alexametrics
30.5 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Warga Isoman Tetap Didampingi

Pemkab Sinergi dengan Berbagai Pihak

Mobile_AP_Rectangle 1

PATRANG, RADARJEMBER.ID – Bupati Jember Hendy Siswanto melalui Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Jember sebelum ini telah menjalin kerja sama dengan Ikatan Keluarga Alumni Universitas Airlangga (IKA UA) untuk menanggulangi dampak Covid-19 di Kabupaten Jember. Tujuannya untuk melakukan pendampingan secara medis guna menekan angka kematian.

Seperti diketahui, tak sedikit warga yang meninggal akibat kurangnya pemahaman saat menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. Karena itu, Hendy memberikan pelayanan berupa pendampingan. Fokusnya kepada warga yang sudah lama menjalani isoman di rumah masing-masing. Sementara, untuk warga yang baru saja terpapar, langsung dirujuk ke isolasi terpusat atau rumah sakit, bergantung pada tingkat keluhan.

EDUKATIF: Dr Nyoman Semita SpOT saat memberikan pendampingan secara daring kepada sejumlah warga yang menjalani isoman, belum lama ini.

Hendy mengakui bahwa selama menjalani isoman, sungguh tidak enak di dalam rumah. Terutama yang tidak punya uang dan yang masih harus memikirkan keluarganya. “Kami bisanya memberikan bantuan sembako dan obat-obatan untuk sekadar meringankan. Pastinya beban masih ada,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun, kata dia, orang tidak hanya butuh sembako. Tentunya, masih banyak kebutuhan lain. Salah satunya dengan memberikan motivasi dan semangat serta edukasi kesehatan.

Lantas, bagaimana perkembangannya saat ini? Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Airlangga Kabupaten Jember dr I Nyoman Semita SpOT menjelaskan bahwa total warga isoman yang sudah mendapatkan pendampingan sebanyak 340 orang. Hal tersebut dilakukan secara offline dan online. Secara offline, pihaknya didampingi langsung oleh satgas kecamatan, desa, dan RT/RW.

Pada umumnya, lanjutnya, mereka panik karena terpapar Covid-19. Selain itu, banyak prasangka yang harus mereka hadapi. Di antaranya takut dengan keganasan Covid-19, bingung mau dirawat di mana, dan takut dibawa ke rumah sakit karena berpikir bahwa banyak pasien yang meninggal setelah menjalani perawatan di RS. “Rasa stres tidak bisa kerja dan sebagainya juga kerap timbul,” ungkap dokter spesialis ortopedi dan traumatologi tersebut.

- Advertisement -

PATRANG, RADARJEMBER.ID – Bupati Jember Hendy Siswanto melalui Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Jember sebelum ini telah menjalin kerja sama dengan Ikatan Keluarga Alumni Universitas Airlangga (IKA UA) untuk menanggulangi dampak Covid-19 di Kabupaten Jember. Tujuannya untuk melakukan pendampingan secara medis guna menekan angka kematian.

Seperti diketahui, tak sedikit warga yang meninggal akibat kurangnya pemahaman saat menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. Karena itu, Hendy memberikan pelayanan berupa pendampingan. Fokusnya kepada warga yang sudah lama menjalani isoman di rumah masing-masing. Sementara, untuk warga yang baru saja terpapar, langsung dirujuk ke isolasi terpusat atau rumah sakit, bergantung pada tingkat keluhan.

EDUKATIF: Dr Nyoman Semita SpOT saat memberikan pendampingan secara daring kepada sejumlah warga yang menjalani isoman, belum lama ini.

Hendy mengakui bahwa selama menjalani isoman, sungguh tidak enak di dalam rumah. Terutama yang tidak punya uang dan yang masih harus memikirkan keluarganya. “Kami bisanya memberikan bantuan sembako dan obat-obatan untuk sekadar meringankan. Pastinya beban masih ada,” ujarnya.

Namun, kata dia, orang tidak hanya butuh sembako. Tentunya, masih banyak kebutuhan lain. Salah satunya dengan memberikan motivasi dan semangat serta edukasi kesehatan.

Lantas, bagaimana perkembangannya saat ini? Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Airlangga Kabupaten Jember dr I Nyoman Semita SpOT menjelaskan bahwa total warga isoman yang sudah mendapatkan pendampingan sebanyak 340 orang. Hal tersebut dilakukan secara offline dan online. Secara offline, pihaknya didampingi langsung oleh satgas kecamatan, desa, dan RT/RW.

Pada umumnya, lanjutnya, mereka panik karena terpapar Covid-19. Selain itu, banyak prasangka yang harus mereka hadapi. Di antaranya takut dengan keganasan Covid-19, bingung mau dirawat di mana, dan takut dibawa ke rumah sakit karena berpikir bahwa banyak pasien yang meninggal setelah menjalani perawatan di RS. “Rasa stres tidak bisa kerja dan sebagainya juga kerap timbul,” ungkap dokter spesialis ortopedi dan traumatologi tersebut.

PATRANG, RADARJEMBER.ID – Bupati Jember Hendy Siswanto melalui Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Jember sebelum ini telah menjalin kerja sama dengan Ikatan Keluarga Alumni Universitas Airlangga (IKA UA) untuk menanggulangi dampak Covid-19 di Kabupaten Jember. Tujuannya untuk melakukan pendampingan secara medis guna menekan angka kematian.

Seperti diketahui, tak sedikit warga yang meninggal akibat kurangnya pemahaman saat menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. Karena itu, Hendy memberikan pelayanan berupa pendampingan. Fokusnya kepada warga yang sudah lama menjalani isoman di rumah masing-masing. Sementara, untuk warga yang baru saja terpapar, langsung dirujuk ke isolasi terpusat atau rumah sakit, bergantung pada tingkat keluhan.

EDUKATIF: Dr Nyoman Semita SpOT saat memberikan pendampingan secara daring kepada sejumlah warga yang menjalani isoman, belum lama ini.

Hendy mengakui bahwa selama menjalani isoman, sungguh tidak enak di dalam rumah. Terutama yang tidak punya uang dan yang masih harus memikirkan keluarganya. “Kami bisanya memberikan bantuan sembako dan obat-obatan untuk sekadar meringankan. Pastinya beban masih ada,” ujarnya.

Namun, kata dia, orang tidak hanya butuh sembako. Tentunya, masih banyak kebutuhan lain. Salah satunya dengan memberikan motivasi dan semangat serta edukasi kesehatan.

Lantas, bagaimana perkembangannya saat ini? Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Airlangga Kabupaten Jember dr I Nyoman Semita SpOT menjelaskan bahwa total warga isoman yang sudah mendapatkan pendampingan sebanyak 340 orang. Hal tersebut dilakukan secara offline dan online. Secara offline, pihaknya didampingi langsung oleh satgas kecamatan, desa, dan RT/RW.

Pada umumnya, lanjutnya, mereka panik karena terpapar Covid-19. Selain itu, banyak prasangka yang harus mereka hadapi. Di antaranya takut dengan keganasan Covid-19, bingung mau dirawat di mana, dan takut dibawa ke rumah sakit karena berpikir bahwa banyak pasien yang meninggal setelah menjalani perawatan di RS. “Rasa stres tidak bisa kerja dan sebagainya juga kerap timbul,” ungkap dokter spesialis ortopedi dan traumatologi tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/