alexametrics
26 C
Jember
Wednesday, 26 January 2022

Pembungkaman Ruang Demokrasi, Mahasiswa Papua di Jember Ngamuk

Mobile_AP_Rectangle 1

KEPATIHAN, RADARJEMBER.ID – Sekitar sepuluh mahasiswa asal Papua berjejer menghadang jalan di persimpangan Jalan Gatot Subroto. Mereka membawa poster bertuliskan “Roma Agreement Ilegal”. Beberapa poster ada yang ditenteng, ada pula yang dibeber di jalan.

Ruas jalan pun sempat mengalami kemacetan untuk beberapa waktu. Perhatian semua pengguna jalan tertuju pada kumpulan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) itu. Mereka menuntut dan turut menyuarakan Roma Agreement bersifat ilegal yang masih berlaku di Papua.

“Agar semua masyarakat Jember tahu kondisi sebenarnya di Papua. Tindakan represif dari aparat keamanan masih ada. Bahkan, sebagian masyarakat Papua dilabeli sebagai teroris atas adanya Roma Agreement,” ungkap Juru Bicara Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Rudy Wonda, Kamis (30/9) kemarin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Rudy menjelaskan bahwa hingga saat ini banyak masyarakat Papua yang menerima tuduhan sebagai teroris. Keberadaan mereka pun tidak aman. Mereka masih sering mendapat tindakan represif dari aparat keamanan. Menurut Rudy, kondisi seperti inilah yang belum banyak diketahui oleh orang-orang di luar Papua, termasuk di Jember.

Perilaku tidak profesional dan sewenang-wenang ini dialami rakyat Papua yang menuntut hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi paling demokratis dan bermartabat. Guna menuntaskan persoalan konflik kemanusiaan yang berkepanjangan di Papua selama ini. Dihadapkan dengan praktik-praktik kekerasan, intimidasi, pembungkaman ruang demokrasi, penangkapan di luar prosedur hukum, bahkan pembunuhan.

- Advertisement -

KEPATIHAN, RADARJEMBER.ID – Sekitar sepuluh mahasiswa asal Papua berjejer menghadang jalan di persimpangan Jalan Gatot Subroto. Mereka membawa poster bertuliskan “Roma Agreement Ilegal”. Beberapa poster ada yang ditenteng, ada pula yang dibeber di jalan.

Ruas jalan pun sempat mengalami kemacetan untuk beberapa waktu. Perhatian semua pengguna jalan tertuju pada kumpulan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) itu. Mereka menuntut dan turut menyuarakan Roma Agreement bersifat ilegal yang masih berlaku di Papua.

“Agar semua masyarakat Jember tahu kondisi sebenarnya di Papua. Tindakan represif dari aparat keamanan masih ada. Bahkan, sebagian masyarakat Papua dilabeli sebagai teroris atas adanya Roma Agreement,” ungkap Juru Bicara Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Rudy Wonda, Kamis (30/9) kemarin.

Rudy menjelaskan bahwa hingga saat ini banyak masyarakat Papua yang menerima tuduhan sebagai teroris. Keberadaan mereka pun tidak aman. Mereka masih sering mendapat tindakan represif dari aparat keamanan. Menurut Rudy, kondisi seperti inilah yang belum banyak diketahui oleh orang-orang di luar Papua, termasuk di Jember.

Perilaku tidak profesional dan sewenang-wenang ini dialami rakyat Papua yang menuntut hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi paling demokratis dan bermartabat. Guna menuntaskan persoalan konflik kemanusiaan yang berkepanjangan di Papua selama ini. Dihadapkan dengan praktik-praktik kekerasan, intimidasi, pembungkaman ruang demokrasi, penangkapan di luar prosedur hukum, bahkan pembunuhan.

KEPATIHAN, RADARJEMBER.ID – Sekitar sepuluh mahasiswa asal Papua berjejer menghadang jalan di persimpangan Jalan Gatot Subroto. Mereka membawa poster bertuliskan “Roma Agreement Ilegal”. Beberapa poster ada yang ditenteng, ada pula yang dibeber di jalan.

Ruas jalan pun sempat mengalami kemacetan untuk beberapa waktu. Perhatian semua pengguna jalan tertuju pada kumpulan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) itu. Mereka menuntut dan turut menyuarakan Roma Agreement bersifat ilegal yang masih berlaku di Papua.

“Agar semua masyarakat Jember tahu kondisi sebenarnya di Papua. Tindakan represif dari aparat keamanan masih ada. Bahkan, sebagian masyarakat Papua dilabeli sebagai teroris atas adanya Roma Agreement,” ungkap Juru Bicara Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Rudy Wonda, Kamis (30/9) kemarin.

Rudy menjelaskan bahwa hingga saat ini banyak masyarakat Papua yang menerima tuduhan sebagai teroris. Keberadaan mereka pun tidak aman. Mereka masih sering mendapat tindakan represif dari aparat keamanan. Menurut Rudy, kondisi seperti inilah yang belum banyak diketahui oleh orang-orang di luar Papua, termasuk di Jember.

Perilaku tidak profesional dan sewenang-wenang ini dialami rakyat Papua yang menuntut hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi paling demokratis dan bermartabat. Guna menuntaskan persoalan konflik kemanusiaan yang berkepanjangan di Papua selama ini. Dihadapkan dengan praktik-praktik kekerasan, intimidasi, pembungkaman ruang demokrasi, penangkapan di luar prosedur hukum, bahkan pembunuhan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca