PUGER, Radar Jember - Kasus remaja 18 tahun yang tega menghabisi ayah kandungnya dengan cara dipenggal kepalanya, di Dusun Jadugan, Desa Mojosari, Puger, Jember (27/1), sejauh ini terus didalami oleh kepolisian.
Hasil perkembangan kasus itu menujukan, motif pelaku tidak sekedar lantaran permintaannya dibelikan sepeda motor oleh ayahnya yang tidak sesuai, namun ada faktor lain.
Pelaku diduga mengalami teror dan merasa terus dipantau oleh hacker.
Informasi tersebut didapatkan kepolisian melalui keterangan sejumlah keluarganya, usai insiden berdarah yang berlangsung dinihari kemarin (27/1).
Bahkan, akibat merasa terus diawasi oleh hacker itu, pelaku juga didapati sering mengurung diri di kamar.
Menunjukkan tanda-tanda depresi hingga diduga mengalami gangguan kepribadian yang membuat pelaku tidak percaya dan curiga berlebihan terhadap orang lain atau paranoid.
Kapolres Jember, AKBP Bayu Pratama Gubunagi, menyebut masih terus mendalami kebenaran motif pelaku tersebut.
"Kami masih dalami informasi (diteror hacker, Red) itu, karena info tersebut disampaikan oleh pihak keluarga dan harus kami pastikan kembali kebenarannya," urai Bayu, kepada Jawa Pos Radar Jember, Selasa petang (28/1).
Hingga petang kemarin (28/1), pelaku AK, 18, masih terkapar dan menjalani perawatan intensif di RSD dr. Soebandi Jember.
AK terpaksa dirujuk dari RSD Balung ke RSD dr. Soebandi, lantaran menderita luka sayatan di bagian leher jakun, area pernapasan, sepanjang sekitar 7 centimeter. Luka itu akibat AK nekat mengakhiri hidupnya setelah menghabisi sang ayah.
Bayu menambahkan, polisi belum bisa meminta keterangan lebih lanjut terhadap AK karena kondisinya yang belum memungkinkan.
Terlebih, AK hanya membuka diri berbicara hanya kepada keluarganya saja.
Meski hanya mendapatkan petunjuk dari keterangan keluarga itu, Bayu menegaskan polisi juga telah mengamankan handphone milik AK, sebagai barang bukti untuk pengembangan kasusnya dan mendalami motif yang sebenarnya.
Editor : M. Ainul Budi