Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pendidikan Sepakbola Grassroot Kian Merata, Guru Olahraga Didorong Lisensi D PSSI

Yulio Faruq Akhmadi • Selasa, 25 November 2025 | 15:21 WIB
PENINGKATAN KAPASITAS: Sebanyak 30 guru olahraga dari jenjang SD hingga SMA antusias mengikuti sertifikasi Lisensi D PSSI di Stadion JSG, Kemarin (19/20) (Foto: Yulio FA)
PENINGKATAN KAPASITAS: Sebanyak 30 guru olahraga dari jenjang SD hingga SMA antusias mengikuti sertifikasi Lisensi D PSSI di Stadion JSG, Kemarin (19/20) (Foto: Yulio FA)

Radar Jember – Askab PSSI Jember menggelar sertifikasi kepelatihan dasar Lisensi D bagi guru SD hingga SMA di Stadion Jember Sport Garden (JSG) Sejak jumat lalu hingga kemarin (14-19/11).

Langkah ini untuk memperkuat pembinaan usia dini sekaligus mendukung upaya PSSI menjaring bibit berbakat dari berbagai sekolah.

Apalagi setiap tahun Jember rutin menggelar Liga Pelajar, yang menjadi salah satu kompetisi usia dini paling dinantikan para siswa.

Wakil Ketua Askab PSSI Jember Andik Slamet mengatakan, sertifikasi tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Di tingkat nasional, biaya lisensi D mencapai Rp3 juta hingga Rp4 juta, namun PSSI Jember memberikan subsidi sehingga peserta cukup membayar Rp2 juta.

“Ini investasi jangka panjang. Harapannya ada pendanaan dari pemerintah agar semua guru olahraga di Jember bisa mengikuti pelatihan dan meningkatkan kapasitas. Dan jangan berhenti di lisensi D, ke depan harus naik ke C,” ujarnya.

Instruktur kursus Lisensi D, Danur Dara, menjelaskan, lisensi ini merupakan fondasi utama kepelatihan sepak bola. Dikatakan, peserta dibekali cara melatih sesuai karakteristik usia pemain.

Untuk usia 6–9 tahun, fase yang disebut fun phase, metode yang digunakan adalah MBM (Main–Belajar–Main), dengan fokus membangun kegembiraan, ball feeling, dan kedekatan anak dengan bola.

“Untuk usia dini semuanya beda, ini dasar tapi penting. Misalnya dalam pertandingan untuk usia dini itu cukup 4 vs 4 saja, jangan dipaksa 11 vs 11 nanti sulit berkembang,” tuturnya.

Memasuki usia 10–13 tahun, pembinaan bergeser ke fase pengembangan skill dengan format 7 vs 7. Pelatih baru diperbolehkan mengenalkan prinsip dasar bermain, misalnya bentuk menyerang dan bertahan.

Danur mencontohkan, dalam permainan 4 vs 4 anak hanya perlu mengenal prinsip ketupat besar saat menyerang dan ketupat kecil ketika kehilangan bola. Sementara pada 7 vs 7 dikenalkan formasi sederhana seperti 1–3–3, yang berubah menjadi 1–2–1–2–1 saat menyerang.

“Strateginya harus sederhana. Anak-anak belum bisa menerima taktik rumit,” katanya.

Ia menegaskan, pelatih hari ini tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman bermain. Penguasaan teori dan metodologi harus berjalan seimbang agar latihan usia dini tidak salah arah.

Karena itu, lisensi D ikut membekali peserta dengan pendekatan mengajar modern yang menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran, menciptakan lingkungan latihan yang menyenangkan, membuat semua pemain terlibat aktif, serta mendorong pelatih terus memperbarui pengetahuan dan kemampuan.

“Intinya dua, metode mengajar yang benar dan keseimbangan teori praktik. Itu fondasi pembinaan usia dini,” tegasnya.(yul)

Editor : M. Ainul Budi
#Jember #Guru #sepakbola #pelatih #Lisensi D #Sekolah #grassroot #PSSI #guru olahraga