alexametrics
30.5 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

RS Paru Masih Perlu Perbaikan

Wacana Pengaktifan Kembali untuk Pasien Covid-19

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Wacana untuk mengaktifkan kembali Rumah Sakit Paru yang berada di Desa Pancoran, Kecamatan Bondowoso, untuk dijadikan RS rujukan Covid-19 tampaknya belum dapat terealisasi dalam waktu dekat. Hal itu terungkap ketika audiensi Komisi IV DPRD Bondowoso bersama tim Satgas Covid-19 Kabupaten Bondowoso, beberapa waktu lalu

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Bondowoso Ady Kriesna mengaku belum bisa memastikan apakah ada kemungkinan RS Paru dijadikan fasilitas kesehatan rujukan Covid-19. “Beberapa waktu lalu memang kami sempat rapat kerja dengan pihak RSD dr Koesnadi dan Dinas Kesehatan. Kami juga menyarankan membuka kembali RS Paru sebagai salah satu RS rujukan Covid-19,” beber politisi Partai Golkar ini.

Ady menambahkan, pihaknya memberikan saran agar RS Paru digunakan untuk pasien Covid-19 dengan beberapa persyaratan. Seperti pasien bergejala berat. “Atau bisa dijadikan lokasi isolasi mandiri (isoman) terpusat. Hanya saja, barangkali pertimbangan satgas Covid-19 kabupaten berbeda dengan kami. Akhirnya, sementara ini difungsikan terlebih dahulu lima puskesmas menjadi puskesmas rujukan,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lima puskesmas sementara ini yang khusus dijadikan faskes Covid-19 adalah Puskesmas Grujugan, Pujer, Wringin, Prajekan, dan Tamanan. Sedangkan tiga RS yang sudah menjadi rujukan pasien terkonfirmasi Covid-19 di antaranya RSD dr Koesnadi Bondowoso, RS Mitra Medika, dan RS Bhayangkara. “Prinsipnya, kami menginginkan bagaimana caranya agar Satgas Covid-19 Kabupaten Bondowoso dapat mengurai lonjakan pasien Covid-19 agar tidak menumpuk di satu tempat,” imbuh Ady.

Selain itu, sebelumnya satgas sempat mewacanakan untuk menyewa hotel sebagai lokasi isoman terpusat. Namun, salah satunya pertimbangan dengan keterbatasan kamar hotel. Ketika disinggung apakah untuk menyewa hotel atau mengaktifkan kembali RS Paru terkendala anggaran, Ady pun mengatakan bahwa Pemkab Bondowoso harus memanfaatkan anggaran secara efisien. “Kami pikir selama pemerintah sudah punya fasilitas yang bisa digunakan, lebih baik dimanfaatkan terlebih dahulu. Sehingga anggaran itu tidak terbuang untuk menyewa hotel,” paparnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Wacana untuk mengaktifkan kembali Rumah Sakit Paru yang berada di Desa Pancoran, Kecamatan Bondowoso, untuk dijadikan RS rujukan Covid-19 tampaknya belum dapat terealisasi dalam waktu dekat. Hal itu terungkap ketika audiensi Komisi IV DPRD Bondowoso bersama tim Satgas Covid-19 Kabupaten Bondowoso, beberapa waktu lalu

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Bondowoso Ady Kriesna mengaku belum bisa memastikan apakah ada kemungkinan RS Paru dijadikan fasilitas kesehatan rujukan Covid-19. “Beberapa waktu lalu memang kami sempat rapat kerja dengan pihak RSD dr Koesnadi dan Dinas Kesehatan. Kami juga menyarankan membuka kembali RS Paru sebagai salah satu RS rujukan Covid-19,” beber politisi Partai Golkar ini.

Ady menambahkan, pihaknya memberikan saran agar RS Paru digunakan untuk pasien Covid-19 dengan beberapa persyaratan. Seperti pasien bergejala berat. “Atau bisa dijadikan lokasi isolasi mandiri (isoman) terpusat. Hanya saja, barangkali pertimbangan satgas Covid-19 kabupaten berbeda dengan kami. Akhirnya, sementara ini difungsikan terlebih dahulu lima puskesmas menjadi puskesmas rujukan,” ungkapnya.

