Seperti di Desa Labruk Lor, Kecamatan Lumajang, Selasa lalu (10/8). Masyarakat tetap menggelar tradisi dengan sejumlah aturan pemberlakuan kegiatan seni dan budaya. Tradisi tersebut adalah ruwatan desa.
Akan tetapi, ruwatan tersebut berbeda dengan sebelum pandemi. Biasanya, rangkaian ruwatan panjang dan lama. Namun, kali ini pihak desa hanya menggelar pertunjukan wayang dan doa bersama.
"Setiap satu Muharam atau satu Sura, kami melakukan tradisi pangruwatan desa sebagai ungkapan syukur atas keberkahan yang diterima. Terutama hasil panen pertanian yang melimpah. Dan di masa pandemi ini, kami tidak bisa melakukan semua rangkaian tradisi. Jadi, kami mengambil pokoknya saja. Yakni pangruwatan desa dan istighotsah," kata Kepala Desa Labruk Lor Abdullah.
Masyarakat setempat meyakini, hasil panen tersebut harus dirayakan dengan suka cita. Salah satunya dengan ruwatan. Sebab, selama beberapa tahun terakhir lahan pertanian mereka tidak diganggu oleh hama. Mereka berharap hasil panen tersebut tetap melimpah di musim mendatang. "Pernah tiga tahun berturut-turut tidak panen. Oleh karena itu, kami meyakini untuk menggelar ruwatan," tambahnya.
Dia melanjutkan, setiap ruwatan digelar, masyarakat setempat bisa melunasi pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB). Meski tidak serentak, mereka membayar sebelum jatuh tempo. "Wujud hasil panen melimpah dengan membayar PBB lunas seratus persen sebelum jatuh tempo," lanjutnya.
Pihaknya berharap, ruwatan bisa menjadi perantara agar pandemi segera berakhir. Sebab, ruwatan tersebut tidak hanya untuk pertanian, melainkan juga ruwatan masyarakat setempat. "Masyarakat sangat tertekan dengan pandemi ini," pungkasnya.
Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Muhammad Sidkin Ali
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri