BACA JUGA : Geram Nama Baik Tercemar Kini Rizal Djibran Lapor Balik Sang Istri
Salah satu pembuat ogoh-ogoh, Nyono, mengungkapkan, lama pembuatan ogoh-ogoh itu bervariasi. Juga bergantung pada ukuran dan banyaknya bahan yang harus dipersiapkan. Mulai hitungan hari hingga sebulan.
"Yang dibuat di pura bisa sebulan lamanya. Ada empat ogoh-ogoh yang dibuat," ujarnya. Nyono menjelaskan, pembuatan yang cukup lama itu karena bentuk ogoh-ogoh yang rumit. Sehingga pengerjaannya harus ekstra teliti dan hati-hati.
Bahan dasar ogoh-ogoh itu cukup mudah didapatkan. Mulai dari bambu, kertas semen, lem, kanji, styrofoam hingga cat. Satu buah ogoh-ogoh yang dibuat itu bisa membutuhkan dana hingga Rp 3 juta.
"Caranya bambu itu dipotong dan diikat. Lalu, dianyam sebagai kerangka ogoh-ogoh. Setelah itu, dibungkus dengan kertas semen dan ditempelkan dengan kanji. Kemudian, dipoles dengan plamir, diwarnai cat, dan dihias," jelasnya.
Dia menambahkan, empat ogoh-ogoh yang dibuat itu memiliki peruntukannya sendiri-sendiri. "Satu untuk bapak-bapak, satu untuk ibu-ibu. Sedangkan yang paling besar untuk pengelola pura. Terakhir, yang paling kecil untuk anak-anak," tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Perayaan Ibadah Nyepi Strada Danata menyebut, ada sekitar 66 ogoh-ogoh yang akan dihadirkan pada rangkaian Nyepi tahun ini. Perinciannya, 16 ogoh-ogoh di pura dan sekitar Senduro, dua di Pasrujambe, dan 19 buah di Kecamatan Gucialit. "Di Desa Argosari sendiri, info yang kami terima ada 29 buah," katanya.
Nantinya, ogoh-ogoh itu akan diarak pada Selasa sore (21/3). Yakni pada Upacara Pengerupukan bertepatan sehari sebelum ibadah Nyepi umat Hindu. Pelaksanaannya di masing-masing desa/kecamatan.
"Di Senduro nanti akan diarak di jalanan sekitar Pura Mandhara Giri Semeru Agung. Tak hanya diarak oleh umat Hindu. Tetapi, sebagian umat lain juga terlibat dalam arak-arak ogoh-ogoh ini," pungkasnya. (kin/c2/fid)
Editor : Safitri