alexametrics
31 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Pengusaha kerajinan Kuningan Coba Bangkit Lagi

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Toko kerajinan kuningan berjejer di jalan raya Desa Cindogo, Kecamatan Tapen. Deretan toko yang memajang segala macam ukiran berbahan kuningan itu berada di sepanjang pinggir jalan. Mereka menjual mulai dari paidon, kinangan, guci, asbak, aneka bentuk binatang, vas bunga, alat musik tradisional, hingga kerajinan kuningan berbentuk selongsong peluru.

Dulu, perajin kuningan di tempat ini jumlahnya cukup banyak. Namun, kali ini tidak sedikit mereka gulung tikar dan tinggal hitungan jari. Salah satu pengusaha kerajinan kuningan UD Riski, Kalina, mengatakan, dulu peminat kerajinan cukup banyak. Bahkan, dia sempat mengirim pesanan barang ke Italia pada 2003 silam.

Di Indonesia sendiri, pesanan barang juga menyebar ke Papua, Kalimantan, Jakarta, dan beberapa kota lainnya. “Sebelum bom Bali satu kami mengirim ke Italia. Kalau kenong itu ke Malaysia,” katanya saat ditemui di lokasi pembuatan kerajinan kuningan, kemarin (6/10).

Mobile_AP_Rectangle 2

Kini, kondisi tersebut berubah drastis, terutama sejak pandemi Covid-19 melanda. Perempuan yang akrab disapa Lina ini mengaku, omzetnya turun lebih dari 70 persen dari hari biasanya. Bahkan pernah dalam sebulan tidak satu pun barangnya terjual. “Bukan hanya sepi, tapi pernah tidak laku sama sekali dalam sebulan,” ungkapnya.

Selain karena pandemi Covid-19, situasi tersebut juga dipengaruhi oleh mahalnya bahan baku. Bahan baku yang didapat dari tukang rongsokan, lanjut Lina, saat ini sulit didapatkan. Tak jarang dia harus membeli ke Kabupaten Situbondo dengan jumlah banyak. “Kami menyimpan sedikit-sedikit. Kadang ada yang bawa ke sini nggak banyak. Kadang lima sampai sepuluh kilogram,” tambah perempuan asal Bali tersebut.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Toko kerajinan kuningan berjejer di jalan raya Desa Cindogo, Kecamatan Tapen. Deretan toko yang memajang segala macam ukiran berbahan kuningan itu berada di sepanjang pinggir jalan. Mereka menjual mulai dari paidon, kinangan, guci, asbak, aneka bentuk binatang, vas bunga, alat musik tradisional, hingga kerajinan kuningan berbentuk selongsong peluru.

Dulu, perajin kuningan di tempat ini jumlahnya cukup banyak. Namun, kali ini tidak sedikit mereka gulung tikar dan tinggal hitungan jari. Salah satu pengusaha kerajinan kuningan UD Riski, Kalina, mengatakan, dulu peminat kerajinan cukup banyak. Bahkan, dia sempat mengirim pesanan barang ke Italia pada 2003 silam.

Di Indonesia sendiri, pesanan barang juga menyebar ke Papua, Kalimantan, Jakarta, dan beberapa kota lainnya. “Sebelum bom Bali satu kami mengirim ke Italia. Kalau kenong itu ke Malaysia,” katanya saat ditemui di lokasi pembuatan kerajinan kuningan, kemarin (6/10).

Kini, kondisi tersebut berubah drastis, terutama sejak pandemi Covid-19 melanda. Perempuan yang akrab disapa Lina ini mengaku, omzetnya turun lebih dari 70 persen dari hari biasanya. Bahkan pernah dalam sebulan tidak satu pun barangnya terjual. “Bukan hanya sepi, tapi pernah tidak laku sama sekali dalam sebulan,” ungkapnya.

Selain karena pandemi Covid-19, situasi tersebut juga dipengaruhi oleh mahalnya bahan baku. Bahan baku yang didapat dari tukang rongsokan, lanjut Lina, saat ini sulit didapatkan. Tak jarang dia harus membeli ke Kabupaten Situbondo dengan jumlah banyak. “Kami menyimpan sedikit-sedikit. Kadang ada yang bawa ke sini nggak banyak. Kadang lima sampai sepuluh kilogram,” tambah perempuan asal Bali tersebut.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Toko kerajinan kuningan berjejer di jalan raya Desa Cindogo, Kecamatan Tapen. Deretan toko yang memajang segala macam ukiran berbahan kuningan itu berada di sepanjang pinggir jalan. Mereka menjual mulai dari paidon, kinangan, guci, asbak, aneka bentuk binatang, vas bunga, alat musik tradisional, hingga kerajinan kuningan berbentuk selongsong peluru.

Dulu, perajin kuningan di tempat ini jumlahnya cukup banyak. Namun, kali ini tidak sedikit mereka gulung tikar dan tinggal hitungan jari. Salah satu pengusaha kerajinan kuningan UD Riski, Kalina, mengatakan, dulu peminat kerajinan cukup banyak. Bahkan, dia sempat mengirim pesanan barang ke Italia pada 2003 silam.

Di Indonesia sendiri, pesanan barang juga menyebar ke Papua, Kalimantan, Jakarta, dan beberapa kota lainnya. “Sebelum bom Bali satu kami mengirim ke Italia. Kalau kenong itu ke Malaysia,” katanya saat ditemui di lokasi pembuatan kerajinan kuningan, kemarin (6/10).

Kini, kondisi tersebut berubah drastis, terutama sejak pandemi Covid-19 melanda. Perempuan yang akrab disapa Lina ini mengaku, omzetnya turun lebih dari 70 persen dari hari biasanya. Bahkan pernah dalam sebulan tidak satu pun barangnya terjual. “Bukan hanya sepi, tapi pernah tidak laku sama sekali dalam sebulan,” ungkapnya.

Selain karena pandemi Covid-19, situasi tersebut juga dipengaruhi oleh mahalnya bahan baku. Bahan baku yang didapat dari tukang rongsokan, lanjut Lina, saat ini sulit didapatkan. Tak jarang dia harus membeli ke Kabupaten Situbondo dengan jumlah banyak. “Kami menyimpan sedikit-sedikit. Kadang ada yang bawa ke sini nggak banyak. Kadang lima sampai sepuluh kilogram,” tambah perempuan asal Bali tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/