alexametrics
28.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Dampak PPKM, Kedai Kopi di Lumajang Mulai Kibarkan Bendera Putih

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Dampak pembatasan kini makin terasa bagi mereka yang memiliki usaha kedai kopi dan depot di Lumajang. Sebab, selama sebulan penghasilan mereka berkurang. Bahkan, ada beberapa warung yang tetap memilih bertahan dengan merumahkan sebagian besar karyawan.

Meskipun beberapa waktu lalu sempat mendapat bantuan beras, namun urusan pemasukan tidak ada perubahan. Apalagi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) telah diperpanjang dua kali. Semua kegiatan di luar rumah dibatasi.

Kondisi itu membuat pendapatan warung kopi makin sepi. Wildan Januar, salah satu pemilik kedai kopi di Jalan Kapten Suwandak, mengatakan, sejak pembatasan pertama berlangsung, dirinya mulai mengatur jadwal karyawan yang bekerja di tempatnya. Jika biasanya jam kerja dibagi menjadi dua sif, saat awal pembatasan itu hanya menjadi satu sif kerja.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selanjutnya, saat PPKM diputuskan untuk diperpanjang sampai 21 Juli lalu, dirinya mulai mengurangi jam kerja karyawannya. Sebab, pendapatan kedai semakin merosot. Dirinya juga ikut turun bekerja dengan karyawannya untuk menekan biaya pengeluaran. “Omzet turun drastis, ya, saya harus ikut berjaga untuk menyesuaikan pendapatan,” katanya.

Namun, ketika PPKM kembali diperpanjang selama sepekan, sejak Selasa (3/8) lalu, akhirnya terpaksa merumahkan karyawannya. Sebab, omzet kedai miliknya hanya cukup untuk memberikan gaji beberapa orang. “Karyawan saya sudah saya rumahkan. Kalau diperpanjang, bisa-bisa saya yang dirumahkan,” tambahnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Dampak pembatasan kini makin terasa bagi mereka yang memiliki usaha kedai kopi dan depot di Lumajang. Sebab, selama sebulan penghasilan mereka berkurang. Bahkan, ada beberapa warung yang tetap memilih bertahan dengan merumahkan sebagian besar karyawan.

Meskipun beberapa waktu lalu sempat mendapat bantuan beras, namun urusan pemasukan tidak ada perubahan. Apalagi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) telah diperpanjang dua kali. Semua kegiatan di luar rumah dibatasi.

Kondisi itu membuat pendapatan warung kopi makin sepi. Wildan Januar, salah satu pemilik kedai kopi di Jalan Kapten Suwandak, mengatakan, sejak pembatasan pertama berlangsung, dirinya mulai mengatur jadwal karyawan yang bekerja di tempatnya. Jika biasanya jam kerja dibagi menjadi dua sif, saat awal pembatasan itu hanya menjadi satu sif kerja.

Selanjutnya, saat PPKM diputuskan untuk diperpanjang sampai 21 Juli lalu, dirinya mulai mengurangi jam kerja karyawannya. Sebab, pendapatan kedai semakin merosot. Dirinya juga ikut turun bekerja dengan karyawannya untuk menekan biaya pengeluaran. “Omzet turun drastis, ya, saya harus ikut berjaga untuk menyesuaikan pendapatan,” katanya.

Namun, ketika PPKM kembali diperpanjang selama sepekan, sejak Selasa (3/8) lalu, akhirnya terpaksa merumahkan karyawannya. Sebab, omzet kedai miliknya hanya cukup untuk memberikan gaji beberapa orang. “Karyawan saya sudah saya rumahkan. Kalau diperpanjang, bisa-bisa saya yang dirumahkan,” tambahnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Dampak pembatasan kini makin terasa bagi mereka yang memiliki usaha kedai kopi dan depot di Lumajang. Sebab, selama sebulan penghasilan mereka berkurang. Bahkan, ada beberapa warung yang tetap memilih bertahan dengan merumahkan sebagian besar karyawan.

Meskipun beberapa waktu lalu sempat mendapat bantuan beras, namun urusan pemasukan tidak ada perubahan. Apalagi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) telah diperpanjang dua kali. Semua kegiatan di luar rumah dibatasi.

Kondisi itu membuat pendapatan warung kopi makin sepi. Wildan Januar, salah satu pemilik kedai kopi di Jalan Kapten Suwandak, mengatakan, sejak pembatasan pertama berlangsung, dirinya mulai mengatur jadwal karyawan yang bekerja di tempatnya. Jika biasanya jam kerja dibagi menjadi dua sif, saat awal pembatasan itu hanya menjadi satu sif kerja.

Selanjutnya, saat PPKM diputuskan untuk diperpanjang sampai 21 Juli lalu, dirinya mulai mengurangi jam kerja karyawannya. Sebab, pendapatan kedai semakin merosot. Dirinya juga ikut turun bekerja dengan karyawannya untuk menekan biaya pengeluaran. “Omzet turun drastis, ya, saya harus ikut berjaga untuk menyesuaikan pendapatan,” katanya.

Namun, ketika PPKM kembali diperpanjang selama sepekan, sejak Selasa (3/8) lalu, akhirnya terpaksa merumahkan karyawannya. Sebab, omzet kedai miliknya hanya cukup untuk memberikan gaji beberapa orang. “Karyawan saya sudah saya rumahkan. Kalau diperpanjang, bisa-bisa saya yang dirumahkan,” tambahnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/