“Rumahnya belok kanan,” ucap Umi Salma, Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Patrang, memandu para polisi itu. Di gang yang hanya cukup satu motor tersebut, terdapat rumah warna hijau dengan pagar besi putih. Di dalam rumah inilah ada sesosok wanita tangguh. Dia adalah Rimawati, seorang janda dengan tiga anak penyandang disabilitas.
Pipi Rimawati seketika mengembang saat menyambut tamu yang datang memberi tali asih kepadanya itu. Kasatlantas Polres Jember AKP Jimmy Heryanto Manurung tampak berbincang dengan putra pertama Rimawati, Setia Budi Wicaksono, yang mengalami hambatan intelektual. Perbincangan mereka cukup menarik. Tentang ikan yang menjadi hobi dan direncanakan menjadi bisnisnya anak sulung Rimawati itu. “Punya ikan predator? Itu lebih susah, ya, kembang biaknya,” ucap Jimmy, membuka pembicaraan.
Tri Astini, guru SLB Patrang, selanjutnya membicarakan putri Rimawati yang bernama Ines. Dia juga punya kegiatan bermain TikTok. “Ines juga punya kegiatan sekarang, bermain TikTok, ya?” tuturnya. Bahkan, kata Tri Astini, konten TikTok Ines juga sempat viral hingga didatangi youtuber asal Jakarta untuk diajak kolaborasi. “Jadi, Ines dan Setia Budi follower-nya juga banyak di TikTok,” ucap mantan guru SLB Bintoro yang pernah mendidik Ines dan Setia, tersebut.
Tri Astini mengatakan, tiga anak Rimawati adalah penyandang disabilitas. Bukan cacat fisiknya, tapi mentalnya. Untuk anak pertamanya, Setia Budi, mengalami hambatan intelektual, sedangkan Ines Ratna Yunita mengalami slow learner atau sebutan untuk anak yang sulit mempelajari sesuatu. Ines dan Setia juga telah dewasa dan sudah lulus dari SLB Bintoro.
Namun, ada satu lagi putra Rimawati bernama Rizki Andre yang juga difabel. Dia menyandang autisme. “Kalau berbicara tingkat keparahan, adalah Andre,” tuturnya.
Sementara itu, sekitar sembilan tahun lalu atau 2012, suami Rimawati meninggal dunia. Karena itu, dia seorang diri membesarkan ketiga anaknya itu. Perempuan kelahiran 1963 yang bekerja sebagai ASN di PU Bina Marga Provinsi Jatim UPT Peningkatan Jalan tersebut kini telah memasuki masa persiapan pensiun (MPP) dan sekitar satu tahun lagi sudah pensiun.
Dia mengaku, sebelum tinggal di Jember, dirinya pernah tinggal di Semarang bersama suaminya. Hingga akhirnya mengajukan pindah kerja dan dikabulkan bertugas di Jember dengan maksud agar dekat dengan orang tuanya. “Dulu Andre tinggal di Semarang,” terangnya.
Lantaran suaminya yang bekerja di Semarang dan kini telah meninggal, akhirnya semua keluarga tinggal bersama Rimawati di Jember. Merawat ketiga anak disabilitas tersebut menjadi hal terpenting baginya yang harus dijalani.
Berbicara ekonomi, Rimawati tergolong cukup untuk memenuhi kebutuhan tiga anaknya yang difabel tersebut, karena dirinya juga pegawai ASN. Namun, tidak tahu lagi tahun depan bila dirinya telah pensiun dengan gaji yang berkurang jauh ketimbang saat bekerja.
Tentu saja dia tidak ingin buah hatinya mengalami keterbatasan. Tapi, garis takdir berkata lain. Baginya, takdir itu tidak boleh dihindari dan harus dijalani sepenuh hati dengan ketabahan.
Sebagai manusia biasa, Rimawati mengaku terkadang jenuh dengan kondisi di rumah bersama tiga anaknya tersebut. Kepada Tri Astini, Rimawati bercerita, kadang dirinya mengajak anak-anaknya ke sawah dan kawasan perdesaan. “Kalau bosan di rumah, ya, jalan-jalan ke desa,” ungkapnya.
Perempuan berkerudung tersebut terkadang juga mengajak Andre jalan-jalan ke minimarket dekat rumahnya. Namun, mengajak Andre ke tempat perbelanjaan juga penuh tantangan. Barang apa pun yang disukai bakal diambil oleh putranya tersebut. Jika sudah begitu, dia harus ekstra sabar mengembalikan barang itu dan meminta maaf kepada kasir. Hal yang paling membuat dirinya bahagia dengan memiliki tiga anak yang semuanya menyandang disabilitas itu adalah ketika melihat mereka mandiri. Dan inilah cita-cita yang terus dia kejar dengan merawat ketiga buah hatinya itu penuh dengan kasih sayang.
Kepala SLB Patrang Umi Salma mengatakan, kunjungan ke kediaman Rimawati ini adalah salah satu cara untuk mengedukasi masyarakat dengan memotret kehidupan anak disabilitas. “Mudah-mudahan membuka mata masyarakat dan lingkungan sekitar. Karena anak disabilitas bukan tanggung jawab orang tua saja, tapi juga masyarakat dan stakeholder,” pungkasnya.
Reporter : Dwi Siswanto
Fotografer : Dwi Siswanto
Editor : Mahrus Sholih Editor : Ivona