alexametrics
27.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Serunya Main Layangan Naga Raksasa Jadi Ajang Sambung Seduluran

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Selain keseruan, hal yang tak kalah menarik dari main layangan ini adalah kekompakan. Merasa memiliki kesamaan hobi yang tak jarang mereka tuangkan dalam satu kegiatan bersama. Menerbangkan layang-layang dalam satu tempat dan waktu yang sama.

Ketua Pemuda Pesisir Selatan Anak Jadugan (Pempes Aja) Muhammad Nur mengatakan, sejak 2018 lalu layangan naga mulai ada dan dikenal masyarakat. Utamanya di pesisir. Saat itu, mulai ditemui beberapa kelompok masyarakat yang menerbangkan layangan naga di lokasi tersebut.

Kemudian, setahun berikutnya, juga sempat diadakan festival layangan naga di pesisir Pantai Jadugan, Desa Mojosari, Kecamatan Puger, dengan total mencapai 200 peserta lebih. “Dari situ ternyata ada banyak kelompok dan komunitas layangan naga ini. Dari Tanggul, Jember kota, Balung, dan kecamatan lainnya,” kata Nur.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pasca-diadakannya festival itu, lanjut dia, beberapa pekan kemudian mereka semakin sering menerbangkan layangan. Biasanya tiap akhir pekan atau hari Minggu. Lalu secara bersamaan, para pencinta layangan ini dari kelompok atau komunitas, juga sempat mengadakan arisan dan kopi darat (kopdar). Kadang menerbangkan di Pesisir Puger, Watu Ulo Ambulu, Pantai Kencong, dan beberapa tempat lainnya. “Jadi mirip acara anjangsana. Tapi, kemudian sempat terhenti karena munculnya pandemi,” sambung Nur.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Selain keseruan, hal yang tak kalah menarik dari main layangan ini adalah kekompakan. Merasa memiliki kesamaan hobi yang tak jarang mereka tuangkan dalam satu kegiatan bersama. Menerbangkan layang-layang dalam satu tempat dan waktu yang sama.

Ketua Pemuda Pesisir Selatan Anak Jadugan (Pempes Aja) Muhammad Nur mengatakan, sejak 2018 lalu layangan naga mulai ada dan dikenal masyarakat. Utamanya di pesisir. Saat itu, mulai ditemui beberapa kelompok masyarakat yang menerbangkan layangan naga di lokasi tersebut.

Kemudian, setahun berikutnya, juga sempat diadakan festival layangan naga di pesisir Pantai Jadugan, Desa Mojosari, Kecamatan Puger, dengan total mencapai 200 peserta lebih. “Dari situ ternyata ada banyak kelompok dan komunitas layangan naga ini. Dari Tanggul, Jember kota, Balung, dan kecamatan lainnya,” kata Nur.

Pasca-diadakannya festival itu, lanjut dia, beberapa pekan kemudian mereka semakin sering menerbangkan layangan. Biasanya tiap akhir pekan atau hari Minggu. Lalu secara bersamaan, para pencinta layangan ini dari kelompok atau komunitas, juga sempat mengadakan arisan dan kopi darat (kopdar). Kadang menerbangkan di Pesisir Puger, Watu Ulo Ambulu, Pantai Kencong, dan beberapa tempat lainnya. “Jadi mirip acara anjangsana. Tapi, kemudian sempat terhenti karena munculnya pandemi,” sambung Nur.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Selain keseruan, hal yang tak kalah menarik dari main layangan ini adalah kekompakan. Merasa memiliki kesamaan hobi yang tak jarang mereka tuangkan dalam satu kegiatan bersama. Menerbangkan layang-layang dalam satu tempat dan waktu yang sama.

Ketua Pemuda Pesisir Selatan Anak Jadugan (Pempes Aja) Muhammad Nur mengatakan, sejak 2018 lalu layangan naga mulai ada dan dikenal masyarakat. Utamanya di pesisir. Saat itu, mulai ditemui beberapa kelompok masyarakat yang menerbangkan layangan naga di lokasi tersebut.

Kemudian, setahun berikutnya, juga sempat diadakan festival layangan naga di pesisir Pantai Jadugan, Desa Mojosari, Kecamatan Puger, dengan total mencapai 200 peserta lebih. “Dari situ ternyata ada banyak kelompok dan komunitas layangan naga ini. Dari Tanggul, Jember kota, Balung, dan kecamatan lainnya,” kata Nur.

Pasca-diadakannya festival itu, lanjut dia, beberapa pekan kemudian mereka semakin sering menerbangkan layangan. Biasanya tiap akhir pekan atau hari Minggu. Lalu secara bersamaan, para pencinta layangan ini dari kelompok atau komunitas, juga sempat mengadakan arisan dan kopi darat (kopdar). Kadang menerbangkan di Pesisir Puger, Watu Ulo Ambulu, Pantai Kencong, dan beberapa tempat lainnya. “Jadi mirip acara anjangsana. Tapi, kemudian sempat terhenti karena munculnya pandemi,” sambung Nur.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/