Vita memang menggemari aneka kuliner dengan cita rasa pedas. Ia pun mulai membuat bakso kuah pedas dan pentol isian cabai sejak lima tahun lalu. Dipasarkan melalui media social, kala itu ia membuat dengan berat satu kilogram. Dan tiga bulan terakhir ini, Vita memberanikan diri membuka stan bakso dengan jumlah produksi setiap harinya yang mencapai 50 kilogram. Jika saat libur akhir pekan, Vita bisa memproduksi bakso hingga 80 kilogram.
“Awalnya memang dari dulu saya berjualan bakso ini di Facebook. Tapi, berhubung sekarang musimnya korona, kenapa enggak saya beri nama korona saja. Biar mudah dikenal,” ungkap perempuan 30 tahun itu.
Di kedai Bakso Corona milik Vita, pengunjung dapat menjumpai sembilan varian menu bakso. Mulai dari aneka bakso berukuran jumbo hingga yang mini. Semua varian itu identik dengan cita rasa pedas. Di antara sembilan varian menu itu, yang menjadi primadona adalah Bakso Corona. Sedangkan yang paling unik adalah bakso pelangi.
Bakso Corona memiliki tekstur lembut. Ada irisan cabai yang dicampur dengan adonan bakso. Sehingga bulatan baksonya nampak irisan-irisan cabai merah. Cita rasa pedasnya membuat pengunjung yang menyantap sampai gobyos meneteskan keringat.
Kendati sangat pedas, namun Bakso Corona punya banyak penggemar. Bahkan yang paling cepat ludes. Setiap harinya, Vita memasak 20 kilogram daging untuk diolah menjadi pentol. “Bakso Corona itu cabainya diiris-iris. Kalau adonan 10 kilogram, cabainya lima kilogram yang diiris. Jadi pedes banget,” kata Vita.
Sedangkan bakso pelangi adalah bakso yang memiliki lapisan warna putih, ungu, merah, hijau, dan merah muda. Bakso pelangi tidak ada cita rasa pedas sama sekali, melainkan gurih dan sedap. Teksturnya lebih padat dari Bakso Corona. Jika digigit, bakso pelangi lebih lembut dibanding jenis corona. Setiap harinya, Vita memproduksi bakso pelangi sebanyak 10 kilogram.
“Bakso pelangi sama seperti bakso biasa. Kami warnai pakai pewarna makanan yang premium, jadi aman. Sebab, kalau pakai pewarna sayur, warnanya luntur. Padahal waktu dimasak warnanya cantik,” tuturnya.
Jurnalis: Dian Cahyani
Fotografer: Delfi Nihayah
Editor: Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal