Sementara, di beberapa kota lainnya, jalur downhill bisa berada di dalam mall (downmall) atau di perkotaan menurun (urban downhill). Namun, di track mana pun jenisnya, semuanya membutuhkan sepeda dengan spesifikasi tingkat tinggi, alias spek dewa.
Soal harga juga cukup lumayan. Terkadang, urusan suku cadang saja bisa jauh lebih mahal dari suku cadang sepeda motor. "Seperti suspensi. Untuk jenis standar bisa mencapai Rp 20 juta," terang Andik Dwi Herwanto, pesepeda downhill asal Wringintelu, Kecamatan Puger.
Beberapa spesifikasi itu, lanjut dia, memang yang utama adalah pemilihan suspensi. Ukuran standar sepeda downhill, bagian belakang minimal 170 milimeter. Sementara bagian depan, kisaran 180-200 milimeter. "Dan lagi, spare part sepeda downhill itu tidak ada tokonya. Harus inden ke luar negeri," tambah Andik.
Sementara itu, pada pabrikan sepeda yang ada saat ini, biasanya hanya menyediakan jenis kerangka utama saja, yang lebih dikenal dengan sebutan bayangan. Karena itu, para pesepeda downhill lebih sering merakit sendiri sepedanya. "Teman-teman semua di komunitas rata-rata merakit sendiri. Jadi, beli bayangannya dan belanja lainnya. Seperti rem, suspensi, pedal, dan sebagainya," ulasnya.
Tak heran, menekuni hobi ini bisa menguras kantong. Sebab, satu sepeda rakitan downhill bisa di kisaran Rp 35–100 juta. "Punya saya sekitar Rp 60 jutaan, merakit sendiri. Jadi, bisa menyesuaikan dengan kebutuhan," timpal Albert Muhaimin, Ketua JRT Jember.
Tingginya biaya suku cadang dengan spek dewa itu bukan tanpa alasan. Karena berkaitan dengan keselamatan pesepeda. Pesepeda downhill juga dilengkapi dengan helm full face khusus, mirip helm trail dengan berat lebih ringan.
Keseluruhan suku cadang itu juga untuk memberikan kepercayaan diri pesepeda downhill, memastikan track yang mereka jajaki bisa ditaklukkan. Seperti di jalur Rembangan.
Sebenarnya selain di Rembangan, ada pula track di Bukit Jenewa. Lokasinya persis di sebelah timur Alun-Alun Jenggawah. Namun, untuk trek ini masih jarang dijamah. Pesepeda downhill lebih betah ngubek-ngubek ataupun latihan di trek Rembangan.
Jurnalis: Maulana
Fotografer: IRAWAN FOR RADAR JEMBER
Editor: Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal