Ada tiga jenis batu peninggalan zaman purbakala. Yakni batu kenong, menhir, dan dolmen. Total ada 15 batu kenong, dan masing-masing satu batu menhir serta dolmen. Batu-batu Situs Kodedek pun unik, seperti terpusat pada satu titik area melingkar.
Menurut Heri Kusdaryanto, Kepala Seksi (Kasi) Sejarah dan Purbakala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bondowoso, Situs Kodedek sebenarnya memiliki rencana bakal dijadikan klaster pusat informasi. Klaster informasi dari Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso (PIMB) yang berada di Kecamatan Grujugan. Sebab, salah satu alasannya, Situs Kodedek adalah salah satu situs unik.
“Batu-batunya melingkar. Dan di tengah-tengahnya ada batu dolmennya. Tetapi, untuk saat ini belum bisa dijadikan klaster informasi karena akses jalan menuju ke sana masih belum baik. Dan itu nantinya bisa berpengaruh pada tingkat kunjungan,” jelas Heri kepada Jawa Pos Radar Ijen.
Sementara itu, area situs pun sudah dipasang pagar pembatas. Pemasangan pagar tersebut dikerjakan tahun 2020 lalu. “Pemasangan pagar itu bertujuan untuk keamanan. Karena di sana masih banyak hewan-hewan liar. Takutnya bisa merusak keutuhan bentuk batu yang ada,” lanjutnya.
Di Situs Kodedek sendiri terdapat dua orang juru pelihara (jupel) yang bertugas membersihkan dan merawat batu-batu peninggalan prasejarah tersebut. Ke depan, Situs Kodedek pun masih belum dapat dikembangkan lebih lanjut. Sebab, faktor pendukungnya juga masih belum ada.
“Kalau ada seperti desa wisata atau objek yang bisa menarik minat wisatawan ke sana, Situs Kodedek bisa menjadi jujukan alternatif di sana. Karena selama ini kalau cagar budaya saja belum bisa dikembangkan, harus ada objek lain untuk menarik wisatawan,” pungkasnya.
Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Safitri