Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember dari warga di lokasi, tragedi yang berlangsung selama tiga kali ini, diawali oleh sikap arogan dua kelompok warga dari Desa Mulyorejo ke warga Kalibaru. Dua kelompok itu masing-masing dipimpin oleh T dan S. Mereka kerap menjarah hasil kebun milik warga Kalibaru. Bahkan, secara terang-terangan ketika pemilik sedang berada di kebun.
BACA JUGA: Tragedi Silo Jember, Uang Ratusan Juta Dijarah dan Tiga Warga Terluka
Hingga suatu ketika, seorang warga Kalibaru yang jengah dengan sikap pongah kelompok T dan S, berusaha menasihati salah seorang anak buah dari salah satu kelompok tersebut. Dia meminta agar para preman perkebunan itu tak lagi menggasak hasil kebun mereka. Namun, perkataan itu dipahami sebagai tantangan dan berujung pada duel bersenjata.
Pada perkelahian satu lawan satu ini, anak buah preman kampung itu menang. Dia mengalami luka pada bagian tangan. Sedangkan warga Kalibaru, terluka di beberapa bagian. Salah satunya adalah kepala. Pertikaian berdarah ini, kemudian memantik kemarahan warga Kalibaru. Hingga akhirnya, pada 3 Juli malam, sekitar 20 orang menyerang rumah pimpinan dua kelompok, T dan S. Hunian serta sejumlah kendaraan dirusak dan dibakar.
Tragedi ini tak sampai mencuat ke publik. Tak ada pewarta yang mendengar kabar tersebut. Selanjutnya, pada 30 Juli malam, peristiwa serupa kembali terjadi. Sekitar 50 orang kembali menyerang ke Desa Mulyorejo. Kali ini, mereka menyasar kelompok S. Peristiwa kedua ini juga sama, tak sampai tercium ke permukaan.
BACA JUGA: Ini Kronologi dan Data Korban Tragedi Perusakan Pembakaran di Silo Jember
Publik baru mengetahui jika ada masalah serius di perkampungan yang berada di kawasan hutan ini, setelah peristiwa ketiga pada Rabu 3 Agustus. Sebuah kendaraan milik M Kosim, tokoh agama di Desa Mulyorejo menjadi sasaran. Jika dua serangan sebelumnya dilakukan secara terbuka, pembakaran mobil milik seorang ustadz ini berlangsung senyap. Sekitar pukul 01.00 dini hari, Suzuki Jimny yang sedang terparkir di garasi, tiba-tiba terbakar. Entah siapa yang melakukan. Polisi masih melakukan penyelidikan.
Peristiwa yang menimpa tokoh agama ini akhirnya terdengar oleh tokoh agama lain di Kecamatan Silo. Kemudian, kabar itu menyebar ke publik dan sejumlah pekerja media. Bisa ditebak, tragedi itu akhirnya ramai diberitakan dan menjadi perhatian masyarakat.
Kapolres Jember AKBP Hery Purnomo, belum menjelaskan secara terperinci apa yang menjadi penyebab tragedi amuk massa itu. Perwira menengah polisi yang turun ke lokasi ini, masih mengumpulkan serpihan keterangan dari para saksi-saksi. Hingga hari ini, para pelaku juga belum teridentifikasi. Sebab, kejadiannya malam dan berlangsung di banyak tempat. Sedikitnya ada tiga titik yang menjadi tempat kejadian perkara (TKP). “Kami masih melakukan penyelidikan. Kami masih berupaya untuk bisa mengungkap perkara ini,” katanya, Kamis (4/8).
Hery menambahkan, pihaknya sempat kerepotan mendapat keterangan yang bisa membuka tragedi ini secara terang benderang. Sebab, pada awalnya warga enggan melapor ke polisi. Dia pun berharap, perkara ini bisa segera terungkap dan dapat diketahui akar masalah yang menjadi penyebab. “Untuk korban jiwa sejauh ini tidak ada. Hanya kerugian harta benda,” pungkasnya. (*)
Reporter: Jumai
Foto : Jumai
Editor : Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal