Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ruwatan Sederhana di Desa Labruk Lor Bentuk Syukur dan Usir Pandemi

Safitri • Kamis, 12 Agustus 2021 | 17:41 WIB
RUWATAN: Suasana ruwatan di tengah sawah di Desa Labruk Lor, Kecamatan Lumajang, Selasa lalu (10/8). Ruwatan dilaksanakan sebagai bentuk syukur masyarakat setempat.
RUWATAN: Suasana ruwatan di tengah sawah di Desa Labruk Lor, Kecamatan Lumajang, Selasa lalu (10/8). Ruwatan dilaksanakan sebagai bentuk syukur masyarakat setempat.
LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Satu Muharam atau awal Tahun Baru Hijriah biasa diperingati oleh masyarakat Jawa lewat gelaran serangkaian acara adat dan budaya. Namun, di masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level empat, sejumlah kegiatan tidak bisa terlaksana maksimal. Meski demikian, sejumlah desa tetap melakukan tradisi tersebut dengan sederhana.

Seperti di Desa Labruk Lor, Kecamatan Lumajang, Selasa lalu (10/8). Masyarakat tetap menggelar tradisi dengan sejumlah aturan pemberlakuan kegiatan seni dan budaya. Tradisi tersebut adalah ruwatan desa.

Akan tetapi, ruwatan tersebut berbeda dengan sebelum pandemi. Biasanya, rangkaian ruwatan panjang dan lama. Namun, kali ini pihak desa hanya menggelar pertunjukan wayang dan doa bersama.

"Setiap satu Muharam atau satu Sura, kami melakukan tradisi pangruwatan desa sebagai ungkapan syukur atas keberkahan yang diterima. Terutama hasil panen pertanian yang melimpah. Dan di masa pandemi ini, kami tidak bisa melakukan semua rangkaian tradisi. Jadi, kami mengambil pokoknya saja. Yakni pangruwatan desa dan istighotsah," kata Kepala Desa Labruk Lor Abdullah.

Masyarakat setempat meyakini, hasil panen tersebut harus dirayakan dengan suka cita. Salah satunya dengan ruwatan. Sebab, selama beberapa tahun terakhir lahan pertanian mereka tidak diganggu oleh hama. Mereka berharap hasil panen tersebut tetap melimpah di musim mendatang. "Pernah tiga tahun berturut-turut tidak panen. Oleh karena itu, kami meyakini untuk menggelar ruwatan," tambahnya.

Dia melanjutkan, setiap ruwatan digelar, masyarakat setempat bisa melunasi pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB). Meski tidak serentak, mereka membayar sebelum jatuh tempo. "Wujud hasil panen melimpah dengan membayar PBB lunas seratus persen sebelum jatuh tempo," lanjutnya.

Pihaknya berharap, ruwatan bisa menjadi perantara agar pandemi segera berakhir. Sebab, ruwatan tersebut tidak hanya untuk pertanian, melainkan juga ruwatan masyarakat setempat. "Masyarakat sangat tertekan dengan pandemi ini," pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Muhammad Sidkin Ali
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri
#Desa #Budaya #Lumajang