Sepintas, jika dilihat dari bentuknya, pada bagian badan layangan ini memiliki ukuran yang sangat panjang. Paling pendek 50 meter, terpanjang sampai 200 meter lebih. Sementara di bagian kepala, berdiameter sekitar satu meter, atau sekitar dua kali pelukan tangan orang dewasa.
Layangan ini dibuat dengan komponen material yang kompleks. Misal bagian kepala, ada unsur kayu dan besi sebagai kerangkanya. Lalu spons matras dan beberapa ornamen pemanis lainnya. Sementara di bagian badan naga, kerangkanya terbuat dari fiber yang dibalut dengan kain-kain poliester, serta diikat dengan tali kemudi yang disebut tali goci. Keseluruhan kepala dan badan naga ini dicat warna-warni.
Pembuat layang-layang ini sepertinya tak ingin kompromi. Semua bahan dipilih berdasar kualitas dan kekuatan. Cukup wajar, dengan tingkat kerumitan itu menghabiskan biaya pembuatan yang tak sedikit. "Sementara ini habis Rp 2 jutaan. Ini masih direncanakan nambah lagi," kata Agus dan Rio, pemilik dan pembuat layangan naga saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.
Sore itu, kedua remaja tersebut datang bersama enam rekannya. Mereka berasal dari Desa Kasiyan, Kecamatan Puger. Kata mereka, cara menerbangkan “Raksasa Terpanjang” itu tak bisa sembarangan. Harus dilakukan oleh beberapa orang. Minimal lima orang. Bahkan, ketika angin bertiup cukup kencang, butuh diterbangkan oleh 15 orang lebih. "Kalau orangnya sedikit saat angin kencang, ketika menerbangkan bisa ketarik terbang juga," tambah Rio, pemuda berjuluk “Si Rambut Keset” yang juga pemilik layangan naga.
Cara menerbangkannya terbilang gampang-gampang susah. Susah karena harus melibatkan banyak orang, menjadi gampang jika angin sudah berpihak ke mereka.
Caranya begini. Badan hingga ekor layangan terlebih dulu dibentangkan memanjang. Begitu momentumnya tepat, mereka tinggal melepaskan bagian tubuh layangan itu dari ujung pertamanya. Secara bersamaan, sisi kepala naga juga ditarik. Sehingga memunculkan daya angkat angin terhadap layangan. Dan layangan naga pun terbang dengan begitu gagahnya. Menukik ke bawah bak predator udara yang menemukan mangsanya di darat.
Saat menerbangkan itu, beberapa warga sekitar yang kebetulan lewat Jalur Lingkar Selatan (JLS) Mojosari, seketika berhenti. Mereka tak ingin melewatkan momen kegagahan sang naga saat mengudara. “Tadi kebetulan lewat, kok ada layang-layang naga besar. Jadi berhenti sebentar. lihat-lihat," kata Yulis, pengendara yang berhenti dan mengabadikan momen tersebut.
Jurnalis: Maulana
Fotografer: Maulana
Editor: Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal