radar jember - Di tengah arus digitalisasi yang merata ke berbagai sektor kehidupan, dunia pendidikan Indonesia masih menghadapi ketimpangan akses, terutama di wilayah terpencil dan pegunungan.
Di banyak sekolah dasar pada kawasan ini, keterbatasan perangkat digital, minimnya koneksi internet, dan rendahnya kapasitas guru dalam pemanfaatan teknologi menjadi kendala yang terus menghambat kemajuan. Sementara di pusat-pusat kota, sekolah-sekolah mulai mengintegrasikan kecerdasan buatan dan pembelajaran berbasis virtual, di lereng-lereng gunung guru masih berjibaku dengan metode ceramah dan buku teks lusuh.
Namun, perubahan tidak selalu menunggu perintah dari pusat. Di sebuah desa kecil di Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, secercah harapan mulai tumbuh dari ruang kelas sederhana SD Islam Miftahul Ulum. Di sekolah ini, sekelompok guru menunjukkan bahwa transformasi digital bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan yang bisa diwujudkan dari bawah, dari akar rumput.
Melalui pelatihan yang diinisiasi oleh tim dosen dari Universitas Moch Sroedji Jember dan Universitas Muhammadiyah Jember, para guru belajar membuat media ajar berbasis Book Creator, sebuah aplikasi pembuatan e-book interaktif yang sederhana namun sangat fungsional.
Pelatihan ini tidak hanya membekali keterampilan teknis, tetapi juga mengubah cara pandang guru terhadap teknologi. Dengan metode pembelajaran partisipatif, berbasis praktik langsung (hands-on), refleksi kolektif, serta pendampingan intensif, para guru didorong untuk percaya pada kemampuan mereka sendiri. Hasilnya tidak hanya tercermin pada peningkatan rata-rata literasi digital guru sebesar 65 persen, melainkan juga pada perubahan sikap yang mendalam.
“Dulu saya pikir membuat media ajar digital itu hanya bisa dilakukan guru di kota. Sekarang saya sudah bisa membuat buku digital sendiri untuk murid-murid saya,” ujar salah satu guru dengan mata berbinar.
Digitalisasi Bukan Sekadar Tren
Digitalisasi pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai proyek modernisasi belaka, apalagi sebagai tren sesaat. Ini adalah upaya mendasar untuk menjamin hak setiap anak Indonesia dalam mengakses pendidikan yang relevan dengan zamannya.
Berdasarkan data Kemendikbudristek (2023), lebih dari 43 persen sekolah dasar berada di luar kawasan perkotaan. Artinya, sebagian besar guru Indonesia bekerja dalam situasi yang jauh dari ideal: infrastruktur terbatas, sinyal internet tak menentu, dan nyaris tanpa pelatihan berkelanjutan.
Pelatihan berbasis teknologi seperti yang dilakukan di SDI Miftahul Ulum menjadi sangat relevan. Para guru tidak diajarkan menggunakan perangkat canggih yang mahal dan sulit dijangkau, tetapi diberi ruang untuk mengembangkan kreativitas melalui perangkat sederhana dan pendekatan yang membumi.
Book Creator, misalnya, memungkinkan guru membuat e-book berisi teks, gambar, audio, dan video hanya dengan menggunakan ponsel atau laptop berspesifikasi menengah. Aplikasi ini bisa dijalankan secara offline, sehingga tidak bergantung pada koneksi internet.
Buku digital hasil pelatihan pun langsung diterapkan di kelas. Respons siswa sangat positif: mereka lebih antusias belajar, lebih aktif bertanya, dan nilai tugas mereka meningkat secara signifikan. Salah satu guru menyebutkan, “Anak-anak lebih suka belajar dari buku buatan guru mereka sendiri. Mereka merasa lebih dekat, lebih paham, dan lebih senang berada di kelas”.
Dari Pelatihan ke Komunitas Berkelanjutan
Yang menjadikan inisiatif ini lebih dari sekadar pelatihan sesaat adalah terbentuknya komunitas guru digital di sekolah mitra. Komunitas ini menjadi ruang belajar bersama, tempat berbagi praktik baik, mendiskusikan tantangan, serta saling mendukung dalam mengembangkan media ajar digital.
Pola ini sesuai dengan konsep Professional Learning Community (PLC), yang telah lama terbukti mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan. Pendekatan yang digunakan dalam program ini berbasis Participatory Action Research (PAR), di mana guru tidak hanya menjadi peserta pasif, tetapi turut aktif dalam merancang, menjalankan, dan mengevaluasi program. Dengan demikian, proses digitalisasi pendidikan benar-benar berakar dari kebutuhan lokal dan dikembangkan secara kolektif.
Kegiatan ini menjawab Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas, sekaligus mendukung Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi yang mendorong dosen dan mahasiswa untuk berperan aktif di luar kampus.
Tantangan dan Rekomendasi
Tentu saja, tantangan tidak sedikit. Keterbatasan perangkat seperti laptop, gangguan sinyal, serta kesenjangan kemampuan antar-guru menjadi kendala nyata yang harus dihadapi. Namun, berbagai strategi diterapkan seperti rotasi perangkat, pelatihan bertahap, dan mentoring antar-guru yang terbukti efektif mengatasi hambatan tersebut.
Ke depan, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk memastikan keberlanjutan transformasi digital di daerah tertinggal: (1) pengembangan modul pelatihan replikasi yang mudah diakses; (2) keterlibatan mahasiswa sebagai pendamping teknologi di sekolah-sekolah mitra; (3) sinergi kebijakan antara perguruan tinggi, dinas pendidikan, dan pemerintah daerah; serta (4) pendanaan khusus untuk penguatan infrastruktur digital di kawasan nonperkotaan.
Menyemai Harapan dari Pinggiran
Apa yang terjadi di kaki Pegunungan Silo adalah gambaran bahwa perubahan tidak harus selalu datang dari pusat kekuasaan atau institusi besar.
Justru, dari ruang-ruang kecil tempat guru mengajar dengan cinta dan komitmen, transformasi dapat terjadi asal didukung oleh ekosistem yang tepat, pendekatan yang kontekstual, dan kepercayaan pada kemampuan lokal.
Sudah saatnya pemerintah melihat transformasi digital pendidikan sebagai gerakan nasional yang berbasis komunitas.
Bukan sekadar proyek jangka pendek atau program unggulan yang diluncurkan seremonial.
Melainkan sebagai kebutuhan nyata, yang menyentuh langsung denyut nadi pendidikan anak bangsa, dari kota hingga desa, dari pesisir hingga pegunungan. Digitalisasi pendidikan bukan soal alat, melainkan soal masa depan. Dan masa depan itu, sedang dipersiapkan oleh guru-guru dari lereng pegunungan.
Nama : Noor Faridha
Afiliasi : Dosen Universitas Moch Sroedji Jember
Editor : M. Ainul Budi