Sebelumnya, jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Bondowoso sudah meninjau kesiapan gedung tersebut. Mereka melihat langsung beberapa fasilitas di gedung yang kini bernama UPTD Pengembangan Tanaman Obat dan Pelayanan Kesehatan Tradisional (PTOPKT) ini.
Gedung ini akan dijadikan rumah sakit rujukan Covid-19 bagi para pasien yang sedang menjalani isolasi mandiri. Para pasien yang nantinya dirujuk di UPTD PTO adalah yang bergejala ringan ataupun pasien tanpa gejala, namun dinyatakan positif.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso dr Mohammad Imron menyampaikan, pihaknya sudah menyiapkan segala kebutuhan pasien di tempat itu. Mulai dari peralatan untuk perawatan hingga tenaga kesehatan yang bertugas. "Sudah kami siapkan semua," tegasnya.
Pemindahan masyarakat isoman itu, lanjut dia, akan dilakukan secara berkala. Artinya, penjemputan tidak dilakukan secara serentak, menyesuaikan dengan tim yang bertugas di lapangan.
Disebutkan, ada empat tenaga yang disiapkan di fasilitas isoter. Di antaranya tenaga kesehatan (nakes), tenaga teknik kefarmasian, serta tenaga keamanan dari unsur TNI, Polri, dan aatpol PP. Selain itu, pihaknya juga sudah menyiapkan tenaga nonkesehatan untuk bagian kebersihan. "Termasuk teman-teman yang bertanggung jawab terhadap limbah. Itu kami siapkan semua," ujar pria yang juga merupakan Juru Bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Bondowoso tersebut.
Pihaknya juga menjelaskan, para tenaga kesehatan yang ditugaskan di tempat itu adalah tenaga kesehatan dari berbagai puskesmas. Khususnya mereka yang sudah pernah bertugas pada 2020 lalu, ketika tempat tersebut dijadikan sebagai tempat ruang isolasi tambahan. "Pada waktu itu di bawah tanggung jawab dari Rumah Sakit Umum Bondowoso," katanya.
Para nakes tersebut, menurutnya, akan mendapat sistem sif dalam bertugas. "Ada tiga perawat pagi dengan satu dokter. Kemudian, sif siangnya tiga perawat dan satu dokter juga. Begitu juga dengan sif malamnya," paparnya.
Dikonfirmasi terkait pengelolaan limbah, dr Imron menjawab, nantinya limbah di tempat itu akan dikirimkan ke rumah sakit untuk dilakukan pemusnahan. "Benda padat B3 (bahan berbahaya dan beracun, Red) kami kumpulkan, kemudian ditampung. Terus, nanti akan dimusnahkan di rumah sakit umum," bebernya.
Sementara itu, untuk peralatan lain seperti bantal, seprai, selimut, sarung bantal, dan sebagainya, juga akan dicuci di tempat laundry rumah sakit. Hal tersebut dilakukan oleh tim yang sudah ditugaskan sebelumnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, terdapat 20 perawat, empat tenaga teknik kefarmasian, serta tiga cleaning service yang ditugaskan di tempat itu. Sementara, tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di UPTD PTO total sebanyak 30 tempat tidur. Dengan jumlah ruangan sebanyak 10 ruangan, masing-masing ruangan berisi dua hingga empat tempat tidur.
Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Ilham Wahyudi
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri