Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sudah Sering Ditertibkan, Pengemis di Kawasan Kota Jember Tetap Balik ke Jalanan

Radar Digital • Selasa, 19 Desember 2023 | 17:40 WIB
BAGAIMANA INI?: Badut bersaing dengan pengamen di sekitar Geladak Kembar dengan membawa anak.
BAGAIMANA INI?: Badut bersaing dengan pengamen di sekitar Geladak Kembar dengan membawa anak.

KALIWATES, Radar Jember – Program pengentasan kemiskinan layak menjadi prioritas setiap tahun. Ini karena banyak orang yang tetap menjadi pengemis. Alasannya klasik. Mereka mengemis karena miskin. Bisa jadi, juga karena tidak punya pekerjaan atau menjadikannya sebagai pekerjaan.

Baru-baru ini, pengemis badut terpantau menggendong bayi di bawah lima tahun (balita) saat beroperasi di jalanan. Ada yang di traffic light Geladak Kembar Kelurahan Kepatihan, Kecamatan  Kaliwates dan ada pula yang di sekitar kampus. Bahkan, saat menggendong balita, si badut tampak bersaing dengan pengamen yang juga ada di lampu merah.

Pengemis badut maupun yang lain sejatinya telah sering ditertibkan. Sayangnya, ada sentuhan yang tidak tepat, sehingga banyak yang balik ke jalanan lagi. “Bisa jadi pemberdayaannya tidak tepat, sehingga mereka balik lagi,” kata Asmuni, salah seorang pengendara yang sempat berhenti di lampu merah Geladak Kembar.

Menurutnya, pemerintah perlu melakukan penanganan tuntas. Mulai dari penertiba, pemberdayaan, hingga memastikan warga tidak kembali menjadi pengemis di jalanan lagi. “Apalagi ini sampai membawa anak, perlu penanganan yang tepat,” jelasnya.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jember, Akhmad Helmi Luqman, menyampaikan penanganan terhadap pengemis badut sesuai dengan Perda nomor 5 tahun 2014. Dalam penindakannya, diawali dengan penertiban Satpol PP, setelah itu diserahkan pada Dinsos Jember.

Dinsos, kemudian akan berkomunikasi dengan RT, RW, dan keluarga domisili pengemis tersebut. "Sehingga ketika lingkungan sekitarnya tahu bahwa ia bekerja sebagai pengemis, nantinya yang diharapkan adalah efek jera pada pelaku," tuturnya. Biasanya para pengemis badut tersebut, dari rumah tidak langsung menggunakan badut. Tetapi dia berangkat menggunakan baju normal layaknya orang akan bekerja setiap pagi.

Kemudian, Dinsos berupaya agar warga tersebut tidak mengemis lagi. "Jika itu terkait kebutuhan anak, maka nantinya Dinsos akan memberikan bantuan susu dan kebutuhan lainnya secara berkala," ucapnya.

Tetapi jika memang ingin berusaha, nantinya Dinsos akan memberikan bantuan pelatihan dan juga bantuan barang untuk usahanya. "Jadi bukan berupa uang yang akan kami berikan kepada mereka," jelasnya kemarin (17/12).

Selain penanganan dari Dinsos dan Satpol PP, Dinsos juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepeduliannya terhadap warga sekitar. Bukannya pemerintah tidak mampu untuk menangani, tetapi jika semuanya dilakukan pemerintah nantinya bentuk empati masyarakat akan hilang.

Langkah selanjutnya yang bisa dilakukan sebagai upaya pencegahan yakni menelusuri, apakah pengemis tersebut berasal dari grup yang terkoordinir atau tidak. Jika sudah terkoordinir, maka orang yang mengoordinir tersebut akan mendapatkan hukuman yang cukup berat dan denda sebesar Rp 50 juta. "Kalau tidak terkoordinir nanti akan dilakukan pembinaan," terangnya.

Pengecekan secara rutin terus dilakukan oleh Dinsos bersama Satpol PP. Dalam seminggu sekitar 3 kali mengecek pada pengemis di Jember. Semoga ke depan pengemis di Jember semakin sadar untuk tidak lagi mengemis dan berganti kepada pekerjaan lain yang lebih mulia. (cad/nur)

 

Editor : Radar Digital
#Jember #badut #jalanan