alexametrics
23.6 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Covid-19 Meningkat, Tenaga Nakes di Jember Terforsir Habis

Meningkatnya kasus positif Covid-19 rupanya diikuti dengan berkurangnya jumlah tenaga kesehatan (nakes) yang bekerja memberikan pelayanan. Kondisi ini harus mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Sebab, keberadaan mereka sangat krusial dalam penanganan wabah. Dan pemkab sepertinya perlu menerjunkan nakes cadangan untuk mem-back up layanan kesehatan tersebut. Namun, apakah pemerintah sudah siap?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Senyampang kasus Covid-19 di Jember belum melandai, maka pekerjaan nakes akan menumpuk. Ibarat sepak bola, mereka harus bermain dengan waktu tambahan atau extra time. Padahal seharusnya, di situasi yang berisiko seperti sekarang ini, para nakes menjaga kesehatan mereka sendiri. Jam kerja seharusnya normal agar punya cukup waktu untuk beristirahat dan memulihkan kondisi tubuh. Sebab, sudah banyak kasus nakes yang juga terpapar korona akibat kondisinya drop. Bahkan, sebagian dari mereka ada yang sampai meninggal dunia.

Kondisi yang demikian membuat para nakes dilema. Di satu sisi, mereka terikat sumpah untuk mengabdi pada kemanusiaan. Namun, di sisi lain, mereka juga lelah karena tenaga sudah banyak terforsir. Apalagi, para nakes juga bekerja di bawah tekanan. Jangankan mau protes, menyampaikan unek-unek ke media massa saja bakal diadang oleh audit internal. Mereka akan dipanggil oleh atasan dan mendapatkan sanksi. Minimal teguran. Karena alasan inilah, tiga narasumber Jawa Pos Radar Jember enggan namanya dikorankan. Sebab, sebelumnya mereka telah menerima teguran setelah menerima wawancara wartawan.

Pagi itu, suara Arok (bukan nama sebenarnya) terdengar lantang saat dihubungi Jawa Pos Radar Jember. Padahal, waktu masih pagi. Baru menandakan pukul 06.00. “Teleponnya pagi saja. Soalnya nanti saya pasti sibuk,” ucapnya melalui saluran telepon.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut nakes yang bekerja di salah satu fasilitas pelayanan kesehatan (fayankes) di Kecamatan Umbulsari tersebut, kasus Covid-19 di daerahnya memang naik turun. Namun, situasinya masih sangat berisiko. Bahkan, di daerahnya bisa disebut zona hitam. Sebab, hampir setiap hari ada kasus kematian akibat korona.

Akibatnya, kata dia, pekerjaan nakes di Umbulsari juga bertambah. Jika sebelumnya hanya personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang melakukan pemakaman, sekarang para nakes juga turun tangan. “Saking banyaknya yang meninggal, kami para nakes juga kerap terjun melakukan pemakaman,” katanya.

Kondisi yang demikian masih ditambah dengan banyaknya nakes yang terpapar. Mereka yang positif itu menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah masing-masing. Hal ini membuat jam operasional pegawai bertambah, bahkan mereka sampai double job karena harus menggantikan nakes lain yang sedang isoman tersebut. “Ini yang membuat kami rentan. Soalnya capek. Jadi, imun mudah turun,” ucap pria yang berusia 30 tahun tersebut.

Belum lagi, pasokan alat pelindung diri (APD) juga sering kekurangan. Akibatnya, para nakes di sana sering memakai APD reuse alias yang bisa dipakai kembali. Jadi, habis dipakai, dicuci, lalu dipakai lagi. Kondisi ini membuat mereka sangat rawan terpapar virus. “Sebenarnya, harapan teman-teman nakes itu tidak muluk-muluk. Yang penting hak mereka dipenuhi,” ucapnya.

Meningkatnya kasus dan berkurangnya nakes di tempat kerjanya ini membuat penanggung jawab fayankes membikin kebijakan untuk mengatur ritme para pegawainya. Yakni dengan melakukan pembatasan jam operasional agar beban kerja para pegawai tidak sampai over load. “Hanya buka IGD saja. Sedangkan jika ada kasus yang parah langsung dirujuk ke rumah sakit,” ujarnya.

