Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Filosofi Tarik Tambang "Manusia Harus Terus Membumi"

Maulana Ijal • Minggu, 21 Agustus 2022 | 16:00 WIB
HARUS KOMPAK: Sejumlah anak sedang seru-seruan bermain bakiak. Permainan bakiak ini salah satu permainan tradisional yang masih dimainkan ketika acara seperti HUT RI bulan Agustus. (AZZQAL AZQIYA’/RADAR JEMBER)
HARUS KOMPAK: Sejumlah anak sedang seru-seruan bermain bakiak. Permainan bakiak ini salah satu permainan tradisional yang masih dimainkan ketika acara seperti HUT RI bulan Agustus. (AZZQAL AZQIYA’/RADAR JEMBER)
LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-77 tahun ini kembali meriah. Sebab, selama dua tahun terakhir, beragam kegiatan dibatasi. Termasuk perlombaan yang biasanya digelar setiap bulan kemerdekaan. Sehingga Bulan Agustus ini masyarakat menyambutnya dengan penuh antusias.

https://radarjember.jawapos.com/main_yuk/21/08/2022/asyiknya-main-tarik-tambang-latih-kepercayaan-dan-kekompakan-tim/

Salah satu jenis perlombaan yang meriah adalah tarik tambang. Permainan yang dimainkan dua tim ini ternyata tidak hanya sekadar permainan biasa. Sebab, ternyata permainan ini juga masuk salah satu jenis olah raga rekreasi.
Photo
Photo


Umumnya, tarik tambang dilakukan oleh dua tim yang saling menarik tambang agar menang. Caranya, masing-masing pemain berdiri sesuai strategi tim. Ada yang mengaturnya silang, ada pula yang sejajar. Biasanya setiap tim terdiri dari lima hingga delapan pemain. Tim yang mampu menarik lebih panjang dan melebihi batas akan dinyatakan menang.

Namun, cara permainan ini ternyata tidak diterapkan di Lumajang. Sebab, permainan tradisional yang masuk dalam Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) ini memiliki aturan yang berbeda. “Setiap tim ada lima pemain. Dua pemain perannya sebagai penarik, dua pemain sebagai kunci atau kancing, dan satu pemain sebagai bandol,” ungkap Dewan Pembina FORMI Lumajang M Hariyadi Eko Romadhon.

Eko mengatakan, biasanya olah raga ini dilakukan dengan berdiri di alas yang rata. Tetapi cara ini berbeda di Lumajang. Sebab, para pemain menariknya dengan posisi tidur. Alas permainan juga tidak datar. Melainkan ada tiga lubang yang telah dibuat. Kedalamannya hanya sekitar sepuluh centimeter. Karena posisinya tidur, maka ada pijakan kaki yang terbuat dari kayu.

Lelaki yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Lumajang ini menjelaskan, posisi tidur itu memiliki makna mendalam. Sebab, setelah ditelusuri, cara ini sudah turun-temurun dari nenek moyang Lumajang. “Ini warisan leluhur. Makanya posisi tubuh itu ada filosofinya. Kalau dimainkannya dengan berdiri, kaki kita seolah-olah hanya memijakkan saja. Tetapi di sini, tidak hanya kaki saja, tubuh kita juga ikut membumi. Artinya menyatu dengan bumi,” jelasnya.

Cara ini, lanjut Eko, memberikan pesan mendalam dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai manusia hendaknya selalu membumi. Dalam keadaan apapun, manusia harus ingat untuk selalu membumi. Sebab, permainan ini mengajarkan, mereka yang bertahan dengan membumi akan menang. “Kalau pemain bandolnya terangkat bahkan berdiri, maka tarikannya maupun penahannya tidak akan kuat. Sehingga mereka dengan mudah kalah,” terangnya.

Jurnalis: Muhammad Sidikin Ali
Fotografer: Muhammad Sidikin Ali
Editor: Muchammad Ainul Budi Editor : Maulana Ijal
#Lomba 17an #Headline #HUT Kemerdekaan RI #Tarik Tambang #hut ri 77