Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Gendered-Pandemy: Imbasnya terhadap ‘Mahmud’

Safitri • Jumat, 5 Juni 2020 | 12:42 WIB
Photo
Photo
Ketika membaca judul Pandemi dikaitkan dengan gender, mungkin banyak orang yang bergumam, “gender lagi… gender lagi… apa pula hubungan gender dengan pandemi Covid-19? terlalu mengada ada.” Mungkin berbagai ekspresi keheranan dan penolakan lain yang sering berujung pada pemblokiran rasa ingin tahu, sehingga yang bersangkutan tidak meneruskan membaca tulisan tersebut, dan menyimpulkan sendiri dengan asumsi-asumsi yang tak boleh tergeser oleh apa pun, termasuk oleh tulisan ini.

Lepas dari kemungkinan-kemungkinan penolakan itu, yang jelas, ketika penulis mengetik kata kunci “gender & Covid-19” di Google search engine, muncul banyak sekali situs web. Mulai dari UN Women (Perempuan PBB), Kemenppa (Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak), Jakarta Post, Media Indonesia, dan banyak lagi lainnya yang tidak mungkin disebutkan semuanya di sini. Situs-situs tersebut menyajikan berbagai isu gender dikaitkan dengan pandemi Covid-19, satu di antaranya adalah menguatnya beban ganda ibu-ibu muda atau dalam istilah gaul sering disebut dengan mahmud (mamah-mamah muda) yang berkarir dan harus menjalani WFH (work from home/ bekerja dari rumah). Sebenarnya masih banyak isu gender lain yang sangat menarik, antara lain tentang over-representasi laki-laki korban Covid-19 dan meningkatnya laporan kasus KDRT sejak diterapkan WFH di beberapa negara, tetapi ruang perspektif ini tidak cukup luas untuk menampung semuanya.

Berbagai media massa menyajikan fenomena menguatnya beban ganda perempuan karir yang menjalani WFH. Merasa terganjal dengan penggunaan istilah “beban ganda” untuk menggambarkan semakin banyaknya peran yang harus dijalankan oleh perempuan di masa pandemi Covid-19 ini, penulis lebih senang menggunakan istilah multiperan (lebih dari sekedar ganda) bagi ibu-ibu muda atau mahmud.

Mengapa multiperan, bukan peran ganda, karena peran yang harus dijalankan perempuan tidak hanya ganda tapi multi. Artinya lebih dari dua; sebagai perempuan karir, sebagai ibu, sebagai istri, sebagai anak (bagi yang merawat orang tua yang sakit yang tinggal serumah), sebagai home maker (bertanggung jawab memastikan rumah dalam keadaan bersih & rapi), dan sebagainya.

Penulis juga tidak sreg dengan penggunaan istilah “beban”, karena berkonotasi negatif, seakan semua perempuan tidak rela menjalankan peran-peran mereka, padahal kenyataannya tidak begitu. Perempuan, seperti juga laki-laki, tidaklah seragam, antara perempuan satu dengan lainnya terdapat perbedaan-perbedaan dalam banyak hal, misalnya dalam pendidikan, pengetahuan, kesalehan, kondisi ekonomi, kondisi fisik, psikis, status sosial, karakter suami maupun anggota keluarga yang lain, dan sebagainya, yang semua itu memiliki andil dalam membentuk pribadi perempuan, termasuk dalam memaknai peran-peran yang mereka jalankan.

Di masa pandemi ini, ‘mahmud’ yang berkarir dan harus menjalani WFH cenderung sulit melihat batas antara work dan life, antara urusan kerja dan kehidupan pribadi atau keluarga. Istilah mahmud menandakan keberadaan anak-anak yang masih belum dewasa, bahkan belum mandiri dalam keluarga, yang juga harus menjalani SFH (study from home). Mereka pada umumnya masih membutuhkan banyak bimbingan dan bantuan ‘orang tua’ dalam belajar. Nah, untuk urusan membimbing anak belajar, istilah ‘orang tua’ di sini ternyata lebih cenderung merujuk pada Ibu, dan bukan bapak. Kalau anak gagal, yang cenderung disalahkan adalah ibu. Rumah kotor dan tidak rapi pun ibulah yang salah. Apalagi, di masa pandemi seperti saat ini, ibulah, bukan bapak, yang paling diharapkan untuk bertanggung jawab memastikan ketersediaan makanan bergizi seimbang bagi keluarga, agar orang-orang tercinta memiliki imun yang bagus dan terhindar dari pandemi Covid-19.