Tika (nama samaran) juga menyatakan hal serupa. Salah seorang nakes di Kecamatan Patrang ini menyebut, sejak Juli kasus Covid-19 makin meningkat. Bahkan, kata dia, jumlah kasus pada Juli lebih banyak dibandingkan Maret sampai Desember 2020. Sebagai petugas tracing, dia mengaku sampai kewalahan. Belum lagi, banyak nakes yang isoman. Karenanya, pos akan diisi oleh nakes yang lain. Ini artinya ada beberapa nakes yang harus kerja ganda untuk menggantikan posisi temannya tersebut.

Sebenarnya, Tika berharap ada penambahan nakes di tempat kerjanya. Namun, informasi yang dia terima, masih menunggu kuota hasil seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang entah kapan akan dilaksanakan. “Tapi, tetap kami jalani. Karena itu merupakan proses yang tak bisa serta-merta,” tuturnya.

Sementara itu, nakes lain yang minta namanya disebut Denny menuturkan, kondisi Covid-19 di lingkungannya kian parah. Sebab, sebagian masyarakat di area kerjanya banyak yang tidak percaya adanya wabah korona. Hal ini ditambah dengan minimnya peran lintas sektoral, seperti perangkat desa.

Menurut nakes yang bekerja di Kecamatan Jelbuk ini, hampir setiap hari ada orang yang meninggal akibat Covid-19. Dia menduga, tingginya penularan itu karena masyarakat mengabaikan protokol kesehatan. Meningkatnya kasus Covid-19 yang dialami masyarakat ini juga memiliki efek domino ke para nakes. Mereka harus bekerja ekstra, sehingga rentan tertular.

Sampai suatu ketika, kata dia, pihaknya sempat kebingungan karena bidan desa ada yang terpapar dan harus menjalani isoman. Imbasnya, warga yang mau melahirkan bingung lantaran puskesmas tutup. Terlebih, di tempatnya bekerja juga kekurangan tenaga. Karena itu, pelayanan ke masyarakat menjadi terhambat.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Senyampang kasus Covid-19 di Jember belum melandai, maka pekerjaan nakes akan menumpuk. Ibarat sepak bola, mereka harus bermain dengan waktu tambahan atau extra time. Padahal seharusnya, di situasi yang berisiko seperti sekarang ini, para nakes menjaga kesehatan mereka sendiri. Jam kerja seharusnya normal agar punya cukup waktu untuk beristirahat dan memulihkan kondisi tubuh. Sebab, sudah banyak kasus nakes yang juga terpapar korona akibat kondisinya drop. Bahkan, sebagian dari mereka ada yang sampai meninggal dunia.

Kondisi yang demikian membuat para nakes dilema. Di satu sisi, mereka terikat sumpah untuk mengabdi pada kemanusiaan. Namun, di sisi lain, mereka juga lelah karena tenaga sudah banyak terforsir. Apalagi, para nakes juga bekerja di bawah tekanan. Jangankan mau protes, menyampaikan unek-unek ke media massa saja bakal diadang oleh audit internal. Mereka akan dipanggil oleh atasan dan mendapatkan sanksi. Minimal teguran. Karena alasan inilah, tiga narasumber Jawa Pos Radar Jember enggan namanya dikorankan. Sebab, sebelumnya mereka telah menerima teguran setelah menerima wawancara wartawan.

Pagi itu, suara Arok (bukan nama sebenarnya) terdengar lantang saat dihubungi Jawa Pos Radar Jember. Padahal, waktu masih pagi. Baru menandakan pukul 06.00. “Teleponnya pagi saja. Soalnya nanti saya pasti sibuk,” ucapnya melalui saluran telepon.

Menurut nakes yang bekerja di salah satu fasilitas pelayanan kesehatan (fayankes) di Kecamatan Umbulsari tersebut, kasus Covid-19 di daerahnya memang naik turun. Namun, situasinya masih sangat berisiko. Bahkan, di daerahnya bisa disebut zona hitam. Sebab, hampir setiap hari ada kasus kematian akibat korona.

Akibatnya, kata dia, pekerjaan nakes di Umbulsari juga bertambah. Jika sebelumnya hanya personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang melakukan pemakaman, sekarang para nakes juga turun tangan. “Saking banyaknya yang meninggal, kami para nakes juga kerap terjun melakukan pemakaman,” katanya.

Kondisi yang demikian masih ditambah dengan banyaknya nakes yang terpapar. Mereka yang positif itu menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah masing-masing. Hal ini membuat jam operasional pegawai bertambah, bahkan mereka sampai double job karena harus menggantikan nakes lain yang sedang isoman tersebut. “Ini yang membuat kami rentan. Soalnya capek. Jadi, imun mudah turun,” ucap pria yang berusia 30 tahun tersebut.

