Radar Jember - Dari hutan sunyi menuju desa yang diberkahi, Sumberjeruk menghidupkan kembali kisah leluhurnya lewat babad karya Cak Syid.
Warisan tutur pun disulap jadi tulisan, menyalakan api ingatan dan identitas budaya lokal.
Sumberjeruk, sebuah desa yang secara administratif berada di Kecamatan Kalisat menyimpan kisah panjang yang lahir dari tutur lisan, aroma tembakau, dan denyut spiritual para leluhur.
Melalui upaya budayawan asal Desa Biting, Kecamatan Arjasa, Cak Syid, sapaan akrab Abdur Rasyid, riwayat desa ini dibukukan ke dalam bentuk babad.
Sebuah dokumentasi tradisional yang bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pantulan identitas dan jiwa masyarakatnya.
Menurut Cak Syid, asal-usul Desa Sumberjeruk bermula dari kisah seorang tokoh bernama Tresnopati, sosok keturunan Blambangan yang konon mendapatkan petunjuk dalam mimpinya tentang sebuah tanah yang diberkahi.
Pada akhir 1800-an, ketika wilayah ini masih berupa hutan kecil nan sunyi, Tresnopati mengembara dari Bondowoso menuju selatan.
Dalam perjalanan, bertemu seorang saudaranya yang berpengaruh dan dibekali seorang abdi untuk menemaninya membuka lahan.
Di tengah lebatnya hutan, Tresnopati berjumpa dengan Ki Udan Panas, sosok misterius yang diyakini sebagai pertapa penjaga tempat.
Bukannya menghalangi, Ki Udan justru memberi restu kepada Tresnopati untuk membabat hutan, dengan keyakinan bahwa tanah itu akan dibuka oleh darah Blambangan.
Kisah mistis tak berhenti sampai di situ.
Saat membabat hutan, Tresnopati merasa haus dan mencari air.
Petunjuk dari Ki Udan Panas mengarahkannya ke sebuah sumber air di bawah Gumuk Salam, bukit kecil di wilayah Sumberjeruk.
Di situlah ditemukan mata air jernih yang kelak dinamakan Sumber Sari.
"Hingga kini, air dari sumber ini masih digunakan untuk ritual desa, seperti selamatan dan syukuran sumur baru," ungkap Cak Syid.
Dari peristiwa ini lahir sebutan “Sumber Jeru”, yang dalam bahasa lokal berarti sumber yang dalam.
Namun, seiring kedatangan warga Madura, termasuk istri Tresnopati, Nyai Sadimah dari Batu Ampar, Pamekasan, lafal "Jeru" berubah menjadi "Jeruk".
Nama ini melekat dan diwariskan hingga kini sebagai identitas desa.
Seiring terbukanya hutan, kehidupan perlahan tumbuh.
Awalnya pasokan makanan dan kebutuhan hidup dikirim dari Bondowoso.
Bahkan melalui Sungai Bedadung, jalur penting masa itu.
Ketika masyarakat mulai bercocok tanam, lahirlah komoditas unggulan, tembakau kasturi.
Varietas yang memiliki dua varian khas Sumberjeruk, yaitu Si Mawar dan Kembang Jambe.
Perlahan, Sumberjeruk berubah dari perkampungan kecil beratap ijuk dan alang-alang, menjadi desa agraris yang ramai.
Migrasi besar-besaran dari Madura ke Jember Utara di era 1800-an turut mengisi desa ini.
Dengan banyak warga menetap sebagai petani dan membangun kehidupan.
Kisah-kisah itu adalah warisan tutur.
Cak Syid banyak mendengar, mengumpulkan dan merakit benang-benang merah dari banyak sumber, warga lokal.
Upaya menulis Babad Sumberjeruk menjadi sebuah perjuangan budaya tersendiri.
Cak Syid mengumpulkan kisah dari berbagai tokoh tua, keturunan langsung Tresnopati, serta penutur tradisional.
Dia menyadari pentingnya mengubah cerita tutur menjadi tulisan, agar tidak lenyap ditelan zaman.
“Saya menulis ini secara tradisional, karena ini warisan leluhur yang harus diselamatkan. Harapannya, suatu saat bisa diteliti secara ilmiah oleh para akademisi,” tuturnya seusai membacakan Babad Sumberjeruk depan umum untuk kali pertama gelaran Merokat Kenangan di Sudut Kalisat, Kecamatan Kalisat, 24 Mei lalu.
Lebih dari sekadar dokumentasi, Babad Sumberjeruk diharapkan menjadi bahan bacaan tahunan dalam selamatan desa.
Juga menjadi medium pendidikan karakter bagi generasi muda.
Agar mereka tak hanya tahu asal usulnya, tapi juga bangga dan merasa memiliki.
Sumberjeruk, dalam kesaksian Cak Syid, bukan hanya desa agraris biasa.
Ia adalah desa yang tenteram, di mana carok dan perkelahian nyaris tak terdengar.
Suasana damai ini diyakini merupakan warisan dari proses awal pembukaan desa yang dipenuhi nilai spiritual dan gotong royong.
“Agamis, tapi santai,” kata pelaku budaya itu.
Sumberjeruk adalah cermin dari kisah banyak desa di Indonesia yang lahir dari hutan.
Dibentuk oleh mimpi dan kerja keras, lalu dijaga dengan doa dan nilai-nilai luhur.
Melalui babad ini, bukan hanya jejak sejarah yang terselamatkan, tapi juga api semangat untuk mengenali dan mencintai akar sendiri.
"Sebab yang hilang bukan hanya pohon-pohon tua, tapi juga kisah di balik akar yang tumbuh," pungkasnya.
Babad Sumberjeruk bukan yang pertama dan bukan pula yang terakhir.
Setelah berhasil membuat Babad Biting lantas Sumberjeruk, Cak Syid bersama komunitasnya dari Rumah Wetan berencana melanjutkan penulisan babad ke desa-desa lain seperti Kalisat, Sumberkalong, dan desa-desa di Jember Utara.
Dengan begitu, identitas budaya lokal tak hanya diingat, tapi dibangkitkan dalam bentuk karya nyata. (sil/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh