BACA JUGA : Sampah di Laut, Ganggu Keluar Masuknya Perahu
Irma mengaku senang atas pencapaiannya. Itu juga menjadi motivasi untuk terus menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dengan lebih baik dalam kehidupan sehari-hari. Dia mengaku tidak akan menyia-nyiakan capaiannya itu dalam ajang yang diadakan Paguyuban Duta Budaya Jawa Timur.
Dia menjelaskan, persiapan yang dilakukannya adalah lebih mempelajari kebudayaan yang berada di Jember. Dirinya mempelajari tentang kebudayaan kotanya sendiri terlebih dahulu. Seperti belajar dari platform media sosial, mendatangi Museum Tembakau sebagai ikon Jember. Dia pun mencermati apa yang telah disampaikan pemandu. Lantas, dalam lomba dia tak canggung untuk mengulas potensi budaya dan kekayaan alam di Jember. “Ini ilmu baru untuk saya," katanya.
Selain itu, dirinya ingin menjalin silaturahmi yang lebih luas. Melalui ajang Duta Budaya di kategori best speech, pastinya ia akan menjumpai orang-orang hebat yang bisa dijadikan relasi yang bermanfaat bagi karirnya ke depan. Dalam pemilihan, ia bisa melatih pengetahuan, wawasan kebahasaan dan kesastraan, juga tentang soft skill seperti public speaking. "Melihat Jember sebagai kota yang memiliki segudang kebudayaan,” ulasnya.
Dia mengaku sering bertemu teman dan banyak orang di luar Jember dan mereka mengenal Jember karena JFC. Sebuah kebudayaan Jember yang fenomenal dan mendunia. Di situ, dia pun ingin mengenalkan Jember, selain dijuluki sebagai Kota Karnaval, Jember juga punya kebudayaan yang beragam seperti tari Lahbako atau tari mengolah tembakau. “Musik Patrol, larung sesaji Papuma, dan masih banyak lagi,” jelas mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi, Institut Teknologi Sains Mandala (ITSM) Jember itu.
Saat tampil di Surabaya, dia pun sempat diwawancarai mengenai kebudayaan apa di Jember selain JFC. Hal ini yang membuatnya tertantang untuk terus mengenalkannya ke dunia. “Jember sebagai kota yang menarik, unik, dan memiliki keindahan harus dilestarikan," kata perempuan yang tinggal di Jalan Basuki Rahmat 7, Lingkungan Gumuksari, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, itu.
Dalam persiapan Pemilihan Duta Budaya Jawa Timur kategori best speech, Irma mengaku mempersiapkan mental, pengetahuan, wawasan, serta bahasa asing dan bahasa daerah. “Kemudian public speaking juga memiliki pengaruh yang besar,” tegasnya.
Sebenarnya ada beberapa rangkaian untuk seleksinya. Mulai dari tes administrasi secara daring, tes tahap 1 dan 2, wawancara, hingga penentuan finalis. Selanjutnya, memasuki prakarantina yang dilaksanakan daring. Terakhir, masuk karantina di Country Heritage Hotel dan grand final.
Selain itu, dirinya juga latihan tari pakem Duta Budaya “Beksan Medangkungan” bersama seluruh finalis. Selanjutnya, grand final untuk pemilihan Top 7 dengan membawakan speech satu per satu. Lalu, menentukan Top 3.
Meski mendapatkan hasil yang baik di pemilihan duta budaya, Irma dihadapkan dengan kendala. Salah satunya adalah sponsor. “Untuk mencari sponsor seperti busana sedikit mengalami kesulitan. Harapan saya semoga dengan sash (selempang) yang ada di bahu saya ini, saya dapat mengemban tugas baru, sebagai keluarga besar Duta Budaya Jawa Timur.
Dengan tanggung jawab dan amanah itu, Irma mengaku itu sebuah kehormatan dan kebanggaan tersendiri. Dia pun menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dan mendukung. “Baik dari kampus tercinta ITS Mandala yang selalu support penuh, keluarga, maupun rekan-rekan lainnya,” pungkasnya. (c2/nur)
Editor : Safitri