan bahwa perencanaan dan pemetaan kebutuhan pegawai kesehatan di Jember amburadul. Di sisi lain, sinergisitas antara dinas yang membidangi kesehatan dengan organisasi perangkat daerah (OPD) yang menggawangi kepegawaian tidak terjalin secara baik.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kebutuhan nakes cadangan memang sudah mendesak. Harus segera ada rekrutmen relawan agar mereka bisa segera diterjunkan. Apalagi, Pemkab Jember sudah menyiapkan dua tempat isolasi terpusat (isoter) bagi warga yang terpapar Covid-19. Dua lokasi itu adalah Hotel Kebon Agung di Kecamatan Kaliwates dan Stadion Jember Sport Garden (JSG) di Kecamatan Ajung. Pengaktifan tempat isoter ini tentu saja memerlukan tambahan nakes untuk melayani pasien.

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember dr Wiwik Supartiwi mengatakan, untuk mengatasi bila ada gejolak luar biasa kasus positif Covid-19 di Jember, ada beberapa upaya yang dilakukan. Selain mengaktifkan tempat isoter di Hotel Kebon Agung dan Stadion JSG, pemerintah juga berupaya untuk kembali mengaktifkan tenda darurat di Rumah Sakit Paru.

“Karena RS Paru juga rujukan Covid-19 dan milik Pemprov Jatim, maka kami ingin dua tenda darurat tersebut aktif,” ucapnya. Namun, kata dia, saat koordinasi dengan pihak RS Paru, mereka kekurangan nakes. Karena itu Dinkes menyanggupi akan membantu mencarikan relawan nakes tersebut.

Pihaknya telah meminta bantuan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait kebutuhan relawan nakes. Selain itu, juga telah berkoordinasi dengan Politeknik Kesehatan (Poltekes) Malang. Kampus kesehatan ini disebutnya siap untuk membantu nakes yang akan diterjunkan sebagai relawan di Jember.

Tak hanya itu, Wiwik mengungkapkan, pihaknya juga telah koordinasi dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jember dan beberapa sekolah kesehatan di Jember. Seperti akademi kebidanan (akbid) maupun sekolah tinggi ilmu kesehatan (stikes). “Ternyata permintaan tenaga kesehatan di sekolah kesehatan di Jember tidak hanya dari Jember saja. Tapi juga luar kabupaten. Jadi, daerah lain juga meminta,” jelasnya.

Selain itu, Dinkes juga berupaya agar 48 dokter yang baru lulus dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Jember (Unej) mau melakukan internship di Jember. “Kami sudah minta ke Dekan FK Unej. Ini agar membantu pelayanan kesehatan, terutama dalam upaya penurunan korona,” terangnya.

Saat ini, dokter yang baru lulus tersebut telah dilakukan seleksi. Bahkan, sudah diusulkan ke Kemenkes. Namun, dari 48 jumlah lulusan dokter tersebut, tidak semuanya mau untuk internship di Jember. Dia juga belum bisa menyebut angka pasti berapa jumlah dokter yang bersedia internship di Kota Pesantren ini. “Rata-rata yang mau adalah yang bertempat tinggal di Jember,” ucapnya.

Dalam rapat koordinasi di Ruang Paripurna DPRD Jember, 27 Juli lalu, terungkap bahwa kebutuhan penambahan jumlah nakes sebagai antisipasi lonjakan Covid-19 memang sangat diperlukan. Wiwik memiliki ide agar pendaftar nakes pada rekrutmen CPNS itu bisa lebih dahulu dijadikan relawan. Artinya, tim verifikasi dari Badan Kepegawaian Nasional (BKN) bisa memilah siapa saja pelamar yang belum bekerja. Sehingga, terlebih dahulu bisa membantu jadi relawan nakes di Jember.

Pada laporan dr Wiwik ke DPRD Jember pada 27 Juli tersebut, dari total pegawai Dinkes, yaitu 1.200 pegawai, tercatat pada Juli kemarin ada 388 pegawai yang terpapar Covid-19. Jumlah ini hampir sepertiga dari seluruh pegawai yang ada. Oleh karena itu, rekrutmen tenaga atau relawan kesehatan itu sangat mendesak agar pelayanan kesehatan dan upaya penanganan pandemi korona tidak sampai keteteran.