Pernyataan Dian Siswarini, Presdir dan CEO XL Axiata, dalam suatu webinar yang diselenggarakan oleh Sisternet XL Axiata akhir Mei 2020 bahwa perempuan itu pilar keluarga dan tiang bangsa, adalah salah satu bukti bahwa perempuan dengan pendidikan dan status sosial tinggi pun tidak terkecuali mengkonfirmasi konstruk yang sudah mapan tentang perempuan sebagai penanggung jawab utama kesehatan dan keberhasilan pendidikan anak-anak dalam keluarga maupun generasi muda anak bangsa. Memang, seperti kata pegiat gender Susan Blackburn dan Julia Suryakusuma, perempuan selalu dilekatkan dengan peran-peran yang bersifat caring (mendidik, merawat, memberi perhatian dan kehangatan, memastikan kebahagiaan orang-orang  yang dicintainya, dan lain-lain).

Dengan ekspektasi sosial tersebut, siapa lagi yang diharapkan memastikan bahwa imun semua anggota (termasuk kepala) keluarga terjaga dengan baik kalau bukan istri (bagi suami) atau ibu (bagi anak-anak). Tentu setiap orang ingin keluarganya terjaga dari ancaman pandemi Covid-19 yg sedang ‘naik daun’ saat ini. Peran ibu muda bisa dipastikan menjadi lebih banyak daripada saat sebelum pandemi, karena tidak semua keluarga mampu membayar asisten rumah tangga (ART). Bahkan kalau pun mereka mampu membayar ART, masih terjadi work and life blending, bercampurnya urusan kerja dan keluarga, karena ART hanyalah membantu, bukan mengambil alih tanggung jawab.

Dian Sastro Wardoyo, dalam sebuah webinar baru-baru ini, bercerita bahwa antara life dan work bercampur jadi satu, “our life over feels like work,” katanya. “Ketika meeting dari rumah, pada saat yang sama anak juga belajar dari rumah dan membutuhkan bantuan , jadi minta pengertian teman-teman kerja, karena harus ada troubleshooting,” lanjutnya. Dan kondisi seperti itu terkadang menyisakan kesan negatif bahwa perempuan kalau punya anak kecil tidak bisa bekerja profesional, yang kemudian berpotensi mengimbas secara negatif terhadap kesempatan berkarir bagi perempuan muda. Hal tersebut membentuk stereotip bahwa perempuan usia produktif sulit diharapkan profesionalismenya, yang pada gilirannya mempersempit ruang perempuan untuk meraih kesempatan.

Bahwa perempuan melahirkan dan menyusui adalah given, peran yang tidak bisa ditukar dengan laki-laki. Tetapi peran tersebut kemudian dijadikan satu paket dengan caring responsibility yang meliputi tugas-tugas yang terkait dengan momong anak, memastikan bahwa anak sehat dan dididik dengan baik, serta merawat anggota keluarga yang sakit. Pendeknya, memastikan bahwa semua anggota (tentu saja termasuk kepala) keluarga sehat dan bahagia dianggap tanggung jawab perempuan. Atribut nonfisik perempuan sebagai makhluk yang harus bersifat caring itu diamini secara masif dan akhirnya well-established, sangat mapan, sehingga seakan tidak negotiable. Padahal laki-laki juga memiliki sifat caring. Alangkah eloknya bila antara suami dan istri terjadi saling pengertian, saling membantu, bukan saling menuntut hak dan kaku dalam pembagian peran gender, sehingga seharusnya pandemi ini tidak bersifat gendered.

 

*) Sofkhatin Khumaidah, M.Pd., M.Ed., Ph.D., Dosen Pascasarjana IAIN Jember, Alumni Flinders University, South Australia. Editor : Safitri