Belum lagi, pasokan alat pelindung diri (APD) juga sering kekurangan. Akibatnya, para nakes di sana sering memakai APD reuse alias yang bisa dipakai kembali. Jadi, habis dipakai, dicuci, lalu dipakai lagi. Kondisi ini membuat mereka sangat rawan terpapar virus. “Sebenarnya, harapan teman-teman nakes itu tidak muluk-muluk. Yang penting hak mereka dipenuhi,” ucapnya.

Meningkatnya kasus dan berkurangnya nakes di tempat kerjanya ini membuat penanggung jawab fayankes membikin kebijakan untuk mengatur ritme para pegawainya. Yakni dengan melakukan pembatasan jam operasional agar beban kerja para pegawai tidak sampai over load. “Hanya buka IGD saja. Sedangkan jika ada kasus yang parah langsung dirujuk ke rumah sakit,” ujarnya.

Tika (nama samaran) juga menyatakan hal serupa. Salah seorang nakes di Kecamatan Patrang ini menyebut, sejak Juli kasus Covid-19 makin meningkat. Bahkan, kata dia, jumlah kasus pada Juli lebih banyak dibandingkan Maret sampai Desember 2020. Sebagai petugas tracing, dia mengaku sampai kewalahan. Belum lagi, banyak nakes yang isoman. Karenanya, pos akan diisi oleh nakes yang lain. Ini artinya ada beberapa nakes yang harus kerja ganda untuk menggantikan posisi temannya tersebut.

Sebenarnya, Tika berharap ada penambahan nakes di tempat kerjanya. Namun, informasi yang dia terima, masih menunggu kuota hasil seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang entah kapan akan dilaksanakan. “Tapi, tetap kami jalani. Karena itu merupakan proses yang tak bisa serta-merta,” tuturnya.

Sementara itu, nakes lain yang minta namanya disebut Denny menuturkan, kondisi Covid-19 di lingkungannya kian parah. Sebab, sebagian masyarakat di area kerjanya banyak yang tidak percaya adanya wabah korona. Hal ini ditambah dengan minimnya peran lintas sektoral, seperti perangkat desa.

Menurut nakes yang bekerja di Kecamatan Jelbuk ini, hampir setiap hari ada orang yang meninggal akibat Covid-19. Dia menduga, tingginya penularan itu karena masyarakat mengabaikan protokol kesehatan. Meningkatnya kasus Covid-19 yang dialami masyarakat ini juga memiliki efek domino ke para nakes. Mereka harus bekerja ekstra, sehingga rentan tertular.

Sampai suatu ketika, kata dia, pihaknya sempat kebingungan karena bidan desa ada yang terpapar dan harus menjalani isoman. Imbasnya, warga yang mau melahirkan bingung lantaran puskesmas tutup. Terlebih, di tempatnya bekerja juga kekurangan tenaga. Karena itu, pelayanan ke masyarakat menjadi terhambat.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Senyampang kasus Covid-19 di Jember belum melandai, maka pekerjaan nakes akan menumpuk. Ibarat sepak bola, mereka harus bermain dengan waktu tambahan atau extra time. Padahal seharusnya, di situasi yang berisiko seperti sekarang ini, para nakes menjaga kesehatan mereka sendiri. Jam kerja seharusnya normal agar punya cukup waktu untuk beristirahat dan memulihkan kondisi tubuh. Sebab, sudah banyak kasus nakes yang juga terpapar korona akibat kondisinya drop. Bahkan, sebagian dari mereka ada yang sampai meninggal dunia.

Kondisi yang demikian membuat para nakes dilema. Di satu sisi, mereka terikat sumpah untuk mengabdi pada kemanusiaan. Namun, di sisi lain, mereka juga lelah karena tenaga sudah banyak terforsir. Apalagi, para nakes juga bekerja di bawah tekanan. Jangankan mau protes, menyampaikan unek-unek ke media massa saja bakal diadang oleh audit internal. Mereka akan dipanggil oleh atasan dan mendapatkan sanksi. Minimal teguran. Karena alasan inilah, tiga narasumber Jawa Pos Radar Jember enggan namanya dikorankan. Sebab, sebelumnya mereka telah menerima teguran setelah menerima wawancara wartawan.

