Namun, ternyata hal tersebut tidak berpengaruh terhadap usaha pembuatan besek di Desa Banyuwulu, Kecamatan Wringin. Baik dari segi harga ataupun kuantitas barang yang diperjualbelikan. Hal itu diakui langsung oleh Asdin, 70, salah seorang pembuat besek di wilayah tersebut.
Menurut dia, selama masa pandemi, pihaknya tetap rutin membuat besek untuk dijual kepada tengkulak. Biasanya, sebelum atau saat pandemi, para tengkulak langsung mendatangi rumah-rumah warga di sekitarnya yang membuat besek. "Biasanya lima hari sekali dijemput ke sini. Ya, yang dijual seadanya. Kalau ada satu renteng, ya, itu yang dijual," ujarnya.
Disebutkan, setiap renteng berisi 21 hingga 22 besek. Biasanya dijual dengan harga Rp 10 ribu untuk saat ini. Harga itu, kata dia, tergolong cukup murah, karena saat ini harga ikan justru sedang mahal. Biasanya, jika ikan sedang murah, maka harga jual besek bisa belasan ribu rupiah.
Harga jual dari barang ini memang berbanding terbalik dengan harga ikan di pasaran. "Kalau ikan banyak, ya, mahal," ungkap Asdin sembari menunjukan besek yang sudah siap jual.
Hingga saat ini, Asdin mengaku belum berani menjual sendiri besek buatannya langsung ke pasar. Alasan utamanya, dia belum mengetahui secara pasti di mana harus menjual. "Kalau dijual sendiri mau dijual ke mana. Sudah ada juragannya (tengkulak, Red) kok," paparnya.
Dalam pembuatannya, Asdin biasanya dibantu Suniti, istrinya. Meski demikian, mereka memang tidak memasang target jumlah besek yang dibuatnya setiap hari. Terlebih, untuk membuat besek tersebut, pihaknya masih menggunakan alat-alat tradisional dan apa adanya.
Belum lagi ketika musim hujan tiba. Bambu-bambu yang menjadi bahan dasar pembuatan besek akan lebih lama mengering. Padahal, sebelum dibentuk, bambu itu harus benar-benar kering.
Pasangan suami istri ini mengakalinya dengan memotong bambu-bambu yang sudah ditebang sesuai dengan ukuran yang ditentukan. Kemudian, ditunggu hingga kering sebelum mulai dibuat besek. "Kalau sudah kering, membuatnya lebih mudah," tegasnya.
Dalam sehari semalam, pasangan ini bisa membuat hingga satu renteng besek. Jadi, dalam sekali jemput paling sedikit mereka menjual tiga renteng besek kepada pengepul di tempat itu. "Kalau rajin, bisa lima sampai enam renteng sekali jual," cetusnya.
Asdin juga mengatakan, di desanya memang banyak yang membuat besek seperti dirinya. Bahkan, jumlahnya sudah puluhan orang. Tapi, kebanyakan di antara mereka masih menggunakan alat-alat tradisional, sehingga untuk barang hasil buatannya masih terbatas. Terlebih, belum ada bantuan dari pemerintah yang dikhususkan pada mereka.
Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Ilham Wahyudi
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri