Ternyata, selain rasanya yang menggoyang lidah, harga jualnya juga cukup murah. Bahkan bagi mahasiswa sekalipun. Harga seporsinya hanya dibanderol Rp 5.000. Apalagi, pelanggan juga bisa memilih takaran lauknya. “Biasanya kalau pelanggan baru, sama ibu dikasih harga yang lebih miring,” kata Lilik, anak Bu Slamet.
Uniknya, pelanggan di sekitar kompleks perumahannya terkadang hanya membeli lauknya dengan membawa nasi dari rumah. Biasanya para tetangga Bu Slamet memilih untuk makan di lokasi. Meski juga ada yang memilih untuk makan di rumah. “Harganya Rp 2.000 kalau begitu. Makannya terserah. Di sini juga bisa. Anggap rumah sendiri,” kata Bu Slamet.
Di kompleks rumahnya, saban pagi orang-orang bergiliran untuk membeli pecel. Mereka tak pernah bosan dengan menu pecel yang sudah ada sejak 1982 itu. “Mereka yang tidak sempat masak, mau kerja atau sekolah, langsung ke sini beli nasi pecel,” imbuhnya.
Keunikan lainnya adalah beberapa pelanggan di daerah kota, sengaja memesan dalam jumlah banyak. Selanjutnya dijual lagi. Di antar ke rumah-rumah warga atau toko yang sudah memesan. “Iya, kayak reseller. Saya juga heran, padahal di kota kan juga banyak penjual nasi pecel,” ujarnya.
Tak hanya masyarakat setempat, pelanggan Bu Slamet juga terkenal dari warga Tionghoa. Biasanya mereka memesan dalam jumlah banyak pada malam hari sebelumnya. Baru keesokan harinya diambil. “Mintanya nasi dipisah dengan sayurnya. Karena biasanya mereka kalau makan sekitar pukul 10 siang,” tutur Lilik.
Beberapa pelanggan yang fanatik dengan cita rasa olahan pecel Bu Slamet banyak yang memesan mentahannya. Kemudian dibawa untuk oleh-oleh atau untuk stok lauk pribadi. Per kilonya dibanderol dengan harga Rp 80 ribu. “Kalau mau ke Singapura pesen pecel dulu. Harganya ikut harga kacang. Kalau sekarang mulai Rp 80 ribu,” jelasnya.
Pertahankan Olahan Tradisional
Rahasia olahan pecel Bu Slamet punya cita rasa yang kuat adalah terletak pada proses pengolahannya. Bu Slamet hingga sekarang konsisten untuk menghaluskan racikan bumbu pecel dengan cara ditumbuk manual. Proses ini memang agak lama. Namun, memiliki cita rasa yang khas. Sebab, racikan bumbu pecel tidak berbau mesin. “Bumbu pecel harus ditumbuk. Saya tidak mau kalau tidak ditumbuk,” ungkap perempuan yang punya nama asli Sumiati tersebut.
Ia menceritakan, pada suatu masa ketika mesin penghalus bumbu mulai populer, anaknya, Lilik Winangsih, mencoba untuk menghaluskan bumbu pecel melalui mesin atau selepan. Demi mengurangi beban pekerjaan. Namun, ternyata cita rasa yang dihasilkan berbeda dengan proses tumbukan manual. “Pecelnya masih bau mesin. Saya bilang ke pelanggan, rasane bedo. Mulai itu tidak pakai selep lagi. Mending ditumbuk,” imbuh perempuan 70 tahun itu.
Sebenarnya, perubahan cita rasa pecel yang digiling dan dihaluskan secara manual tidak begitu berbeda. Bahkan pelanggan pun cenderung tidak mengetahui. Hanya sebagian kecil pelanggan saja yang mengenali perbedaannya. Namun, bagi Bu Slamet, perubahan cita rasa itu bukan perkara biasa. Indera perasanya peka dengan rasa aroma besi penggilingan. “Beda. Ada bau besi. Saya tidak mau,” ungkapnya.
Bu Slamet dikenal tidak pernah pelit untuk membagikan resep pembuatan pecel. Jika ada pelanggan yang minta resep, dia bakal langsung kasih resepnya lengkap. Namun, meski para pelanggan bikin pecel sesuai resep yang sama, tapi rasanya tetap berbeda. Tak seenak bikinan Bu Slamet. Inilah yang kemudian jadi salah satu alasan pelanggan Bu Slamet jadi fanatik dan tak mau coba-coba lagi.
Jurnalis: Dian Cahyani
Fotografer: Delfi Nihayah
Editor: Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal