alexametrics
26.2 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Momentum Mempertegas Kontribusi Santri

Peringatan HSN Keenam di Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

KALIWATES, RADARJEMBER.ID – Momentum peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2021 kembali semarak, kemarin (22/10). Beberapa pelosok daerah seketika melakukan upacara untuk memperingati momentum setahun sekali tersebut. Tak hanya di wilayah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, tapi juga PCNU Kencong yang membawahi lima kecamatan di ujung selatan Jember.

Ketua PCNU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin menegaskan, peringatan Hari Santri harus menjadi momentum mendongkrak kembali kemandirian santri. Menurut dia, kiprah dan kontribusi santri perlu menyentuh ke tiap lapisan masyarakat. Salah satunya aspek perekonomian.

Harapannya, ketika ekonomi bergerak, maka dapat menuntaskan problem umat dengan melahirkan santripreneur yang punya daya saing. “Untuk mendorong agar kalangan santri lebih gigih dalam berbisnis, perlu reinterpretasi sejumlah ajaran. Yakni yang lebih memotivasi umat Islam untuk memiliki mental bisnis yang tangguh,” ucapnya dalam sambutan upacara memperingati HSN, kemarin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pria yang akrab disapa Gus Aab ini memaparkan, dari daftar orang terkaya di Indonesia, hampir tidak ada yang dari kalangan santri. “Ke depan, perlu ada motivasi lebih sehingga beberapa tahun mendatang akan banyak lahir pengusaha sukses dari kalangan santri,” tutur pria yang juga dosen Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember ini.

Lebih jauh, peringatan HSN yang tahun ini memasuki keenam kalinya, merupakan bentuk pengakuan negara atas kontribusi kalangan ulama dan santri dalam ikhtiar merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Hal itu merujuk pada Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad itu pula yang membakar semangat masyarakat pada masa itu agar gigih melawan kedatangan Belanda, yang hendak kembali menjajah Indonesia. “Resolusi itu yang mewajibkan umat Islam untuk jihad melawan penjajah. Sayangnya, selama sekian tahun, kontribusi itu kurang mendapat pengakuan sejarah. Melalui upaya para wakil kita, akhirnya sejak enam tahun yang lalu ditetapkan HSN,” terangnya.

- Advertisement -

KALIWATES, RADARJEMBER.ID – Momentum peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2021 kembali semarak, kemarin (22/10). Beberapa pelosok daerah seketika melakukan upacara untuk memperingati momentum setahun sekali tersebut. Tak hanya di wilayah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, tapi juga PCNU Kencong yang membawahi lima kecamatan di ujung selatan Jember.

Ketua PCNU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin menegaskan, peringatan Hari Santri harus menjadi momentum mendongkrak kembali kemandirian santri. Menurut dia, kiprah dan kontribusi santri perlu menyentuh ke tiap lapisan masyarakat. Salah satunya aspek perekonomian.

Harapannya, ketika ekonomi bergerak, maka dapat menuntaskan problem umat dengan melahirkan santripreneur yang punya daya saing. “Untuk mendorong agar kalangan santri lebih gigih dalam berbisnis, perlu reinterpretasi sejumlah ajaran. Yakni yang lebih memotivasi umat Islam untuk memiliki mental bisnis yang tangguh,” ucapnya dalam sambutan upacara memperingati HSN, kemarin.

Pria yang akrab disapa Gus Aab ini memaparkan, dari daftar orang terkaya di Indonesia, hampir tidak ada yang dari kalangan santri. “Ke depan, perlu ada motivasi lebih sehingga beberapa tahun mendatang akan banyak lahir pengusaha sukses dari kalangan santri,” tutur pria yang juga dosen Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember ini.

Lebih jauh, peringatan HSN yang tahun ini memasuki keenam kalinya, merupakan bentuk pengakuan negara atas kontribusi kalangan ulama dan santri dalam ikhtiar merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Hal itu merujuk pada Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad itu pula yang membakar semangat masyarakat pada masa itu agar gigih melawan kedatangan Belanda, yang hendak kembali menjajah Indonesia. “Resolusi itu yang mewajibkan umat Islam untuk jihad melawan penjajah. Sayangnya, selama sekian tahun, kontribusi itu kurang mendapat pengakuan sejarah. Melalui upaya para wakil kita, akhirnya sejak enam tahun yang lalu ditetapkan HSN,” terangnya.

KALIWATES, RADARJEMBER.ID – Momentum peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2021 kembali semarak, kemarin (22/10). Beberapa pelosok daerah seketika melakukan upacara untuk memperingati momentum setahun sekali tersebut. Tak hanya di wilayah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, tapi juga PCNU Kencong yang membawahi lima kecamatan di ujung selatan Jember.

Ketua PCNU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin menegaskan, peringatan Hari Santri harus menjadi momentum mendongkrak kembali kemandirian santri. Menurut dia, kiprah dan kontribusi santri perlu menyentuh ke tiap lapisan masyarakat. Salah satunya aspek perekonomian.

Harapannya, ketika ekonomi bergerak, maka dapat menuntaskan problem umat dengan melahirkan santripreneur yang punya daya saing. “Untuk mendorong agar kalangan santri lebih gigih dalam berbisnis, perlu reinterpretasi sejumlah ajaran. Yakni yang lebih memotivasi umat Islam untuk memiliki mental bisnis yang tangguh,” ucapnya dalam sambutan upacara memperingati HSN, kemarin.

Pria yang akrab disapa Gus Aab ini memaparkan, dari daftar orang terkaya di Indonesia, hampir tidak ada yang dari kalangan santri. “Ke depan, perlu ada motivasi lebih sehingga beberapa tahun mendatang akan banyak lahir pengusaha sukses dari kalangan santri,” tutur pria yang juga dosen Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember ini.

Lebih jauh, peringatan HSN yang tahun ini memasuki keenam kalinya, merupakan bentuk pengakuan negara atas kontribusi kalangan ulama dan santri dalam ikhtiar merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Hal itu merujuk pada Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad itu pula yang membakar semangat masyarakat pada masa itu agar gigih melawan kedatangan Belanda, yang hendak kembali menjajah Indonesia. “Resolusi itu yang mewajibkan umat Islam untuk jihad melawan penjajah. Sayangnya, selama sekian tahun, kontribusi itu kurang mendapat pengakuan sejarah. Melalui upaya para wakil kita, akhirnya sejak enam tahun yang lalu ditetapkan HSN,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/