Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Anaknya Dibunuh, Keluarga Menuntut Hukuman Berat. Begini Kronologinya

Safitri • Senin, 9 Agustus 2021 | 19:01 WIB
TAK MENYANGKA: Hendrik Wahyudi, kakak korban pembunuhan bulan Juli lalu menunjukkan foto Widi Septian. Kini, dia dan keluarganya berharap, pelaku dihukum seberat-beratnya.
TAK MENYANGKA: Hendrik Wahyudi, kakak korban pembunuhan bulan Juli lalu menunjukkan foto Widi Septian. Kini, dia dan keluarganya berharap, pelaku dihukum seberat-beratnya.
LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ingatan keluarga tentang pelajar kelas tiga tersebut masih membekas hingga saat ini. Suliami, ibunda korban, tidak pernah menyangka anak bungsunya harus meninggal dalam keadaan mengenaskan. Bagaimana tidak, dia hanya tahu anaknya sedang pergi keluar bersama temannya, malam itu. Namun, hari selanjutnya anaknya pulang dalam keadaan tak bernyawa.

“Tidak menyangka Widi (anaknya, Red) meninggal seperti itu. Tidak percaya kalau dengar kabar bahwa anak saya sudah meninggal. Saya tahunya anak saya kecelakaan dan tangannya patah. Tapi, justru anak saya meninggal dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya, kemarin.

Widi, sapaan korban, sehari-harinya dikenal baik. Dia tidak pernah pulang larut malam. Namun, saat dia keluar di waktu kejadian tersebut, Suliami dan keluarga lainnya mencari ke rumah teman-temannya. Sebab, dia memiliki banyak teman yang tersebar di Lumajang. “Hari selanjutnya, saya tetap mencari ke rumah temannya,” katanya.

Namun, pencarian itu tidak berjalan sesuai kehendaknya. Widi dibunuh dengan brutal oleh tiga remaja. Mirisnya, salah satu pelaku adalah teman dekat korban. Bahkan, pelaku berinisial AK tersebut sudah dianggap anaknya sendiri. Sebab, pelaku sering menginap dan bermain di rumahnya.

“Kalau dia main ke sini, selalu saya minta untuk makan di sini. Ngobrol sampai malam dan sering menginap juga. Bahkan, kalau dia mau pulang, selalu saya beri uang saku. Pakaian mulai baju dan jaket selalu gantian dengan anak saya. Kalau pulang malam itu, anak saya mengantar dan meminjami jaketnya,” jelasnya.

Sementara itu, Hendrik Wahyudi, kakak korban, berharap pelaku dihukum dengan berat. Sebab, pengakuan pelaku saat jumpa pers, Jumat lalu, Widi sudah minta maaf. Namun, hal tersebut tidak membuat mereka berhenti. Dua buah celurit dan batu tetap melukai korban. Padahal, Yudi, sapaan akrabnya, selalu mewanti agar adiknya tidak bertengkar. Apalagi hanya persoalan HP dan sepeda motor dengan temannya.

“Saya semakin emosi saat tahu pengakuan tersangka. Adik saya sudah meminta maaf dan menangis. Tapi, tidak dihiraukan pelaku. Oleh karena itu, jangan sampai pelaku ini hanya dihukum 15 tahun saja. Kami minta jangan sampai bebas. Kalau bebas, bisa jadi nanti dia berulah lagi. Waktu kecil sudah berani, apalagi saat besar,” ujarnya.

Selain itu, dia juga mengatakan bahwa keluarga pelaku tidak perlu datang meminta maaf. Sebab, dia dan keluarganya tidak akan memaafkan perbuatan kejam. Bagaimanapun, rasa iri, dendam, dan masalah lain bisa diselesaikan dengan baik. Bukan justru dibunuh dengan kejam seperti itu. “Saya punya ibu, istri, dan anak. Jangan sampai mereka ke sini. Saya khawatir, saya kalut dan gelap malah jadi emosi dan memperpanjang masalah,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Atieqson Mar Iqbal
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Safitri
#Pembunuhan #Lumajang