Apa yang terungkap ini jelas bertentangan dengan klaim BKPSDM yang menyebut jumlah nakes di Jember mencukupi. Hal tersebut juga menandakan bahwa perencanaan dan pemetaan kebutuhan pegawai kesehatan di Jember amburadul. Di sisi lain, sinergisitas antara dinas yang membidangi kesehatan dengan organisasi perangkat daerah (OPD) yang menggawangi kepegawaian tidak terjalin secara baik.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kebutuhan nakes cadangan memang sudah mendesak. Harus segera ada rekrutmen relawan agar mereka bisa segera diterjunkan. Apalagi, Pemkab Jember sudah menyiapkan dua tempat isolasi terpusat (isoter) bagi warga yang terpapar Covid-19. Dua lokasi itu adalah Hotel Kebon Agung di Kecamatan Kaliwates dan Stadion Jember Sport Garden (JSG) di Kecamatan Ajung. Pengaktifan tempat isoter ini tentu saja memerlukan tambahan nakes untuk melayani pasien.

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember dr Wiwik Supartiwi mengatakan, untuk mengatasi bila ada gejolak luar biasa kasus positif Covid-19 di Jember, ada beberapa upaya yang dilakukan. Selain mengaktifkan tempat isoter di Hotel Kebon Agung dan Stadion JSG, pemerintah juga berupaya untuk kembali mengaktifkan tenda darurat di Rumah Sakit Paru.

“Karena RS Paru juga rujukan Covid-19 dan milik Pemprov Jatim, maka kami ingin dua tenda darurat tersebut aktif,” ucapnya. Namun, kata dia, saat koordinasi dengan pihak RS Paru, mereka kekurangan nakes. Karena itu Dinkes menyanggupi akan membantu mencarikan relawan nakes tersebut.

Pihaknya telah meminta bantuan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait kebutuhan relawan nakes. Selain itu, juga telah berkoordinasi dengan Politeknik Kesehatan (Poltekes) Malang. Kampus kesehatan ini disebutnya siap untuk membantu nakes yang akan diterjunkan sebagai relawan di Jember.

Tak hanya itu, Wiwik mengungkapkan, pihaknya juga telah koordinasi dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jember dan beberapa sekolah kesehatan di Jember. Seperti akademi kebidanan (akbid) maupun sekolah tinggi ilmu kesehatan (stikes). “Ternyata permintaan tenaga kesehatan di sekolah kesehatan di Jember tidak hanya dari Jember saja. Tapi juga luar kabupaten. Jadi, daerah lain juga meminta,” jelasnya.

Selain itu, Dinkes juga berupaya agar 48 dokter yang baru lulus dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Jember (Unej) mau melakukan internship di Jember. “Kami sudah minta ke Dekan FK Unej. Ini agar membantu pelayanan kesehatan, terutama dalam upaya penurunan korona,” terangnya.

Saat ini, dokter yang baru lulus tersebut telah dilakukan seleksi. Bahkan, sudah diusulkan ke Kemenkes. Namun, dari 48 jumlah lulusan dokter tersebut, tidak semuanya mau untuk internship di Jember. Dia juga belum bisa menyebut angka pasti berapa jumlah dokter yang bersedia internship di Kota Pesantren ini. “Rata-rata yang mau adalah yang bertempat tinggal di Jember,” ucapnya.

Dalam rapat koordinasi di Ruang Paripurna DPRD Jember, 27 Juli lalu, terungkap bahwa kebutuhan penambahan jumlah nakes sebagai antisipasi lonjakan Covid-19 memang sangat diperlukan. Wiwik memiliki ide agar pendaftar nakes pada rekrutmen CPNS itu bisa lebih dahulu dijadikan relawan. Artinya, tim verifikasi dari Badan Kepegawaian Nasional (BKN) bisa memilah siapa saja pelamar yang belum bekerja. Sehingga, terlebih dahulu bisa membantu jadi relawan nakes di Jember.

Pada laporan dr Wiwik ke DPRD Jember pada 27 Juli tersebut, dari total pegawai Dinkes, yaitu 1.200 pegawai, tercatat pada Juli kemarin ada 388 pegawai yang terpapar Covid-19. Jumlah ini hampir sepertiga dari seluruh pegawai yang ada. Oleh karena itu, rekrutmen tenaga atau relawan kesehatan itu sangat mendesak agar pelayanan kesehatan dan upaya penanganan pandemi korona tidak sampai keteteran.

Apa yang terungkap ini jelas bertentangan dengan klaim BKPSDM yang menyebut jumlah nakes di Jember mencukupi. Hal tersebut juga menandakan bahwa perencanaan dan pemetaan kebutuhan pegawai kesehatan di Jember amburadul. Di sisi lain, sinergisitas antara dinas yang membidangi kesehatan dengan organisasi perangkat daerah (OPD) yang menggawangi kepegawaian tidak terjalin secara baik.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/