Lima puskesmas sementara ini yang khusus dijadikan faskes Covid-19 adalah Puskesmas Grujugan, Pujer, Wringin, Prajekan, dan Tamanan. Sedangkan tiga RS yang sudah menjadi rujukan pasien terkonfirmasi Covid-19 di antaranya RSD dr Koesnadi Bondowoso, RS Mitra Medika, dan RS Bhayangkara. “Prinsipnya, kami menginginkan bagaimana caranya agar Satgas Covid-19 Kabupaten Bondowoso dapat mengurai lonjakan pasien Covid-19 agar tidak menumpuk di satu tempat,” imbuh Ady.

Selain itu, sebelumnya satgas sempat mewacanakan untuk menyewa hotel sebagai lokasi isoman terpusat. Namun, salah satunya pertimbangan dengan keterbatasan kamar hotel. Ketika disinggung apakah untuk menyewa hotel atau mengaktifkan kembali RS Paru terkendala anggaran, Ady pun mengatakan bahwa Pemkab Bondowoso harus memanfaatkan anggaran secara efisien. “Kami pikir selama pemerintah sudah punya fasilitas yang bisa digunakan, lebih baik dimanfaatkan terlebih dahulu. Sehingga anggaran itu tidak terbuang untuk menyewa hotel,” paparnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Wacana untuk mengaktifkan kembali Rumah Sakit Paru yang berada di Desa Pancoran, Kecamatan Bondowoso, untuk dijadikan RS rujukan Covid-19 tampaknya belum dapat terealisasi dalam waktu dekat. Hal itu terungkap ketika audiensi Komisi IV DPRD Bondowoso bersama tim Satgas Covid-19 Kabupaten Bondowoso, beberapa waktu lalu

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Bondowoso Ady Kriesna mengaku belum bisa memastikan apakah ada kemungkinan RS Paru dijadikan fasilitas kesehatan rujukan Covid-19. “Beberapa waktu lalu memang kami sempat rapat kerja dengan pihak RSD dr Koesnadi dan Dinas Kesehatan. Kami juga menyarankan membuka kembali RS Paru sebagai salah satu RS rujukan Covid-19,” beber politisi Partai Golkar ini.

Ady menambahkan, pihaknya memberikan saran agar RS Paru digunakan untuk pasien Covid-19 dengan beberapa persyaratan. Seperti pasien bergejala berat. “Atau bisa dijadikan lokasi isolasi mandiri (isoman) terpusat. Hanya saja, barangkali pertimbangan satgas Covid-19 kabupaten berbeda dengan kami. Akhirnya, sementara ini difungsikan terlebih dahulu lima puskesmas menjadi puskesmas rujukan,” ungkapnya.

Lima puskesmas sementara ini yang khusus dijadikan faskes Covid-19 adalah Puskesmas Grujugan, Pujer, Wringin, Prajekan, dan Tamanan. Sedangkan tiga RS yang sudah menjadi rujukan pasien terkonfirmasi Covid-19 di antaranya RSD dr Koesnadi Bondowoso, RS Mitra Medika, dan RS Bhayangkara. “Prinsipnya, kami menginginkan bagaimana caranya agar Satgas Covid-19 Kabupaten Bondowoso dapat mengurai lonjakan pasien Covid-19 agar tidak menumpuk di satu tempat,” imbuh Ady.

Selain itu, sebelumnya satgas sempat mewacanakan untuk menyewa hotel sebagai lokasi isoman terpusat. Namun, salah satunya pertimbangan dengan keterbatasan kamar hotel. Ketika disinggung apakah untuk menyewa hotel atau mengaktifkan kembali RS Paru terkendala anggaran, Ady pun mengatakan bahwa Pemkab Bondowoso harus memanfaatkan anggaran secara efisien. “Kami pikir selama pemerintah sudah punya fasilitas yang bisa digunakan, lebih baik dimanfaatkan terlebih dahulu. Sehingga anggaran itu tidak terbuang untuk menyewa hotel,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/