Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tetap Banjir Pesanan, Lebih Banyak Diorder Pehobi dan Kolektor

Safitri • Selasa, 13 Juli 2021 | 16:30 WIB
TERNGIANG: Muhandari, 72, satu dari sekian korban selamat saat banjir bandang di Panti, 17 tahun lalu.
TERNGIANG: Muhandari, 72, satu dari sekian korban selamat saat banjir bandang di Panti, 17 tahun lalu.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Kecamatan Wuluhan menjadi salah satu sentra kerajinan wayang kulit di daerah Jember. Ada satu nama yang masih muda dan telah lihai dalam pembuatan wayang kulit. Dia adalah Heppy Firman Handika, 29, asal Desa Dukuhdempok, kecamatan setempat.

Dilihat dari kediamannya memang tidak seperti rumah perajin wayang kulit. Justru laiknya perajin tahu atau tempe. Sebab, ada satu cerobong asap yang jadi pemandangan di rumahnya tersebut. “Oh ini punya ibu untuk bahan bakar pembuatan petulo dan kerupuk,” ucapnya, menunjukkan cerobong asap yang di bagian bawahnya ada bangunan serupa tumang mini.

Tepat di samping rumahnya, ada bangunan dengan jendela dan pintu bergaya vintage. Selain itu, di pintu masuknya juga bertuliskan “selamat datang di gubuk wayang”. Rumah itulah yang menjadi lokasi Heppy membuat wayang kulit.

Heppy termasuk perajin yang berani keluar dari pakem. Dia tak sekadar membuat wayang klasik, tapi juga wayang kulit karakter. Mulai dari karakter kartun hingga manusia kartun. Dia membuat itu tidak lain karena ada ketertarikan dengan salah satu dalang untuk bersama-sama meningkatkan minat wayang kulit pada anak-anak. “Jadi, mulai dari kecil sudah disuguhkan dengan wayang kulit, tapi dengan karakter kartun,” tuturnya.

Namun, saat ditanya bagaimana pembuatan wayang kulit karakter kartun tersebut, Heppy hanya tersenyum. Dia mengaku mulai sepi pesanan. “Sepi kalau wayang karakter kartun,” ucapnya.

Pesanan wayang kulit karakter kartun tersebut tidak lain karena dampak dari pandemi. “Dalang waktu itu kan tidak ada tanggapan. Apalagi sekarang ada PPKM darurat, tambah tidak ada pergelaran wayang kulit,” ucapnya. Karena itu, sekarang dalang wayang kulit pun mulai jarang memesan. Baik itu untuk wayang kulit klasik atau wayang kulit karakter kartun.

Saat Jawa Pos Radar Jember bertanya apakah pendapatan turun bagi perajin wayang kulit pada pandemi Covid-19, Senyum Heppy mengembang. Wajahnya terlihat semringah. Heppy terlihat begitu happy. “Alhamdulillah tetap. Tidak ada pengaruhnya,” terangnya.

Dia mengaku, tak terpengaruhnya pesanan wayang kulit itu karena pemesannya bergeser. Jika awalnya adalah seniman atau dalang, kini permintaan dari pehobi atau kolektor justru meningkat drastis. “Kalau sebelum pandemi yang pesan setengahnya dari dalang, setengah lagi dari kolektor. Sekarang dalang mungkin tinggal 10 sampai 20 persen saja. Sisanya kolektor,” paparnya.

Menurutnya, selama pandemi banyak pegawai yang menghabiskan waktu di rumah. Karena itu, mereka memiliki banyak waktu untuk melampiaskan kesenangannya terhadap dunia wayang kulit, serta menghiasi rumah dengan wayang kulit. “Ada yang sampai menunggu setengah tahun. Karena pesanannya baru selesai enam bulan lagi. Ya, memang banyak pesanan,” terangnya.

Dia menjelaskan, yang pesan secara personal untuk hiasan di rumah kemungkinan membeli satu sampai empat buah wayang. “Kalau pertama punya wayang kulit, belinya setidaknya dua buah. Tapi ada juga yang sudah punya dan sekarang ingin melengkapi agar lebih banyak,” jelasnya.

Itu jika yang memesan adalah pehobi. Berbeda lagi jika yang memesan merupakan seorang kolektor. “Kalau kolektor pesannya tidak satu dua buah wayang saja. Tapi lengkap satu kotak. Hampir sama dengan pesanan para dalang. Tapi bedanya, kolektor tidak mendalang,” tuturnya.

Banyaknya pesanan wayang kulit dari pehobi dan kolektor itu membuat Heppy senang. Sebab, mereka tidak menawar harga yang dipatok, sehingga lebih menguntungkan baginya. “Kalau dipesan seniman itu harganya selalu ditawar. Karena mereka pasti selalu punya referensi dibandingkan dengan perajin wayang kulit dari berbagai daerah. Meski begitu, kalau yang pesan seniman tetap untung,” tuturnya.

Wayang yang kerap dipesan saat ini adalah Gatotkaca, Arjuna, Kresna, Bima, sampai Hanoman. Harga satu wayang kulit sekitar Rp 1,5 juta dan bergantung pada kerumitan dalam pembuatannya. Bahkan, juga ada wayang kulit dengan harga fantastis. Umumnya, catnya berbahan logam mulia.

Walau pesanan wayang kulit tetap tinggi, namun Heppy mengaku terkendala dengan terbatasnya mendapat tenaga terampil untuk membuat wayang kulit di Jember. “Ya ada anak muda di Jember yang mau belajar membuat wayang, tapi jumlahnya sedikit dan masih perlu diasah lagi kemampuannya,” terangnya.

Heppy pun kerap mengirimkan lembaran kulit dengan motif darinya ke luar kota untuk dipahat, lalu dikirim kembali kepadanya. Sebab, menurut dia, proses memahat adalah proses paling menyita waktu dalam pembuatan wayang kulit. “Setelah itu, saya haluskan lagi pahatan dan finishing. Tapi, ada juga yang ingin dibuat saya sendiri mulai dari nol. Ya, tergantung dari permintaan pemesan,” pungkasnya.

Jurnalis: Dwi Siswanto
Fotografer: Istimewa
Editor: Mahrus Sholih Editor : Safitri
#Kesenian