Tumin, salah satu petani Desa Kutorenon, mengaku kesulitan mencari pupuk tersebut. Padahal, usia tanamannya sudah membutuhkan pupuk granul. Menurut dia, hasil panen tanaman dari pupuk tersebut bisa lebih menjanjikan daripada pupuk subsidi. “Butiran pupuk granul ini lebih besar daripada lainnya. Saat ditabur ke tanaman bisa langsung jatuh ke tanamannya. Sedangkan jika subsidi, saat ditabur malah hilang terkena angin,” ungkapnya.
Hal tersebut juga dibenarkan Suherman. Salah satu pemilik kios pertanian di Dawuhan Lor, Sukodono, tersebut mengaku banyak petani mencari pupuk granul. Namun, pupuk tersebut kosong sejak sepuluh hari lalu. Padahal, petani ramai membeli pupuk. Bahkan, tidak hanya membeli satu karung, satu petani bisa membeli beberapa karung pupuk.
“Harganya mahal. Satu karung bisa sampai Rp 300 ribu. Walau begitu, yang beli juga banyak. Menurut petani, jika menggunakan pupuk granul hasilnya bisa maksimal. Makanya dicari. Tapi, di kios saya sudah lama kosong. Tidak tahu kapan akan datang lagi,” katanya.
Menanggapi itu, dia tidak terlalu pusing. Sebab, berdasarkan pengalamannya, harga mahal dan sulitnya ketersediaan pupuk nonsubsidi itu sudah biasa. Pupuk tersebut sempat tidak laku selama tujuh bulan. Selanjutnya, dalam waktu singkat laris terjual. “Sekarang kosong lagi. Banyak yang ingin membeli tetapi tidak ada,” lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang Eko Sugeng Prasetyo menjelaskan, tidak ada aturan khusus pembelian pupuk nonsubsidi. Artinya, masyarakat bebas membeli jumlah pupuk nonsubsidi. Hal tersebut sesuai kebutuhan petani dengan mempertimbangkan luasan lahan. Sebab, sejatinya petani sudah diberikan kuota pupuk subsidi dari pemerintah.
“Di luar subsidi, tidak ada ketentuan. Mau beli berapa pun, silakan saja. Jika subsidi, sudah ada kuota untuk masing-masing petani. Kalau memang kurang, bisa dipenuhi dari pupuk nonsubsidi. Yang jelas, penggunaan pupuk sesuai anjuran pemerintah. Tidak harus granul. Bisa pupuk organik lainnya,” pungkasnya.
Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Muhammad Sidkin Ali
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Safitri