Adu Layangan Naga Raksasa di Pesisir Puger

Layangan menjadi permainan yang cukup menarik. Seperti layangan naga ini. Belakangan, masyarakat cukup banyak yang menerbangkannya. Bahkan dibuat festival untuk menambah dan merekatkan persaudaraan antarsesama penggemar.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jika hendak liburan ke sekitar pantai selatan Jember, maka tak ada salahnya mampir sejenak ke sekitar Dusun Jadugan, Desa Mojosari, Kecamatan Puger. Di sana, tiap sore ada saja warga yang menerbangkan layang-layang naga. Pemandangan yang mungkin jarang ditemui di tempat lain selain di pesisir.

Sepintas, jika dilihat dari bentuknya, pada bagian badan layangan ini memiliki ukuran yang sangat panjang. Paling pendek 50 meter, terpanjang sampai 200 meter lebih. Sementara di bagian kepala, berdiameter sekitar satu meter, atau sekitar dua kali pelukan tangan orang dewasa.

Layangan ini dibuat dengan komponen material yang kompleks. Misal bagian kepala, ada unsur kayu dan besi sebagai kerangkanya. Lalu spons matras dan beberapa ornamen pemanis lainnya. Sementara di bagian badan naga, kerangkanya terbuat dari fiber yang dibalut dengan kain-kain poliester, serta diikat dengan tali kemudi yang disebut tali goci. Keseluruhan kepala dan badan naga ini dicat warna-warni.

Pembuat layang-layang ini sepertinya tak ingin kompromi. Semua bahan dipilih berdasar kualitas dan kekuatan. Cukup wajar, dengan tingkat kerumitan itu menghabiskan biaya pembuatan yang tak sedikit. “Sementara ini habis Rp 2 jutaan. Ini masih direncanakan nambah lagi,” kata Agus dan Rio, pemilik dan pembuat layangan naga saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Sore itu, kedua remaja tersebut datang bersama enam rekannya. Mereka berasal dari Desa Kasiyan, Kecamatan Puger. Kata mereka, cara menerbangkan “Raksasa Terpanjang” itu tak bisa sembarangan. Harus dilakukan oleh beberapa orang. Minimal lima orang. Bahkan, ketika angin bertiup cukup kencang, butuh diterbangkan oleh 15 orang lebih. “Kalau orangnya sedikit saat angin kencang, ketika menerbangkan bisa ketarik terbang juga,” tambah Rio, pemuda berjuluk “Si Rambut Keset” yang juga pemilik layangan naga.