Pagi itu, suara Arok (bukan nama sebenarnya) terdengar lantang saat dihubungi Jawa Pos Radar Jember. Padahal, waktu masih pagi. Baru menandakan pukul 06.00. “Teleponnya pagi saja. Soalnya nanti saya pasti sibuk,” ucapnya melalui saluran telepon.

Menurut nakes yang bekerja di salah satu fasilitas pelayanan kesehatan (fayankes) di Kecamatan Umbulsari tersebut, kasus Covid-19 di daerahnya memang naik turun. Namun, situasinya masih sangat berisiko. Bahkan, di daerahnya bisa disebut zona hitam. Sebab, hampir setiap hari ada kasus kematian akibat korona.

Akibatnya, kata dia, pekerjaan nakes di Umbulsari juga bertambah. Jika sebelumnya hanya personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang melakukan pemakaman, sekarang para nakes juga turun tangan. “Saking banyaknya yang meninggal, kami para nakes juga kerap terjun melakukan pemakaman,” katanya.

Kondisi yang demikian masih ditambah dengan banyaknya nakes yang terpapar. Mereka yang positif itu menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah masing-masing. Hal ini membuat jam operasional pegawai bertambah, bahkan mereka sampai double job karena harus menggantikan nakes lain yang sedang isoman tersebut. “Ini yang membuat kami rentan. Soalnya capek. Jadi, imun mudah turun,” ucap pria yang berusia 30 tahun tersebut.

Belum lagi, pasokan alat pelindung diri (APD) juga sering kekurangan. Akibatnya, para nakes di sana sering memakai APD reuse alias yang bisa dipakai kembali. Jadi, habis dipakai, dicuci, lalu dipakai lagi. Kondisi ini membuat mereka sangat rawan terpapar virus. “Sebenarnya, harapan teman-teman nakes itu tidak muluk-muluk. Yang penting hak mereka dipenuhi,” ucapnya.

Meningkatnya kasus dan berkurangnya nakes di tempat kerjanya ini membuat penanggung jawab fayankes membikin kebijakan untuk mengatur ritme para pegawainya. Yakni dengan melakukan pembatasan jam operasional agar beban kerja para pegawai tidak sampai over load. “Hanya buka IGD saja. Sedangkan jika ada kasus yang parah langsung dirujuk ke rumah sakit,” ujarnya.

Tika (nama samaran) juga menyatakan hal serupa. Salah seorang nakes di Kecamatan Patrang ini menyebut, sejak Juli kasus Covid-19 makin meningkat. Bahkan, kata dia, jumlah kasus pada Juli lebih banyak dibandingkan Maret sampai Desember 2020. Sebagai petugas tracing, dia mengaku sampai kewalahan. Belum lagi, banyak nakes yang isoman. Karenanya, pos akan diisi oleh nakes yang lain. Ini artinya ada beberapa nakes yang harus kerja ganda untuk menggantikan posisi temannya tersebut.

Sebenarnya, Tika berharap ada penambahan nakes di tempat kerjanya. Namun, informasi yang dia terima, masih menunggu kuota hasil seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang entah kapan akan dilaksanakan. “Tapi, tetap kami jalani. Karena itu merupakan proses yang tak bisa serta-merta,” tuturnya.

Sementara itu, nakes lain yang minta namanya disebut Denny menuturkan, kondisi Covid-19 di lingkungannya kian parah. Sebab, sebagian masyarakat di area kerjanya banyak yang tidak percaya adanya wabah korona. Hal ini ditambah dengan minimnya peran lintas sektoral, seperti perangkat desa.

Menurut nakes yang bekerja di Kecamatan Jelbuk ini, hampir setiap hari ada orang yang meninggal akibat Covid-19. Dia menduga, tingginya penularan itu karena masyarakat mengabaikan protokol kesehatan. Meningkatnya kasus Covid-19 yang dialami masyarakat ini juga memiliki efek domino ke para nakes. Mereka harus bekerja ekstra, sehingga rentan tertular.

Sampai suatu ketika, kata dia, pihaknya sempat kebingungan karena bidan desa ada yang terpapar dan harus menjalani isoman. Imbasnya, warga yang mau melahirkan bingung lantaran puskesmas tutup. Terlebih, di tempatnya bekerja juga kekurangan tenaga. Karena itu, pelayanan ke masyarakat menjadi terhambat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/